Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidur untuk selamanya!


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Devan membuka semua peralatan medis yang terpasang pada tubuh Jessica. Tidak ada lagi yang tersisa, semua benar-benar dilepaskan. Perlahan kain di tarik untuk menutupi seluruh tubuh wanita yang di cintai Alex. Alex pun tersentak melihatnya, Alex cepat-cepat bangkit dari duduknya dengan perasaan bertanya-tanya. Kemudian terdengar suara tangisan. Semuanya berada di sana entah sejak kapan, menangisi Jessica. Terutama Rara menangis tersedu-sedu tiada henti setelah Dokter mengatakan bahwa Jessica sudah tidak lagi ada. Jessica ikut menyusul kedua orang tua mereka.


"Aku sekarang sendiri Jessica, kamu tega sekali meninggalkan aku juga. Aku tidak punya keluarga lagi," kata Rara di sela-sela tangisnya.


Jessica sudah tiada, membuatnya menjadi seorang diri, tidak ada kerabat yang bisa menjadi tempat curhat nya seperti selama ini.


"Rara sabar, ada kami," Puput memeluk Rara dengan eratnya.


Bukan hanya Rara yang terpukul atas kepergian Jessica. Nayla, Reyna dan Rima pun ikut merasa kehilangan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Ditambah lagi seorang anak kecil yang harus rela kehilangan ibu nya.


Cahaya.


Cahaya menangis dan menjerit mengetahui bahwa Jessica sudah tiada.


Begitu menyesakkan dada dan sangat memilukan untuk menyaksikan nya.


"Mommy, bangun!" Seru Cahaya penuh ketakutan.


"Cahaya, Mom sudah pergi," Puput memeluk cucunya dengan erat, tidak ingin melihat betapa hancur cucunya saat ini.


Siapakah yang tidak merasa hancur saat kehilangan Ibu nya?


Tidak ada, semua orang pasti menginginkan untuk tetap bersama dengan Ibu nya. Tidak terkecuali Cahaya, usianya masih begitu muda. Terlalu kecil untuk kehilangan Ibu nya, namun apa daya semua sudah menjadi jalannya.


Alex pun mencoba untuk mendekati Jessica, tangannya begitu berat membuka kain yang menutupi seluruh tubuh istrinya. Walaupun begitu Alex tetap berusaha untuk kuat membukanya.


Betapa terkejut Alex melihat Jessica benar-benar terbujur kaku dihadapannya. Alex mengusap matanya beberapa kali, berusaha melihat dengan jelas. Berdoa semoga ini hanya sebatas ilusi. Tapi wajah Jessica terlihat begitu jelasnya.


"Kamu jahat! Kamu penyebabnya!" Seru Rara.

__ADS_1


Rara tidak dapat lagi menahan dirinya, sehingga menarik kerah kemeja Alex dengan kasar. Mendorong Alex, hingga berpidah dari tempatnya, Rara menganggap Alex adalah pembunuh adiknya.


"Kamu pembunuh! Andai adik ku tidak kembali pada mu, dia tidak akan begini!


"Kamu jahat!" Teriak Rara tanpa ampun.


Cahaya tidak sewajarnya mendengar semua itu, tetapi tanpa sengaja telinganya mendengar dengan jelas.


Rara mengatakan bahwa Alex adalah pembunuh Jessica.


"Tante kenapa bilang Dad yang membunuh Mom?" Tanya Cahaya.


Rara pun menatap Cahaya dengan wajah basah dan mata sembab nyam


"Dia memang pembunuh, dia kurang ajar! Dia bukan Dad mu! Dulu pun dia menelantarkan mu dan Mom mu! Kalau dia Dad mu tidak akan mungkin melakukan itu!" Seru Rara penuh amarah yang membuncah.


"Tidak begitu, Aya dengarkan Dad dulu," kata Alex dengan panik.


"Apa yang harus Cahaya dengarkan?" Seru Rara.


"Tentang semua kurang ajar mu itu? tentang semua kekerasan dan hinaan yang pernah kamu katakan pada Jessica! Begitu?"


"Tidak, Jessica bangun" Alex mengeratkan tubuh Jessica yang kini sudah tidak bernyawa, berusaha membangunkan istrinya.


Alex berharap saat ini Jessica hanya sedang tertidur lelap, kemudian akan bangun kembali. Membuka mata lalu menatapnya seperti sebelumnya. Alex lebih memilih di marahi bahkan dipukul oleh Jessica selama hidupnya, asalkan Jessica bisa hidup kembali.


Alex sangat mencintai Jessica, sejak dulu sampai saat ini semua itu tidak pernah berkurang walaupun hanya seujung kuku. Sampai kapanpun akan terus begitu tanpa ada yang berubah.


"Jessica buka mata mu, aku tidak sanggup kehilangan mu"

__ADS_1


"Jangan sentuh adik ku! Tangan mu terlalu hina!" Rara menarik kemeja Alex, kemudian mendorongnya sejauh mungkin untuk kedua kalinya. Tidak ingin Alex menyentuh adiknya, cukup sudah membuat adiknya menderita selama ini.


"Dad jahat! Dad pembunuh!" Seru Cahaya juga penuh kemarahan.


"Dia memang pembunuh! Pembunuh istrinya sendiri!" Reyna pun menimpali, dari tadi dirinya hanya diam namun kali ini ikut bersuara karena ikut merasakan penderitaan Jessica.


"Kau pantas mendapatkan gelar tersebut, bahkan aku sendiri menyesal sudah melahirkan mu" Puput ikut menimpali, dirinya tidak sanggup menyaksikan cucunya hidup tanpa seorang Ibu.


"Aku menyesal! Aku mencintainya! Tolong jangan katakan aku pembunuhnya," Alex berteriak sambil menangis kencang, menggelengkan kepalanya ketakutan saat semua orang menuduhnya sebagai seorang pembunuh. Dirinya disini juga merasa terluka, tidak sanggup hidup tanpa Jessica Namun, mengapa sekeliling nya seakan tidak menatap lukanya.


Mungkinkah Alex bisa berdiri sendiri di atas kakinya tanpa wanita yang dicintainya.


Tidak!


Alex tidak bisa untuk itu semua.


Apa gunanya semua perjuangannya?


Apa gunanya cinta yang pernah dibalas Jessica jika hanya membawa luka lara.


"Jessica bangun!" Alex pun beralih menatap Cahaya yang masih menangis tersedu-sedu, menangisi kepergian sang Mommy yang selama ini menjadi seseorang terhebat dalam hidupnya,


Sayangnya tatapan Cahaya begitu membara, penuh kebencian terhadap Alex.


"Jangan lihat aku! Aku tidak mau walaupun kamu hanya melihat ku! Pembunuh Mommy!" Teriak Cahaya.


"Jessica, aku tidak sanggup lagi! Jessica bangun, katanya kamu cuma tidur dan istirahat. Kenapa malah tidur untuk selamanya? Jessica! Jessica!" Alex terus menggerak-gerakkan tubuh Jessica, berharap akan membuka matanya dan melihat dirinya kembali.


Air matanya sudah tiada terkira, tumpah ruah dengan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2