
Cahaya dan Felix hanya diam.
Hening tanpa ada yang berbicara, sesekali Felix melihat Cahaya.
Ingin memulai pembicaraan tetapi tidak memiliki keberanian.
Tetapi semua tidak akan selesai jika hanya diam, akhirnya Felix pun mencoba duduk di samping Cahaya.
Kemudian diam dan kebingungan ingin memulainya dari mana.
"Aku nggak mau nikah sama kamu!" Kata Cahaya dengan suara lantangnya.
Felix hanya diam dan membiarkan apa yang ingin di katakan oleh Cahaya.
Felix sadar dirinya adalah seorang pria kurang ajar dan sangat bersalah hanya saja semua itu terjadi begitu saja. Karena perasaan cemburu yang tak dapat membuat kepalanya berpikir jernih.
Lagi pula jika pun mengatakan tidak di bibir Cahaya, tidak akan berpengaruh apa-apa. Sebab, Jessica sendiri yang sudah memutuskan mereka harus menikah.
Felix sangat tahu seperti apa Cahaya, pasti akan menuruti apapun yang di katakan oleh Mommy nya itu.
"Kamu dengar aku nggak?"
Cahaya kesal saat melihat Felix hanya diam saja seakan tidak mendengar. Padahal sudah jelas mengatakan menolak untuk menikah. Felix pun mencoba untuk memegang lengan Cahaya, tetapi di tepis dengan cepat.
"Kamu yakin nggak mau nikah sama aku? Tanya Felix.
Akhirnya setelah diam saja kini pria yang sudah babak belur itu bicara juga.
"Iya!" Jawab Cahaya dengan ketus
Felix pun mengangguk sambil memikirkan ide agar Cahaya tidak terus menolak.
"Kalau kamu hamil gimana?"
Cahaya pun tersenyum miring mengejek Felix.
"Kamu pikir aku ini bodoh?" Tanya Cahaya, mungkin saja Felix lupa siapa Cahaya.
Felix meneguk saliva, tampaknya salah dalam mengatur strategi.
Hampir saja lupa jika Cahaya adalah seorang Dokter. Baiklah, Felix pun mencoba ide lainnya.
"Aku bikinin kamu klinik," tawar Felix.
Cahaya tidak tertarik sama sekali, dirinya bisa meminta Alex atau pun pada Jessica jika menginginkan semua itu.
"Rumah sakit?" Tawar Felix lagi saat melihat wajah Cahaya yang tampak tidak tertarik sama sekali dengan penawaran yang di berikannya.
__ADS_1
Cahaya pun menggeleng, saat ini dirinya hanya ingin sendiri tanpa Felix.
"Baiklah, tidak masalah." Felix pun bangkit dari duduknya.
"Jika kamu tidak mau tidak masalah, aku juga tidak rugi," akhirnya Felix pun memutuskan untuk tidak lagi memaksa Cahaya.
Cahaya pun ikut bangkit, kemudian menatap Felix dengan tatapan tajam.
"Kamu memang kurang ajar!"
Felix pun melihat arah lainnya, mengangkat bahunya seakan tidak perduli sama sekali.
"Lihat saja sikap mu? Bagaimana bisa aku menikah dengan orang tidak waras!" Seru Cahaya penuh kemarahan.
"Terserah pada mu, kalau kamu menolak yang rugi juga diri mu sendiri," jelas Felix dengan tenang.
"Dasar tidak waras!" Umpat Cahaya penuh kekesalan, sampai di sini Cahaya semakin yakin akan keputusannya yang menolak menikah dengan Felix.
Felix tersenyum mendengar umpatan Cahaya, sejenak kemudian Cahaya pun mendudukkan tubuhnya. Pikirannya tampak kacau, seiring dengan tubuh yang tidak kalah kacau.
Bahkan terlihat jelas ada banyak bekas keunguan di tengkuk Cahaya, namun di mata Felix terlihat semakin seksi.
Andai saja bisa di tambah lagi, maka dengan senang hati Felix akan mencetaknya sebanyak mungkin.
Hingga akhirnya Felix pun duduk kembali, bersebelahan dengan Cahaya.
Otaknya mendadak menjadi tidak karuan, karena tanda merah keunguan. Hasil dari gigitan cinta.
"Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu pada Tante Jessica. Maka, kamu tidak boleh menyesal," Felix pun tersenyum samar, untuk kali ini mungkin saja bisa membuat keputusan Cahaya berubah.
Benar saja, seketika itu Cahaya melirik Felix dengan wajah bingung.
"Kamu sudah lihat barusan Tante Jessica menegaskan untuk menikahkan kita? Jika, itu sudah menjadi keputusannya. Maka, apa yang akan terjadi jika kamu menolak?" Kali ini Felix tersenyum penuh kemenangan.
Melihat wajah Cahaya yang semakin di landa kegalauan.
"Baru melihat kita barusan saja dia hampir jatuh pingsan, tekanan darahnya seketika tidak stabil. Bagaimana jika..."
"Cukup!" Cahaya pun menimpali ucapan Felix dengan cepat.
Felix tersenyum puas, dalam hati yakin jika Cahaya akan menyetujui rencana pernikahan mereka.
"Iya, kita menikah! Nggak usah cerita yang buruk tentang Mom aku!" Lanjut Cahaya.
Akhirnya.
Felix merasa dunia ini seakan begitu indah, usahanya tidak sia-sia dan lelahnya kini terbayar sudah. Menikahi Cahaya adalah suatu keinginan sejak lama yang akhirnya akan segera terwujud.
__ADS_1
"Ada syaratnya!" Kata Cahaya lagi dengan menatap wajah Felix.
"Apa?" Tidak ada yang tidak mungkin, apapun syarat yang diajukan oleh Cahaya bukan masalah untuk Felix.
Cahaya diam sejenak, kemudian memikirkan syarat yang harus dilakukan Felix untuk bisa menikahinya.
Sedangkan Felix tampak santai menunggu apa yang dikatakan oleh Cahaya.
"Aku mau kamu beli cincin nikah kita pakai uang hasil keringat kamu sendiri," papar Cahaya.
Felix pun mengangguk dengan cepat, hanya sebuah cincin tidak akan sulit baginya.
"Tidak kah kamu meminta aku buatkan rumah sakit saja," tawar Felix dengan sombongnya.
Apa yang tidak jika untuk Cahaya?
Hidupnya hanya ada Cahaya dan begitu selamanya. Jadi apapun jika di inginkan maka akan terkabul tanpa ada pertimbangan.
Namun, benarkah demikian setelah mendengar kata selanjutnya yang di ucapkan oleh Cahaya.
"Ingat, aku bilang kamu harus beli cincin pakai keringat mu sendiri!" Cahaya kembali mengulangi kalimatnya.
"Iya," Felix mencoba untuk memegang lengan Cahaya untuk kedua kalinya.
Tetapi masih saja di tepis seperti awal.
"Kamu serius nggak sih? Kamu serius sayang sama aku nggak?" Tanya Cahaya penuh emosi, sebab Felix terlihat begitu santai.
"Memangnya aku tidak serius?" Felix kembali bertanya, agar Cahaya tidak lagi marah padanya.
"Coba ulangi apa yang aku katakan barusan!"
"Aku harus beli cincin pernikahan kita dengan hasil keringat aku sendiri," Felix pun mengulangi kalimat yang di ucapkan oleh Cahaya.
"Benar!"
"Nah, apa lagi. Aku sudah setuju?"
"Hasil keringat mu sendiri, bukan hasil perusahaan Om Devan. Bukan dari uang perusahaan, aku mau kamu kerja dari hasil mu sendiri, bukan meneruskan bisnis Om Devan!" Kata Cahaya dengan jelas.
"Maksudnya?" Kini Felix tampak tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Cahaya.
"Aku mau kamu kerja layaknya orang biasa, tanpa jabatan, tanpa ada nama belakang Bima Putra. Kamu jadi orang biasa, kerja apa aja, layaknya hidup pas-pasan!" Terang Cahaya dengan panjang lebar.
"Maksud kamu, aku kerja banting tulang gitu?"
"Iya, jadi kuli panggul, jadi tukang sapu atau jadi kuli bangunan. Apa aja, asal nggak ada sangkut-pautnya dengan keluarga dan jabatan tinggi kamu!" Tegas Cahaya.
__ADS_1
"Kamu ini ada-ada saja, mana mungkin Felix Bima Putra jadi kuli pangkul, kuli bangunan dan lainnya. Tidak usah mengarang!"
Cahaya merasa Felix tidak serius dengannya, cinta yang diucapkan oleh Felix tidak benar adanya. Membuatnya tidak ingin melanjutkan hubungan jika memang tidak bisa menuruti keinginannya.