
"Kenapa aku harus merasakan ini Ma, kenapa Anton berkhianat dengan istri ku sendiri!" Tanya Riki.
Sela memeluk anaknya, berusaha untuk memberikan sedikit ketenangan.
Sela tahu seperti apa Riki yang sangat mencintai Indah, bahkan rela melakukan apapun demi kebahagiaan istrinya tersebut.
Namun siapa sangka jika ketulusan tak selamanya di balas dengan ketulusan, malahan Riki harus merasakan betapa pahitnya mencintai tetapi di khianati.
Sungguh luka tanpa darah jauh lebih menyakiti dari pada luka yang tampak dan berdarah. Semua kenangan indah hancur begitu saja, cinta yang terbina kini hilang tanpa sisa.
Di saat Riki memimpikan masa tuanya dengan Indah bahagia bersama, tetapi tidak dengan sebaliknya. Bahkan anak yang di kandung Indah pun bukanlah anaknya, padahal selama ini sudah bermimpi akan menjadi seorang Ayah dari wanita yang dicintainya tersebut. Bahkan menceritakan pada teman-temannya, tentang dirinya yang akan menjadi seorang Ayah dengan bangganya.
"Kamu masih belum bisa melupakannya?" Sela pun menepuk pundak anaknya.
Mengerti akan Riki yang sedang dalam kegundahan.
Riki pun tersenyum dan menatap wajah Sela, tak ada wanita yang di percayainya dan juga di cintainya selain Sela seorang saja. Sebab Indah sudah mengenalkan apa itu luka.
"Mama mau lihat aku bahagia?"
"Tentu," jawab Sela dengan senyuman tulus seorang Ibu terhadap anaknya. Ibu mana yang tak ingin kebahagiaan anaknya, begitu juga dengan Sela.
"Inilah kebahagiaan aku, tidak terikat pada satu wanita," jelas Riki.
Sela seketika kehilangan senyumannya, awalnya mengira jika Riki sudah kembali bangkit dari lukanya.
Namun tidak.
Nyatanya masih saja larut dan entah sampai kapan ini akan terus berlangsung.
"Riki..."
"Ma, aku sudah bahagia dengan pilihan ku. Mama tidak usah memikirkan aku terus menerus, fokus saja pada pengobatan Mama." Riki pun keluar dari kamar Sela saat Andika memasuki kamar.
Sela menatap punggung putranya dengan nanar, hingga sesaat setelahnya menitihkan air mata.
"Anak kita masih sangat terluka, Pa. Padahal kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya," kata Sela pada suaminya.
Andika pun memeluk istrinya, bukan hanya Sela yang terluka melihat keadaan anaknya. Melainkan Andika juga sangat terluka.
"Biarkan saja Ma, mungkin nanti akan ada jalan untuk dia bahagia lagi. Bukan berpura-pura bahagia seperti saat di depan orang diluar sana.!!
#########
Bahagia?
Itulah yang di katakan oleh Riki pada Mamanya, kebahagiaan yang seperti apa yang di maksud olehnya sama sekali tidak di mengerti oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Riki pun ingin bahagia itu sudah pasti, tetapi sudah terlanjur trauma pada cinta.
Dirinya yang mengangkat derajat seorang wanita yang selama ini hanya menjadi orang pencopet di jalanan.
Dijadikan sebagai ratu di istana cintanya, membelikan banyak pakaian bagus dan barang berharga, malah dikhianati dengan begitu kejamnya.
Mulai saat itu Riki tak lagi ingin menjalin hubungan serius dengan satu wanita mana pun, lebih memilih wanita hanya sebagai pelampiasan hasrat liarnya saja.
Di sini, di sebuah club malam Riki seperti biasanya akan mencari hiburan, banyak wanita-wanita cantik yang menjajakkan tubuh mereka.
Riki bebas memilih yang mana saja seperti yang diinginkannya selama ini, hingga akhirnya menemukan satu wanita yang mungkin bisa memuaskan dirinya untuk malam ini.
Riki pun membawanya ke sebuah kamar VIP, di sanalah Riki mulai melepaskan segalanya.
Mengenang wajah Indah saat bercinta dengan Anton.
"Ayo sayang, dia tak bisa memuaskan aku" rancauan Indah saat itu terus saja terngiang-ngiang di kepala Riki.
Membuatnya menjadi kasar pada wanita yang kini sedang berada di bawah kungkungannya.
"Jangan menyentuh ku wanita murahan, apa kau lupa pada peraturan awal. Hanya aku yang boleh menyentuh mu!" Kata Riki dengan kejam.
"Maaf, Tuan," wanita tersebut meneguk saliva, ketakutan saat melihat kemarahan Riki.
Saat itu juga Riki tak lagi menginginkan wanita tersebut.
Dengan terburu-buru memakai pakaian kemudian pergi dengan langkah kaki yang terbirit-birit karena ketakutan.
Sungguh Riki seakan menjelma menjadi seekor macan yang kelaparan, kemudian siap memangsa siapa saja yang dilihatnya.
Sesaat kemudian Riki pun meminta untuk di sediakan seorang wanita lainnya.
Lagi-lagi sejak awal Riki mengingatkan bahwa dirinya yang memimpin permainan, tak boleh disentuh.
Namun, lagi-lagi wanita itu mencoba untuk memegang dadanya yang begitu kekar, membuat siapapun ingin menyentuhnya.
"Tolol!" Riki pun melempar wanita tersebut, kemudian mengganti dengan wanita lainnya lagi.
Namun, kali ini bukan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama, melainkan kesalahan lainnya.
Karena justru bukan dirinya yang dipuaskan, malah wanita ****** itu yang mendesah membuatnya merasa jijik.
Dengan kasar Riki pun melempar wanita tersebut, hingga keluar dari kamar itu.
"Wanita tetaplah wanita murahan, tidak ada yang benar!" Umpat Riki.
"Mereka hanya butuh uang dan kepuasaan."
__ADS_1
Hingga ponselnya pun berdering, tertulis nama Felix di sana.
Riki pun menarik napas dengan panjang, kemudian meneguk mineral yang tersedia di meja.
Sesaat kemudian menjawab panggilan dari sahabatnya tersebut.
"Ada apa? Apa kau merindukan aku?" Tanya Riki dengan bahagia, seakan dirinya baik-baik saja.
"Kau masih hidup?" Tanya Felix dari sebrang sana, berbasa-basi setelah mendengar suara sahabatnya.
"Kau ingin aku mati?" Tanya Riki sambil terus meletakan ponselnya pada daun telinga.
"Tidak, aku dan istri ku mengajak mu makan di restoran tempat biasa. Sebagai ucapan terima kasih, karena kau sangat berjasa dalam menyatukan kami berdua," kata Felix yang menjelaskan tujuannya menghubungi Riki.
"Wah, tawaran yang sangat bagus. Sebentar, aku sedang bersama wanita ku. Tapi aku akan segera bersiap setelah ini, sampai jumpa di tempat biasa," sesaat kemudian Riki pun mutuskan panggilan telpon, meskipun Felix kesal padanya karena tanpa ijin sudah menutup panggilan tersebut.
Riki pun menyegarkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu barulah dirinya memenuhi undangan Felix di salah satu restoran.
Seperti biasanya, memasang wajah bahagia dan juga memasang senyuman yang begitu mempesona.
Menggoda banyak wanita sekalipun hanya seorang pelayan saja, yang membuat Felix melihatnya dengan rasa kesal.
Tapi itulah cara Riki demi menemukan seorang sahabat yang setia, bertingkah bodoh seakan dirinya baik-baik saja.
Sebab Felix terbilang cukup baru untuk di kenalnya, saat itu mereka sama-sama kuliah di luar Negeri, saat Riki bercerai dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya kembali.
Hingga kini persahabatan mereka masih terjalin cukup baik, bahkan Riki tak mau lagi berteman dengan orang biasa.
Sebab hanya bisa memanfaatkannya saja, Riki kini lebih memilih teman yang sesuai dengan dirinya yang terlahir dari keluarga berada.
Cukup sudah apa yang terjadi, tidak lagi ingin mengulangi segalanya.
"Sepertinya bau shampo?" Seloroh Riki saat duduk satu meja dengan Felix dan juga Cahaya.
"Tentu," jawab Felix dengan senyuman manis menggoda Cahaya.
"Kalau begitu aku mau pesan banyak makanan, karena kalian yang akan membayar," kata Riki sambil tangannya memanggil seorang pelayan.
"Tentu, bebas. Aku yang membayar," kata Felix, karena bagaimana pun Riki adalah orang yang paling banyak membantunya untuk mendapatkan Cahaya.
############
Mampir ke novel baru ku yah..
"Pria Pilihan Kakek"
mksh sebelumnya😊🙏
__ADS_1