
Riki terus saja melangkah karena bocah itu selalu saja membuatnya emosi. Hingga akhirnya tubuh Vanya pun membentur dinding.
"Om, maaf. Aku nggak sengaja," Vanya pun berusaha untuk tenang, ingin berlari tetapi saat tangan Riki jauh lebih cepat bergerak hingga akhirnya mencengkram rahang Vanya dan menyadarkan pada dinding kembali.
"Om, ampun," Vanya semakin ketakutan, matanya pun berkaca-kaca seakan menyiratkan bahwa dirinya benar-benar sedang ketakutan.
Melihat mata Vanya membuat Riki merasa tak bisa berbuat kasar pada wanita yang selalu saja membuatnya jengkel tersebut. Tatapan Vanya seakan seperti seekor kelinci yang sangat menggemaskan. Hingga akhirnya Riki pun melepaskan cengkraman tangannya.
Uhuk-uhuk....
Vanya terbatuk-batuk setelah Riki melepaskannya.
"Om, tadi aku pikir Om melecehkan murid itu. Maaf ya, Om."
Riki pun memilih untuk pergi, dari pada merasa luluh akan tatapan mata seorang bocah menjengkelkan tersebut. Begitu pun juga dengan Vanya yang mengikuti dari belakang. Langkah kakinya yang kecil membuatnya sedikit berlari agar dapat menyusul Riki.
"Dasar aneh, mana aku tahu dia bisa menolong anak kecil. Lagi pula dia kan 'Dulak' alias duda lapuk," gerutu Vanya sambil terus berjalan.
Seketika itu Riki pun menghentikan langkah kakinya, mendengar apa yang di katakan oleh Vanya. Namun, Vanya yang tidak menyadarinya malah membentur belakang Riki.
Bruk!
Hingga akhirnya Vanya pun terjatuh.
"Aduh, Om kalau berhenti melangkah bilang-bilang dong jangan berhenti mendadak!" Dengan segera Vanya pun bangkit kembali sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor.
"Barusan kamu mengatakan apa?" Riki masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Vanya.
Vanya memilih untuk bangkit, kemudian menepuk tangannya dari banyaknya debu yang menempel.
"Cepat katakan!"
"Ish! Kasar banget!"
__ADS_1
Riki pun memilih kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mobil dari pada berdebat dengan Vanya yang tidak akan pernah ada penyelesaiannya
"Riki, Vanya mana?" Tanya Sela saat melihat hanya Riki yang masuk ke dalam mobil
"Sudahlah Ma, tinggal kan saja dia," Riki pun segera menyalakan mesin mobilnya dan bersiap-siap untuk melajukan mobilnya bermaksud meninggalkan Vanya.
"Riki, dia itu anak Mama!" Sela tak suka pada Riki yang malah ingin meninggalkan Vanya.
"Anak Mama?" Riki di buat bingung karena pernyataan Sela.
"Ya, mulai hari ini dia jadi adik kamu. Atau........." Sela pun menggantungkan ucapannya sambil melihat Riki yang juga menatapnya dari kaca spion.
Hingga akhirnya Vanya pun ikut masuk ke dalam mobil.
"Vanya, kamu duduk di depan," pinta Sela.
Mendengar yang di katakan oleh Sela membuat Vanya menjadi kesal, duduk di samping Riki adalah sebuah keputusan terburuk.
"Ayo, aku ingin istirahat."
"Vanya, kamu tidak punya pacar kan? Sama, Riki juga, kenapa kalian tidak pacaran saja?" Kata Sela sambil tersenyum-senyum membayangkan sesuatu.
Ciit!
Riki pun mendadak mengerem mobilnya kemudian menatap Vanya. Namun berbeda dengan Vanya yang malah terhuyung beruntung kepalanya tidak membentur dashboard.
"Om!" Seru Vanya penuh kekesalan
Riki pun lebih memilih melanjutkan perjalanan kembali, tanpa perduli pada apa yang dipikirkan oleh Sela.
"Kalau kata Nenek kamu dulu kalau benci jangan terlalu, karena antara benci dan cinta hanya beda tipis. Nanti, sehari nggak ketemu kangen," ujar Sela.
"Dengerin tu, Om. Secara aku kan cantik, manis, imut-imut," kata Vanya membanggakan dirinya.
__ADS_1
"Diam!" Sergah Riki.
Membuat Vanya meneguk saliva dan memilih untuk diam.
Sedangkan Sela hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang yang tidak pernah bisa akur tersebut
Hingga akhirnya sampai di rumah benar-benar tanpa bicara, tetapi Sela meminta Vanya untuk pergi berbelanja bersama dengan Riki. Membeli keperluan yang sudah habis.
"Ma, kenapa harus aku dan Vanya?" Tanya Riki menolak dengan halus.
"Karena, Vanya adalah perempuan. Kalau kamu kan laki-laki mana ngerti apa yang Mama maksud!" Kata Sela tak ingin Riki menolak perintahnya.
"Ada pembantu Ma atau supir yang mengantarkan wanita gemblong ini!" Riki menatap Vanya dengan kesal, wanita aneh yang membuatnya emosi.
Hingga akhirnya tangan Riki mengetuk kepala Vanya. Kesal, karena saat di sekolah dirinya terkena hantaman kayu bahkan dituduh melecehkan seorang murid.
Sedangkan Vanya tidak akan bisa menerima apa yang dikatakan oleh Riki, hingga dia pun berjinjit dan ingin mengetuk kepala Riki juga sebagai ajang balas dendam.
Namun sayang, karena semua itu sia-sia. Sebab tangan Riki memegang kepala Vanya, hingga dia tak bisa menggapai kepala Riki.
"Seharusnya, kamu bukan menjadi guru di taman kanak kanak, Melainkan, jadi murid taman kanak-kanak!" Ejek Riki.
"Ish!" Vanya pun menghentakkan kakinya kesal pada Riki yang selalu menganggapnya sebagai wanita kecil.
"Dasar bocah" Riki pun mengetuk kepala Vanya, sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.
Vanya pun segera menyusul Riki, tetapi sesaat kemudian kembali berlari ke tempat sebelumnya. Karena lupa berpamitan pada Sela.
"Tante, aku pergi sekarang ya."
"Iya, hati-hati."
Setelah itu barulah Vanya benar-benar masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Sedangkan Sela benar-benar merasa gemas dengan kelakuan Vanya yang lucu, menurutnya kelakuan konyol Vanya tentunya dapat membuat suasana menjadi lebih berwarna. Apa lagi jika dipasangkan dengan Riki yang kini masih menutup hatinya pada wanita.
"Semoga saja mereka berjodoh, aku yakin Riki akan sangat bahagia jika mereka menikah. Bayangkan saja hari-hari di rumah ini tidak akan sunyi lagi," senyum di bibir Sela tidak pernah luntur membayangkan kebahagiaan yang begitu luar biasa jika impiannya menjadikan Vanya menantunya tercapai.