Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Banyak keanehan!


__ADS_3

Pagi harinya Alex pun terbangun, ternyata Jessica sudah terlebih dahulu bangun. Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka, Jessica pun masuk dengan senyuman manisnya.


"Selamat pagi Daddy," sapa Jessica sambil tersenyum.


"Pagi, kamu sudah lebih baik?"


"Loh, emang aku kenapa? Semalam aku hanya sedikit lelah," jelas Jessica.


"Aku udah buatin sarapan, sekarang kamu mandi, aku yang menyiapkan pakaian mu" Jessica pun berjalan menuju lemari, memilih salah satu kemeja.


Sampai akhirnya Alex melingkarkan tangannya pada perutnya.


"Mandi bareng ya Mommy," kata Alex.


"Nggak ah dingin," tolak Jessica


"Selamat pagi Daddy!" Seru Cahaya dengan hebohnya.


Alex pun terpaksa melepaskan tangannya dan beralih menatap putri cantik nya.


"Pagi sayang!"


"Daddy, belum mandi?"


"Belum, makanya Daddy bau jigong." Jelas Jessica menggoda putrinya.


"Emang Daddy, bau jigong?" Tanya Alex pada Cahaya yang kini berdiri di atas ranjang, sedangkan Alex disampingnya.


"Nggak kok, wangi," Cahaya memeluk Alex menciumi pipi Alex.


"Bau jigong, jorok!" Seloroh Jessica, tapi di anggap serius oleh Cahaya.


"Mana ada, Daddy wangi, Aya suka,"


Cahaya terus memeluk Alex seakan tidak setuju pada apa yang dikatakan oleh Jessica tentang Alex.


"Iya, iya, Daddy wangi, harum," ujar Jessica mengejek.


Tetapi, Cahaya malah tersenyum bahagia.


"Daddy mandi dulu, setelah itu kita sarapan pagi. Kan, Mommy sudah masak," kata Alex.


Setelah selesai dengan mandi, lalu sarapan bersama.


Kemudian Alex menatap Jessica, yang merasa risih duduk di kursi meja makan.


"Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa," Tidak tahu kenapa tapi perutnya terasa sakit, tetapi dirinya tidak menunjukkan apa-apa.

__ADS_1


Mengingat semuanya sedang berada di meja makan untuk sarapan pagi.


"Mama perhatikan kamu seperti sedang tidak nyaman?" Puput pun ikut menimpali.


"Mana hasil USG kemarin hari?" Tanya Alex.


Dirinya merasa ada yang janggal dari Jessica, entah itu masalah kandungan ataupun lainnya.


"Em, itu apa..." Jessica pun mendadak gelagapan tidak tahu harus menjelaskan seperti apa.


Alex mengangkat sebelah alis matanya, menunggu Jessica untuk menjawabnya.


"Mana?" Alex mengetuk-ngetuk meja, menunggu Jessica memberikan padanya.


"Sebentar," Jessica segera bangkit dari duduknya, menuju kamar.


Tidak lama berselang ternyata Alex juga menyusul ke kamar.


"Mana?" Pinta Alex lagi.


"Ketinggalan di rumah sakit," bohong Jessica.


Alex terdiam sambil menimbang apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut.


"Jangan berbohong!"


"Aku bertanya, kenapa kamu tidak mau aku periksa, ada apa?" Tanya Alex tanpa henti agar Jessica mengatakan sebenarnya.


Sejak saat Jessica mengetahui kehamilannya, saat itu pula banyak keanehan. Untuk memeriksa perutnya saja Alex tidak diperbolehkan, rasanya begitu membingungkan.


Bahkan hasil USG pun saat Devan memeriksanya, tidak diijinkan untuk melihatnya.


"Kamu bentak aku?" Tanya Jessica sambil menangis, perasaannya sedang campur aduk.


Sehingga sedikit saja orang lain dengan suara meninggi membuat rasa sensitif itu pun muncul.


"Aku nggak bentak, aku tanya," Alex berusaha untuk tetap tenang, berusaha untuk tidak membuat Jessica menangis.


Namun apalah daya, air mata Jessica pun mulai tumpah begitu saja


"Maaf," Alex pun segera menyudahi segala perdebatan mereka, kemudian memeluk Jessica dengan eratnya.


Jessica masih menangis tanpa hentinya, takut sekali jika Alex tahu dan memintanya untuk mengangkat janin tersebut.


"Aku mau pulang ke rumah Mama dulu, boleh ya, nanti sore aku pulang ke sini lagi," pinta Jessica.


"Aku ikut"


"Nggak usah, ada Kak Rara. Aku mau tidur sama Kak Rara di atas ranjang Mama," jelas Jessica.

__ADS_1


"Baiklah, nanti sore aku jemput setelah pulang dari rumah sakit."


Jessica pun mengangguk setuju, setelahnya Alex sendiri yang mengantarkan Jessica menuju rumah mendiang kedua orang tuanya.


Dimana rumah tersebut kini ditempati oleh Kakak sulung nya Rara.


"Kak, aku titip Jessica dulu. Sore aku jemput," kata Alex pada Rara.


"Kamu nggak masuk dulu?" Tanya Rara melihat mereka hanya di teras saja.


"Nanti sore saja Kak."


Rara pun mengangguk, kemudian menatap adiknya yang perlahan masuk ke dalam rumah.


"Aku hamil Kak"


Bagai bom yang meledak begitu saja, Rara benar-benar shock mendengarnya.


"Kamu jangan bercanda, kamu tidak boleh hamil lagi" Ujar Rara.


Kemudian duduk di sofa ruang tamu, dimana Jessica juga duduk saling berhadapan dengan dirinya.


"Aku serius."


"Jessica, kamu sadar yang sedang kamu ucapkan?"


"Aku juga tidak tahu harus bagaimana, tapi..." Jessica tak kuasa menahan air mata, mengusap hingga beberapa kali namun, tetap saja tumpah lagi.


"Kenapa Alex membiarkan itu terjadi, apa dia mau membunuh mu perlahan."


"Dia nggak tahu apa-apa Kak, dan tolong rahasiakan darinya. Aku tidak mau anak ku diangkat, dia berhak hidup," pinta Jessica penuh dengan rasa takut.


"Kamu gila Jessica!" Rara tidak mengerti bagaimana mengatakan pada adiknya tersebut. Bahwa Rara tidak ingin kehilangan adiknya setelah kedua orang tuanya.


"Kak," Jessica pun merintih menahan sakit. Sakit itu kian semakin menjadi-jadi, rasanya ini lebih sakit dari semalam. Peluh pun kembali bercucuran, rasanya bagaikan kulit yang terpisah dari tulang.


Luar biasa.


"Jessica, jangan bercanda. Ini tidak lucu!"


Rara berharap Jessica hanya bercanda, tapi tidak. Wajah Jessica tidak dapat dibohongi.


"Kak, sakit banget."


"Aku akan telepon Alex," Rara pun inging menghubungi Alex, tetapi Jessica tidak ingin.


"Kak jangan, Nayla saja, agar dia datang bersama Devan!"


"Kamu gila!" Walaupun begitu Rara tetap menurut tidak ingin adiknya terlambat untuk di tolong.

__ADS_1


__ADS_2