Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Gebetan baru!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Riki langsung bangun, membereskan semua pekerjaan secepat mungkin. Hingga, pada siang harinya sudah kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah Riki langsung menuju kamarnya, tanpa sengaja malah melihat Vanya dari jendela kamar.


Vanya sedang berada di kolam renang, menggunakan pakaian renang cukup tertutup.


Berbagai macam gaya dilakukannya, mulai dari pemanasan sampai seakan-akan meloncat ke dalam kolam renang.


Namun pada akhirnya tetap saja bocah itu menuruni anak tangga dan mencoba untuk berenang dengan menggunakan pelampung berwarna pink.


Bibir Riki tertarik pada masing-masing sudutnya.


"Dasar bocah aneh."


Entahlah.


Riki masih tak mengerti dengan perasaannya saat ini.


Mungkinkah ini cinta atau hanya sebatas keinginan untuk menikmati sejenak saja.


Namun tiba-tiba Riki melihat keanehan, pelampung yang digunakan oleh Vanya mendadak terlepas sepertinya wanita itu sedang kesulitan untuk bergerak di dalam air sana.


"Apa itu juga gaya terbarunya?" Riki pun bertanya-tanya dalam kebingungannya, tetapi semakin lama pergerakan Vanya semakin melambat.


Seakan wania itu kesulitan untuk bernapas di dalam kolam.


Membuat Riki pun bergegas untuk menolongnya, menuruni anak tangga dengan secepat mungkin.


Bahkan meloncati apa pun untuk bisa menolong Vanya, tanpa kata terlambat.


Dengan cepat pula Riki meloncat ke dalam kolam renang, menarik Vanya ke daratan.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Vanya pun terbatuk-batuk setelah berada di luar kolam, mungkin karena terlalu banyak minum air.


"Makasih ya Om," kali ini Vanya tak menyebutkan bahwa Riki mirip dengan malaikat maut karena saat lalu juga Riki menolongnya jadi Vanya sadar itu benar-benar Riki.


"Banyak gaya, berenang tidak bisa!" Kesal Riki.


Tapi percayalah saat ini dirinya begitu khawatir akan keadaan Vanya.


"Kaki aku keram Om, padahal udah pemanasan dulu," Vanya pun menunjuk kakinya yang masih sulit untuk digerakkan.


"Ya sudah," Riki pun mengambilkan handuk untuk Vanya.


Sejenak Riki memperhatikan penampilan Vanya, tidak ada yang menonjol dari tubuh wanita tersebut.


Tetapi mengapa dirinya tak bisa jauh?


Riki masih harus menguji perasaannya, meyakinkan dirinya.


Benar atau tidak jika perasaan yang di rasakannya adalah perasaan cinta.


"Nah, kaki aku udah bisa digerakkan," Vanya pun tersenyum kemudian mencoba untuk berdiri.


Riki pun ikut berdiri, tetapi Vanya memegangnya dengan erat karena takut terjatuh.


Sampai di sini Riki semakin merasa menegang, dengan degup jantung yang berdetak kian semakin kencang.


"Riki? Kamu sudah pulang?" Sela pun terkejut melihat kepulangan putranya, bahkan tanpa sepengetahuannya sama sekali.

__ADS_1


"Iya Ma, dan wanita ceroboh ini hampir kehilangan nyawanya di rumah ini!" Riki pun mengetuk kepala Vanya.


Meskipun terlihat kesal, tapi percayalah jika hatinya jauh lebih tenang saat berdekatan dengan Vanya.


"Om, sakit tau?" Gerutu Vanya sambil menggosok kepalanya.


Vanya pun bingung mengapa Riki sangat suka mengetuk kepalanya, karena memang lebih tidak mungkin juga Riki membelainya dengan lembut.


Karena memang sebenarnya Riki mendadak ingin membelai lembut rambut hitam pekat Vanya, hanya saja tidak mungkin.


"Begitu?" Tanya Sela.


"Mama, nggak pakai kursi roda?" Riki menyadari bahwa Sela kini berjalan dengan kakinya, tidak seperti biasanya.


"Tidak, Mama takut nanti kakinya jadi kaku dan sulit untuk berjalan. Jadi, Mama mau jalan saja pelan-pelan, nanti kalau sudah lelah baru Mama pakai kursi roda," jelas Sela.


Tapi Sela merasa dirinya jauh lebih baik, apa lagi Vanya terus membuatnya bahagia.


Dengan mudahnya terhibur karena kecerewetan dan juga keanehan, Vanya.


"Iya Ma, tapi hati-hati," Riki pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Sela.


"Vanya, nanti malam kebetulan teman Tante mengundang Tante ke resepsi pernikahan anaknya. Tante, mau kamu temenin Tante ya."


"Nanti malam ya, Tante?" Vanya seperti tidak bisa, karena dirinya memiliki janji dengan seseorang yang membuatnya menjadi lebih bahagia.


Namun, bagaimana pula cara menolaknya. Hingga tak membuat Sela tersinggung.


"Iya, kamu bisa kan?" Sela bertanya dengan penuh harap, berharap Vanya bisa ikut bersama dengan dirinya.


"Maaf ya, Tante. Aku nggak bisa, lain kali aja ya Tante," Vanya merasa tidak enak hati harus menolak ajakan Sela.


Vanya pun tak mungkin membatalkan janji bertemunya dengan Rangga.


"Begitu?" Sela terlihat kecewa atas penolakan Vanya, tetapi dirinya juga tak boleh memaksakan kehendaknya sendiri.


"Sekali lagi maaf ya, Tante," masih saja merasa tidak enak hati dan kata maaf pun lagi-lagi diucapkannya.


"Tidak apa-apa, lain kali kan masih bisa" Sela pun mengusap punggung Vanya, dirinya tidak marah sama sekali.


"Lain kali, Tante?"


"Iya, kenapa?" Tanya Sela kembali penuh kebingungan.


"Maksudnya Tante, lain kali masih ada waktu ke pernikahan anaknya teman Tante itu? Emangnya dia menikah berapa kali?" Tanya Vanya dengan diselingi tawa.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya membuat Sela pun tertawa karena Vanya masih saja melawak dengan mudahnya.


"Bukan dong, maksud Tante ke acara pesta lainnya lagi, mungkin," jelas Sela.


"Oh gitu? aku kirain ke acara orang yang sama, mungkin istri pertama, kedua dan selanjutnya yang ketiga," kata Vanya diselingi dengan canda tawa.


Bahkan Sela ikut tertular tawa Vanya yang begitu menggelegar. Beda hal dengan Riki yang terus saja memperhatikan Vanya. Wanita itu tidak sadar jika sudah membuat seorang duda tergila-gila padanya.


"Ehem," Sela pun mengejek Riki, tahu anaknya tersenyum sedang mengagumi Vanya.


Membuat Riki pun memilih untuk pergi tanpa bicara sama sekali.


Tetapi Sela terus saja tersenyum, dirinya semakin yakin jika anak nya tersebut sudah memiliki perasaan pada Vanya.


Setelah puas dengan canda tawa akhirnya Vanya pun memutuskan untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Sela pun harus bersiap-siap untuk pergi menghadiri acara pernikahan anak temannya.

__ADS_1


"Jadi deh," Vanya pun tersenyum memandang dirinya dari balik cermin, kemudian ponselnya pun berdering.


Dengan segera Vanya pun menerimanya.


"Halo," Vanya berjalan dengan perlahan, sedangkan bibirnya terus saja tersenyum bahagia karena yang menghubunginya adalah Rangga.


"Aku udah di depan pintu gerbang lokasi yang kamu bagi ke aku," kata Rangga.


Rangga sudah tahu jika Vanya bekerja di tempat tersebut, tetapi tidak mempermasalahkan sama sekali. Karena kecantikan Vanya mampu membiusnya, sehingga tidak masalah jika Vanya dari kalangan bawah atau bukan.


"Aku akan segera keluar, tunggu aku," Vanya pun memutuskan sambungan telepon, kemudian memasukan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


Namun sesaat mendekati pintu gerbang tiba-tiba Riki muncul.


Tiba-tiba?


Benarkah hanya tiba tiba ataupun sudah menunggu Vanya sejak tadi?


"Kamu mau pulang?" Tanya Riki secara langsung tanpa ada basa-basi.


Vanya pun melihat sekitarnya, kemudian lembali melihat Riki.


"Om, ngomong sama siapa? Sama aku?"


"Apa ada orang lain selain kita berdua?"


"Apaan sih, nggak jelas banget. Ditanya malah tanya balik!" Gerutu Vanya.


"Iya, aku bertanya pada mu," akhirnya Riki pun memperjelas pertanyaannya.


"Kalau hanya itu seharusnya," Vanya pun mulai mempraktikkan sedikit gaya agar Riki tahu menjadi manusia normal seperti apa.


"Vanya, kamu mau kemana? Mau pulang? Gitu kali Om!"


"Vanya, kamu mau ke mana? Mau pulang?" Riki pun mengulangi kata-kata yang diajarkan oleh Vanya barusan.


Sayangnya Vanya sudah kesal.


"Telat, itu buat pelajaran Om besok-besok. Jadi, tau kalau mau ngomong sama aku itu gimana!"


"Ayo aku antarkan!"


"Nggak! Nggak!" Vanya pun menggerakkan kedua tangannya menolak dengan keras. Karena Rangga sudah menunggunya, lagi pula Vanya tak mau pulang dengan Riki.


"Kenapa?" Riki bingung mendengar penolakan Vanya.


Hingga membuatnya bertanya-tanya.


"Om," Vanya pun mendekati Riki, kemudian menarik lengan pria itu agar sedikit membungkuk hingga Vanya bisa berbisik di telinga Riki.


"Aku udah punya gebetan baru. Lebih tampan dari pada yang kemarin itu" Vanya pun tersenyum bangga kemudian berpamitan untuk pergi.


Riki tak mendengarkan kata pamitan Vanya, yang ada matanya melihat Vanya yang mulai keluar dari gerbang.


Terlihat pula ada seorang pria yang menunggu di sana dengan sepeda motornya.


Kedua tangan Riki pun terkepal erat, bagaimana bisa Vanya memilih untuk pergi dengan laki-laki lain padahal dirinya sudah menawarkan diri.


"Jangan marah, kan bukan siapa-siapa," celetuk Sela yang mendadak muncul dan memperhatikan wajah anaknya yang mendadak berubah karena melihat Vanya bersama pria lainnya.


"Kan, Mama sudah ingatkan. Tidak mendengarkan? Ya, tidak masalah," tambah Sela lagi kemudian masuk ke dalam mobil karena dirinya harus segera pergi. Tetapi tawanya begitu menggelegar melihat Riki yang panas.

__ADS_1


__ADS_2