
Devan langsung mencekik leher Riki, sebelum menghabisi pria itu mungkin dirinya tidak akan bisa baik-baik saja. Tapi Riki tidak bisa untuk melawan, tepatnya tidak ingin melawan sama sekali. Karena Devan adalah Ayah dari Vanya, semuanya benar-benar serba sulit. Tidak melawan nyawanya bisa melayang, sedangkan jika melawan restu tidak akan pernah dia dapatkan.
Lantas bagaimana? Apa yang bisa dilakukan oleh Riki? Menerima tanpa perlawanan atau sebaliknya. Suasana ini sangat mencekam, sulit untuk mengambil keputusan terbaik dari semua yang terjadi.
Sebab hanya ada kemarahan yang terpancar, beruntung Nayla sadar dan berlari mendekati Devan.
Dirinya tidak ingin Devan menjadi seorang pembunuh, meskipun hatinya juga kecewa pada apa yang sudah dilakukan oleh Vanya.
"Mas, cukup. Lepaskan dia," pinta Nayla dengan air matanya yang terus saja berlinang.
Sedangkan Devan tidak sama sekali perduli pada apa yang diinginkan oleh Nayla, dirinya masih mengingat jelas apa yang dikatakan oleh Felix sebelumnya.
Setiap kali yang diceritakan Riki pada Felix kini semuanya terdengar di telinganya tanpa terkecuali.
Sehingga tidak akan mudah melupakan meskipun nantinya Riki mati di tangannya.
Tidak ada kepuasan sama sekali meskipun kini Riki berada dalam cengkraman tangannya.
"Mas," Nayla berusaha untuk melepaskan tangan Devan, dirinya benar-benar takut suaminya itu menjadi seorang pembunuh.
Nayla pun tidak ingin menghakimi satu orang saja, sebab Nayla tidak memungkiri bahwa anaknya juga bersalah dalam hal ini.
Sehingga jika pun harus dihukum maka keduanya berhak mendapatkan, bukan hanya melimpahkan kesalahan hanya pada satu orang saja.
"Dia sudah melecehkan anak kita!" Kata Devan tidak terima.
Di mata Devan hanya Riki yang bersalah, sebab selama ini putrinya itu terlalu polos sehingga tidak akan tahu apa-apa jika Riki tidak mengenalkannya.
Nayla pun menggelengkan kepalanya, sementara air matanya terus saja menetes dari pelupuk mata.
Hati seorang Ibu yang sedang kesakitan karena perbuatan anaknya, belum lagi rasa takut saat suaminya berniat menghabisi seorang pria.
"Riki tidak sepenuhnya salah karena Vanya juga mau. Kalau dilecehkan seharusnya anak kita tidak mau, tapi apa?" Nayla benar-benar kecewa, dirinya juga tidak bisa menerima kenyataan yang sangat menyakitkan seperti ini.
Sebagai seorang Ibu lagi-lagi ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, ingin sekali menikahkan anaknya dengan laki-laki baik-baik pula.
Namun bagaimana lagi, kenyataan malah putrinya yang membuatnya hancur. Harga dirinya seakan tidak dianggap sama sekali.
Jika pun harus menikah di usia yang cukup muda mengapa harus dengan cara kotor? Nayla benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih tentang semua ini.
"Tetap saja tidak akan terjadi jika pria kurang ajar ini tidak memperkenalkan semua perbuatan kotor tersebut!" Devan masih saja menepis semuanya.
__ADS_1
Baginya putrinya tidak salah, yang salah hanya Riki.
Sebab, Riki adalah lelaki dewasa yang seharusnya mengajarkan sesuatu yang baik pada anaknya.
Bukan malah melakukan hal kotor seperti ini, sungguh ini sangatlah menjijikkan.
"Mas, lepaskan! Aku tidak ingin kamu menjadi pembunuh!" Seru Nayla karena sepertinya Riki mulai kesulitan untuk bernapas.
Tangisan Nayla membuat Devan melemah, seketika itu cengkramannya mulai melemah pula.
Saat itu Nayla pun mengambil kesempatan untuk menjauhkan Devan.
Riki pun terbatuk-batuk karena hampir saja nyawanya hilang di tangan Devan.
"Pergi dari sini, jangan pernah sekali-kali mencoba untuk kembali. Apa lagi menemui anak ku! Bahkan, hubungan pekerjaan kita juga berhenti sampai di sini!"
Devan tidak perduli berapa kerugian yang harus diterimanya karena baginya saat ini yang terpenting adalah harga diri keluarganya, terutama anaknya.
Vanya hanya seorang anak kecil, tidak akan mungkin memikirkan hal yang serius seperti apa yang diinginkannya saat ini.
Lagi pula Devan pun tak akan mau menikahkan putrinya dengan laki-laki kurang ajar seperti Riki.
Tapi bagaimana dengan Riki?
Cintanya pada Vanya tidak main-main sehingga tidak pantas dianggap sebagai bahan candaan.
Lagi pula Riki ingin membuktikan bahwa cinta ini benar adanya tidak seperti apa yang dipikirkan oleh orang di luar sana terutama keluar Vanya.
"Pergi!"
"Om, Aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya. Masa laluku memang kelam tapi aku ingin semuanya menjadi terang berasa dengan Vanya. Bahkan aku ingin menjadi lebih baik setelah mengenal Vanya," kata Riki tanpa ada rasa ragu saat meminta restu dari Devan.
"Riki, pergi dari sini," pinta Nayla.
Nayla tidak ingin lagi melihat keributan ini, tidak akan ada solusi dari semua masalah jika hanya kemarahan yang menguasai.
Itulah yang kini menguasai suami dan juga anaknya Felix, apapun yang nantinya dikatakan oleh Riki sekalipun kebenaran tidak akan diterima sama sekali.
Keputusan terbaik saat ini adalah Riki pergi, agar keadaan bisa sedikit lebih tenang.
"Tante," Riki masih menolak, dirinya masih menginginkan restu dari Devan, sehingga tidak ingin pergi sama sekali.
__ADS_1
Kini Riki beralih menatap wajah Felix, tidak ada lagi tatapan persahabatan hanya ada tatapan permusuhan.
Semuanya benar-benar berubah menjadi asing, kebencian yang bertahan melupakan bahwa mereka pernah berteman layaknya saudara.
Tidak ada lagi kedekatan yang selama ini terasa, semuanya benar-benar hilang dengan mudahnya.
"Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk mendekati Vanya, ini peringatan pertama dan terakhir kalinya!" Kata Devan.
Jika saja Nayla tidak menangis maka saat ini Riki benar-benar hanya tinggal nama saja, mungkin saja masih ada waktu untuk seorang duda itu bernapas sehingga bisa terbebaskan.
Meskipun demikian tetap saja tidak merubah apa-apa, keadaannya tetap saja sama. Devan tidak akan pernah memberikan restu pada Riki untuk menikahi putrinya.
"Om?"
"Riki," Adnan yang dari tadi diam akhirnya bersuara, dirinya sendiri tidak tahu harus bagaimana.
Tetapi di sini dirinya mengerti dengan keadaan terutama Felix yang sudah mengetahui seperti apa kurang ajarnya seorang Riki.
Bagaimana pun keadaannya seorang Kakak tidak akan membiarkan adiknya jatuh ke dalam sebuah penderitaan.
Mungkin lebih baik tidak saling mengenal sejak awal, meskipun Riki sangat kurang ajar, paling tidak Felix tidak mengetahui sama sekali.
Sehingga masih bisa berpikir untuk membuka pintu restu.
Namun ini apa?
Apakah mungkin saat sudah mengetahui di hadapan ada lubang buaya Felix masih saja membantu adiknya untuk masuk ke dalamnya?
Tidak mungkin bukan?
Itulah yang kini dirasakan oleh Felix, dirinya ingin adiknya bahagia.
"Sebaiknya, kau pergi dulu," Adnan pun membantu Riki untuk berjalan ke arah pintu keluar.
Karena benar-benar ingin membuat suasana menjadi lebih baik.
"Tapi aku ingin menyelesaikan masalah ku," tolak Riki.
"Semuanya sudah tidak baik-baik saja," kata Adnan mengakhiri pembicaraan kemudian menutup pintu.
Riki berdiri di depan pintu, mematung di sana dengan perasaan yang benar-benar kacau, bukan hanya perasaan saja tapi tubuh juga.
__ADS_1
Semuanya benar-benar sangat kacau.