Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Cinta pertama yang berkhianat dengan kejam...


__ADS_3

"Riki, sampai kapan kamu akan seperti ini? Mama, sudah tua begini, sakit-sakitan, Mama ingin memiliki teman, kamu harapan Mama satu-satunya, anak Mama hanya kamu saja. Kalaupun Mama mati, Mama ingin melihat kamu menikah terlebih dahulu dan memberikan Mama seorang cucu."


Malam ini hujan deras turun begitu deras, tetapi tetap saja tak mengalahkan segala kesedihan seorang Ibu mengenang nasib percintaan anaknya yang begitu malang. Sedangkan Riki berdiri di jendela kaca kamar Mamanya. Melihat hujan turun yang kian semakin membasahi bumi di luar sana.


Membuat perasaan Sela semakin tidak karuan menatap putra tunggalnya yang terus larut dalam kesenangan diri tanpa memikirkan masa depannya kelak.


Tetapi sejenak Riki pun mengingat kembali masa lalunya, masa-masa yang menyeretnya masuk ke dalam sebuah kesenangan sesaat bersama dengan banyaknya wanita di luar sana. Lantas bagaimana dengan perasaannya, siapa pun tak pernah ada yang tahu kecuali, Sela.


"Mama tahu, kamu pernah kecewa. Tapi tidak selayaknya kamu terus menghukum dirimu sendiri," lanjut Sela lagi berharap Riki bisa kembali menjadi dirinya.


Sulit di mengerti oleh pikiran. Tapi sampai saat ini pun masih ingin sendiri, tak ada lagi keinginannya untuk memiliki seorang pendamping hidup seperti dulu. Sekilas ingatan masa lalu pun terulang kembali, tepatnya beberapa tahun yang lalu.


Mata Riki melihat dengan jelas saat istrinya tengah di gagahi oleh seorang pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


Saat malam itu Riki sedang berada di luar kota untuk pekerjaan, namun ingin memberikan kejutan yang spesial untuk istrinya yang sedang mengandung. Membawakan satu set perhiasan berlian sesuai dengan apa yang di impikan oleh istrinya tersebut. Dan ingin mengatakan secara langsung jika dirinya sudah menjadi pewaris tunggal kerajaan bisnis sang Papa yang sudah tak sanggup lagi mengurus semuanya sendiri. Tapi sayang, ternyata yang terjadi malah sebaliknya.


Di apartemen miliknya, di atas ranjang yang menjadi tempatnya tidur saat lelahnya bekerja, saat ingin di manja oleh istrinya malah menyaksikan sebuah adegan mengerikan. Adegan yang membuat tubuhnya menjadi kaku.


"Sayang, ayo lagi. Aku sangat merindukan mu," rancauan kenikmatan Indah sudah menggambarkan betapa wanita itu sangat menikmati tusukan benda itu pada miliknya.


"Apa suami mu itu tak pernah bisa memuaskan mu sayang?"


"Tentu tidak, dia sangat lemah, aku tak pernah bisa di buatnya puas seperti saat bersama dengan dirimu."


"Anak ku ini pasti sangat merindukan aku."


Anton mengusap perut buncit Indah sambil terus bergerak, berpacu di atas tubuh istri dari sahabatnya sendiri.


"Tentu, ayolah lebih keras. Aku juga merindukan tusukan mu yang membuat aku melayang sayang."


Wanita itu terlihat seperti seorang wanita murahan yang sedang mencari kesenangan yang begitu memuaskan membuat tangan Riki yang bergetar pun akhirnya menjatuhkan sesuatu di tangannya.


Bunyi tersebut menyadarkan Indah dan juga Anton, seketika keduanya menghentikan permainan. Begitu terkejut melihat siapa yang kini berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Riki," Anton cepat-cepat memakai pakaian, meskipun belum sampai pada puncaknya yang padahal hampir saja sampai.


"Sayang, aku," Indah pun menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, tak menyangka jika Riki pulang lebih awal dari apa yang sebelumnya di katakan melalui sambungan telepon seluler beberapa jam yang lalu.


Mata Riki tampak memerah dengan kedua tangannya yang terkepal, menunjukan buku-buku jarinya yang mengeras sempurna. Membenarkan jika kemarahan kian semakin memuncak.


"Sayang, dia memperkosa ku," Indah pun berusaha untuk menyelamatkan dirinya dengan menjadikan Anton sebagai kambing hitam. Paling tidak dengan begitu posisinya masih aman. Tapi apakah Riki percaya? Bukankah telinganya sendiri mendengar apa yang sudah di bicarakan oleh keduanya.


"Sejak kapan wanita di perkosa minta di goyang lebih kencang," tanya Riki berusaha keras untuk terus menahan amarahnya. Sedangkan Anton hanya diam saja, entah apa yang bisa di katakannya kini.


"Padahal kau adalah seorang teman yang ku anggap sebagai saudara, ku jadikan orang kepercayaan di perusahaan ku. Tapi, ternyata ini balasannya," kata Riki penuh kebencian.


"Riki, aku minta maaf..."


Buk... Buk... Buk...


Riki sudah tak lagi dapat menahan amarahnya, jika bisa saat ini pula menghabisi nyawa Anton dan juga Indah dengan tangannya sendiri. Hingga terus menghajar Anton dengan membabi buta tanpa perlawanan sama sekali.


Hingga akhirnya Riki pun berhenti memukuli Anton. Namun, beralih menata Indah dengan tajam. Tatapan mata yang seakan siap untuk membunuh seorang pengkhianat cinta.


"Riki," Indah pun mundur selangkah demi selangkah, merasa baru melihat kemarahan suaminya itu begitu mengerikan.


Bahkan inilah pertama kalinya Riki marah padanya. Sesaat kemudian Riki menatap perut Indah penuh kebencian. Hingga akhirnya tubuh Indah pun membentur dinding, tanpa banyak berpikir Riki pun mencengkram erat rahang Indah hingga begitu lama.


"Riki......" Indah memegang tangan Riki, berusaha untuk menyelamatkan nyawanya. Tetapi, tenaganya tak berarti apa-apa.


Hingga Sela pun shock melihat apa yang tengah terjadi di apartemen anaknya tersebut.


Kedatangannya di undang oleh Riki sendiri saat dalam perjalanan pulang. Tetapi, sesampainya di sana malah menyaksikan sebuah ketegangan yang begitu luar biasa.


"Riki, ada apa ini," dengan langkah kaki yang cepat Sela pun mendekat dan berusaha untuk melepaskan tangan Riki.


Tetapi tidak bisa, karena pikirannya sudah sangat kacau karena pengkhianatan istri dan sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Riki, kamu bisa membunuh istri mu!" Sela berteriak berharap anaknya bisa segera sadar dari gelapnya pikiran.


Riki pun beralih menatap Sela, melihat wajah wanita yang melahirkannya itu tampak ketakutan.


"Wanita ini pengkhianat, Anton adalah Ayah dari anak itu! Mereka berdua bercinta disini, di rumah ku, di atas ranjang ku! Menjijikkan!" Riki semakin memperkuat cengkraman tangannya, hingga membuat wajah Indah benar-benar memucat.


Sela pun shock mendengar apa yang dikatakan oleh Riki, sedangkan Anton sudah melarikan diri, pergi dengan berlari untuk menyelamatkan dirinya dari amukan Riki.


"Riki, lepaskan! Kalau dia mati kamu yang terkena masalah," lagi-lagi Sela berusaha untuk membuat anaknya menjadi sadar, meskipun begitu kecewa atas apa yang di lakukan oleh wanita tersebut.


"Tidak masalah, asal wanita ini mati!"


"Jangan, bagaimana dengan Mama kalau nantinya kamu yang malah mendapatkan hukuman mati, kamu anak Mama satu-satunya, Mama bisa mati juga," kata Sela sambil menangis.


Sayang tangisan Mamanya itu membuat Riki menjadi lemah, cengkraman pada rahang Indah pun mulai renggang seketika itu Sela pun mengambil kesempatan untuk menurunkan tangan Riki.


"Uhuk-uhuk," Indah pun terbatuk-batuk setelah terlepas dari cengkeraman Riki.


Dengan segera Sela memungut pakaian milik Indah.


"Pakai pakaian mu dan pergi dari sini," Sela memberikan pakaian Indah hingga akhirnya pergi dari sana.


Kemarahan Riki pun belum mereda sepenuhnya, hingga menghempaskan pada semua benda yang ada di sekiranya.


Sedangkan Sela hanya membiarkan apapun yang di lakukan oleh anaknya tersebut asalkan anaknya tidak menjadi seorang pembunuh, karena menghabisi nyawa Indah. Tak ada yang lepas dari amukannya, kamar tersebut benar-benar hancur tanpa ada yang tersisa.


Air mata Riki pun menetes dengan begitu saja, mencintai dengan tulus dan sepenuh hati malah berakhir dengan pengkhianatan adalah sebuah luka yang begitu dalam.


Luka yang tak pernah di impikannya selama hidupnya, sungguh ini begitu berat baginya.


Bagi seorang Riki, Indah adalah segalanya tanpa ada yang bisa menggantikannya.


Entah bagaimana caranya untuk bisa melupakan wanita itu. Cinta pertama yang berkhianat dengan kejam.

__ADS_1


__ADS_2