
"Mas yakin?" Nayla merasa bingang pada Devan yang malah menyetujui apa yang diinginkan oleh putrinya, rasanya begitu mustahil untuk dilakukan oleh seorang Devan.
"Sayang, apa kamu yakin putri kita itu bersungguh-sungguh untuk menikah" Devan lagi-lagi mengutarakan keraguannya bahkan ingin melihat siapa lelaki yang sudah menjalin hubungan dengan putrinya tersebut.
Beberapa waktu kebelakang ini memang Devan membebaskan putrinya, berusaha untuk memberikan sebuah kepercayaan.
Agar Vanya bisa menjalani hidup dengan baik tanpa terus membuat masalah seperti selama ini terus dimanjakan oleh dirinya.
Sementara Nayla hanya terdiam menimbang apa yang dikatakan oleh Devan.
Walaupun sebenarnya dirinya juga tidak yakin dengan keinginan Vanya untuk menikah menimbang anaknya itu masih labil. Bahkan bisa berpindah-pindah keinginan dalam waktu yang sama.
"Ya juga sih, namanya bocah sedang kasmaran," kata Nayla membenarkan apa yang di sampaikan oleh suaminya itu.
"Siapa yang kasmaran?" Tanya Felix yang baru saja kembali namun mendengar kedua orang tuanya yang sedang berbicara dengan cukup serius.
Bahkan tidak biasanya malam-malam begini duduk di ruang tamu.
Ini cukup aneh sekali bukan? Sebab tempat favorit kedua orang tuanya adalah ruang keluarga.
Hingga Nayla dan Devan pun menatap putra sulungnya itu.
"Kamu duduk dulu," pinta Nayla menunjuk sofa untuk Felix duduk.
"Ada acara keluarga ya? Kok, ngumpul?" Adnan juga kembali ke rumah tetapi melihat ketiga orang itu duduk di ruang tamu.
"Kamu juga duduk!" kata Nayla meminta anak keduanya itu juga bergabung bersama mereka.
"Ada apa ini?" Adnan malah dibuat penasaran, sebab terkesan ada yang serius.
Tapi apa?
Apa yang akan dilakukan setelah ini dan apa yang akan terjadi pula nantinya, pembahasan seperti apa yang akan didengarkan olehnya.
"Wah, semuanya udah ngumpul," Vanya pun muncul dengan wajah cerianya, jangan lupakan dress berwarna merah muda di tubuhnya yang terlihat sangat indah.
Make up tipis-tipis agar terkesan lebih cantik, lebih cantik dan nyaman untuk di pandang oleh mata.
Mata siapa?
Tentunya Riki.
Di tambah lagi aroma parfum yang semerbak seakan membuat aroma penciuman menjadi rusak.
Karena apa?
Karena Vanya menghabiskan satu botol parfumnya demi terlihat sempurna.
Namun apa yang di rasakan oleh orang-orang di sekitarnya?
"Bau apa ini?" Felix mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung, aroma yang menyeruak benar-benar sangat mengganggu.
__ADS_1
Sementara yang lainnya juga ikut menutup hidungnya karena tidak ingin indra penciuman mereka rusak.
"Ini wangi, bukan bau. Dasar kampungan!" Ketus Vanya dengan penuh percaya diri.
"Sudah, sudah, jangan berisik!" Devan pun menengahi sebab dirinya tidak ingin mendengarkan keributan sama sekali.
Tetapi keributan diantara anak-anaknya memang sering kali terjadi sebab semuanya sepertinya memang sudah wajar mengingat mereka tinggal dan dilahirkan dari rahim yang sama.
"Weeee!" Vanya pun menjulurkan lidahnya saat merasa Devan berada di pihaknya.
Karena Vanya adalah putri satu-satunya, sedangkan dua Kakaknya adalah laki-laki.
Dengan segera Vanya pun duduk di antara kedua Kakaknya penuh kebahagiaan hingga akhirnya Felix pun menarik rambut Vanya.
"Kak Felix!" Pekik Vanya.
"Ahahahhaha," Felix pun tertawa mengejek adik bungsunya itu.
Sampai akhirnya Adnan pun ikut menarik rambut Vanya kembali, namun malah Vanya berpikir Felix yang lagi-lagi melakukannya.
"Kak Felix!" Kali ini tatapan mata Vanya terlihat sangat mematikan hingga mampu mencabik-cabik seorang Felix.
"Bukan Kak Felix, Kak Adnan!" Felix pun tak ingin menanggung kesalahan Adnan hingga menunjuk siapa pelakunya.
Kemudian Vanya pun beralih menatap Adnan, tetapi tampaknya apa yang dikatakan oleh Felix benar adanya.
Adnan adalah pelaku utamanya saat ini, Vanya pun mengambil majalah yang ada pada meja dan memukuli Adnan tanpa hentinya.
Nayla dan Devan hanya tersenyum melihat anak-anaknya, sudah lama tidak berkumpul begini sehingga rasanya begitu bahagia.
Hingga akhirnya Vanya pun merasa lelah, kemudian mendudukkan dirinya di sofa.
"Ngomong-ngomong ini ada masalah apa? Kenapa semua berkumpul di sini?" Felix pun kembali pada topik pembahasan awalnya, tampak beberapa saat yang lalu Nayla dan Devan akan membahas sesuatu.
Tapi apa?
Devan pun beralih menatap wajah Vanya karena yang saat ini menjadi perbincangan adalah Vanya, putri bungsu kesayangan Devan.
"Vanya sudah punya calon suami," kata Devan.
Felix dan Adnan seketika terkejut mendengarnya bahkan keduanya seketika menatap Vanya dengan penuh tanya.
"Biasa aja kali Kak, aku memang cantik!" Kata Vanya dengan penuh percaya diri.
"Ahahahhaha," Felix dan Adnan pun akhirnya melepaskan tawa mereka sebab apa yang mereka dengar sepertinya cukup mengejutkan.
Vanya punya calon suami?
Ini rasanya sangat mengejutkan bahkan sampai lebih dari kejutan.
"Siapa yang mau dengan mu?" Tanya Adnan.
__ADS_1
"Monyet!" Tambah Felix ikut membuat adiknya kesal bukan main.
"Enak aja, aku cantik, menarik! Banyak yang mau sama aku!" Kata Vanya dengan penuh rasa percaya dirinya.
"Maka dari itu, malam ini kita akan menyambut tamu istimewa itu. Lelaki yang akan menikahi Vanya, Katanya," Devan pun menekankan kata pada akhir kalimatnya.
Sementara matanya tertuju pada Vanya yang masih bocah tapi sudah ingin menikah.
Entah seperti apa nantinya bocah itu jika benar akan menikah.
Sementara untuk mengurus dirinya sendiri saja masih membutuhkan pembantu lantas bagaimana jika harus mengurus suaminya nanti?
Sudahlah, Devan juga yakin jika ini hanyalah pembicaraan bocah yang tidak ada pentingnya.
Tapi, tidak masalah pula untuk melihat lelaki yang sudah ingin menikah dengan Vanya.
"Ayah, kok katanya? aku serius!" Terang Vanya berusaha meyakinkan semuanya. Terutama Devan.
"Ya, Ayah mengerti," kata Devan agar putrinya tersebut tidak lagi marah-marah karena membahas hal yang menurut Devan sangat tidak penting sama sekali.
"Jadi, kita mau kedatangan calon adik Ipar?" Seloroh Adnan.
"Sepertinya begitu," jawab Felix dengan santainya, tapi percayalah saat ini Felix sedang berusaha untuk menahan tawa.
Mereka tahu pasti, adiknya itu hanya sedang berada dalam masa remaja yang jatuh cinta, kemudian menganggap bahwa semuanya serius.
"Bunda," Vanya pun ingin menangis karena kedua Kakaknya itu malah membuatnya merasa kesal bahkan terkesan mengejek dengan nyata.
"Felix, Adnan!" Nayla pun menegur putranya yang sudah lancang membuat putrinya hampir menangis.
Felix dan Adnan lagi-lagi mengusap wajah, menahan tawa karena Vanya dengan usia mudanya yang sudah ingin menikah.
"Nanti kalau aku udah nikah kalian semua terutama Kak Adnan dan Kak Felix bakalan nangis-nangis kangen sama aku!"
"Ya, masalahnya siapa yang akan menikahi mu? Dasar suntel kenyut!" Kata Felix.
"Laki-laki dong masa perempuan!" Jawab Vanya yang tidak mau kalah.
Hingga akhirnya terdengar suara bel yang berbunyi, siapa yang datang? Tentunya orang yang sudah di tunggu-tunggu oleh keluarga.
Semuanya seketika terdiam, mereka semua seakan kembali menjadi diri sendiri yang diam dan juga dingin seperti yang diketahui oleh orang-orang di luaran sana.
Apa lagi saat ini ada pria yang mencoba untuk menikahinya Vanya, tentunya semuanya tidak akan semudah itu.
Ada tiga laki-laki yang harus dihadapi untuk mendapatkan Vanya.
Bahkan kini ketiga pria itu ingin membuat lelaki itu tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati Vanya, lebih bagus lagi jika tidak menginjakkan kaki di rumah mereka.
"Biar aku aja yang buka pintu," kata Vanya menawarkan diri.
Tetapi Nayla menahannya.
__ADS_1
"Bik Ina, buka pintu," Nayla melihat ada Bik Ina yang melewati ruang tamu dan lebih baik Bik Ina yang membukakan pintu.