Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kau bukan selera ku..


__ADS_3

"Om, tahu nggak musik yang paling enak di dengar? Musik dangdut. Tapi, jangan bilang-bilang ya Om. Hehe," Vanya pun cengengesan persis seperti anak kecil yang sedang bahagia.


Kemudian menyalakan musik dangdut membuat Riki merasa kesal hingga mengecilkan volume suara bahkan tak ada lagi suara yang terdengar sama sekali.


Tetapi Vanya tidak lantas menyerah malah kembali menyetel volume suara bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.


Riki yang kesal memilih untuk tetap fokus mengemudikan mobilnya percuma saja berurusan dengan Vanya tidak akan menghasilkan apapun. Walaupun sebenarnya gendang telinganya ingin pecah. Sedangkan Vanya terus saja bernyanyi, berteriak dengan sesuka hatinya. Menyanyikan lagu sesuai dengan keinginannya.


Sesampainya di supermarket Vanya pun langsung bergerak cepat mencari barang sesuai dengan catatan yang sudah di berikan oleh Sela.


Ada banyak sekali barang-barang yang tertulis di dalamnya, tetapi Vanya sangat suka hal ini. Karena berbelanja adalah bagian dari hidupnya. Apa lagi sekarang dirinya sudah tidak lagi bisa berbelanja. Wajah Vanya pun berubah murung, sebab semua barang tersebut adalah milik Sela, bukan miliknya.


"Kenapa malah diam?" Riki malah kesal, sebab dirinya sudah terlalu lama mendorong troli belanja mengikuti kemanapun Vanya berjalan. Tetapi setelah mendengar suara Riki malah membuat Vanya memili ide.


Sesaat kemudian Vanya pun lanjut berbelanja, hingga Riki kesulitan untuk membawa barang-barang tersebut. Senyum di bibir Vanya terukir indah, sebab akhirnya bisa merasakan berbelanja kembali. Meskipun orang yang membayar barang-barang tersebut tidak tahu bahwa ada beberapa barang miliknya juga.


Sampai di rumah semua barang pun di keluarkan oleh Inem, seorang pembantu yang sudah lama bekerja di rumah Sela.


"Tante, ini barang-barangnya," Vanya pun menunjukan barang-barang yang sudah dibelinya.


"Wah, terima kasih," Sela tersenyum saat melihat semua pesanannya lengkap tanpa ada yang kurang.


"Inem, antar ke kamar saya ya."


Inem pun mengantar semua belanjaan sesuai dengan perintah Sela.


Sedangkan sisanya tidak.


"Tante, di belakang ada kolam renang. Aku pengen berenang kebetulan tadi udah beli baju renang juga, boleh ya Tante," Vanya menunjukan dua kantung plastik yang semuanya adalah miliknya.


"Boleh, tapi antarkan Tante ke kamar dulu ya."


"Siap Tante," setelah memberikan hormat Vanya pun mendorong kursi roda Sela.


Sesaat kemudian kembali ke ruang tamu di mana barusan dirinya meletakan banyak barang miliknya.


Vanya pun mengambilnya, kemudian mencari kamar untuknya berganti pakaian.


"Itu pasti kamar tamu," rasanya tak mungkin kamar Riki di lantai satu sebab biasanya letak kamar ada di lantai dua. Seperti kamarnya.


Dengan segera Vanya pun memasuki kamar tersebut kemudian menutup pintunya kembali.


"Mana baju renang aku ya, hehe. Warna pink," Vanya tersenyum sambil terus membuka pakaiannya dan mengganti dengan pakaian renang yang baru saja di belinya barusan.


Tanpa sadar Riki baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melihat saat-saat Vanya sedang mengganti pakaiannya.

__ADS_1


Hingga akhirnya selesai.


"Wah, bagus banget," Vanya pun bercermin hingga melihat ada wajah Riki dari pantulan cermin.


"Kenapa Om Duluk, ada di sini," Vanya pun mengelap kaca tersebut di bagian yang memantulkan wajah Riki.


Tetapi tidak bisa, wajah Riki masih saja ada di sana.


"Dasar manusia aneh! Kenapa di mana-mana ada dia," sesaat kemudian Vanya pun mulai merasa ada yang tidak beres.


Perlahan membalikan badannya kemudian benar saja ada Riki di sana.


"Waaaaaaa!" Teriak Vanya histeris.


"Berisik!" Riki pun ingin keluar dari kamar tersebut.


Tetapi Vanya dengan cepat menghadangnya.


"Om, sengaja ya. Mau ngintip aku," Vanya pun membuka mulutnya dengan lebar.


"Apa Om lihat aku? Semuanya?" Vanya ingin sekali menangis karena Riki melihat dirinya sedang berganti pakaian.


"Saya melihatnya. Dan tidak berselera sama sekali," jawab Riki dengan malas.


"Om yakin?" Tanya Vanya penuh intimidasi.


"Kecil, aku tidak suka wanita kecil seperti mu!" Ejek Riki dengan wajah datarnya.


"O, gitu." Vanya pun mangguk-mangguk, percaya dengan apa yang di katakan oleh Riki.


Lagi pula saat disekolah saja Riki menolong anak kecil. Tentunya sama juga seperti dirinya yang di anggap anak kecil oleh Riki.


"Ini kamar Om?"


"Memangnya kenapa kalau ini bukan kamar saya, kenapa kalau saya hanya ingin ke kamar mandi saja. Ini rumah saya, kau yang masuk ke kamar ini tanpa izin! Bahkan saya yang duluan masuk ke kamar tamu ini!"


"Minggir!" Vanya pun mendorong Riki, padahal Riki tidak berdiri di depan pintu. Justru dirinya yang harus berbalik badan, kemudian keluar


"Dasar wanita aneh," umpat Riki.


Vanya tidak perduli sama sekali, baginya baju renang yang di gunakannya sangat bagus dan harus segera di bawa berenang Tetapi Riki malah mengikuti Vanya yang berjalan menuju kolam renang. Jangan lupakan ada balon renang berwarna pink yang juga melingkar di pinggangnya.


"Dia itu mau berenang atau bagaimana?"


Riki bingung melihat Vanya yang sedang menggerakkan tubuhnya di dekat kolam renang, mungkin seperti sebuah gerakan pemanasan.

__ADS_1


"Pemanasan dulu," Vanya terus saja menggerakkan tangan agar otot-ototnya tidak kaku.


Sesaat kemudian ingin meloncat, tapi tidak. Karena Vanya tidak pandai berenang.


Akhirnya itu hanya sebuah gaya saja karena yang terjadi justru Vanya masuk ke dalam kolam dengan cara berjalan menuruni tangga.


Kemudian Riki pun muncul dan mendorong Vanya hingga akhirnya masuk ke dalam kolam.


"Mau berenang saja banyak gaya!"


Riki menahan tawa saat melihat bagian bokong Vanya yang terlihat naik ke atas, itu pun karena ban pelampung yang dipakainya.


Membuat kepalanya berada di bawah, tetapi anehnya Vanya tidak juga bisa bangun dari sana.


"Apa dia tidak bisa berenang?" Riki pun merasa panik, kemudian meloncat ke dalam kolam renang masih dengan menggunakan pakaian lengkapnya.


Sampai akhirnya Riki pun membawa Vanya ke daratan.


"Uhuk... Uhuk..." Vanya terbatuk-batuk dengan mata yang memerah, beruntung masih sadarkan diri.


"Kamu tidak bisa berenang?"


"Malaikat maut aja mirip Om Duluk, alias Duda lapuk," kata Vanya merasa orang di hadapannya bukan Riki.


"Hey! Ini sayal" Geram Riki.


"Ini Om Riki?" Tanya Vanya meyakinkan dirinya.


"Kau tidak bisa berenang?"


"Om, jahat banget sih!" Vanya pun segera bangkit sambil meluapkan rasa kesal pada Riki.


"Kalau aja aku mati gimana? aku masih perawan Om!" Pekik Vanya kesal.


"Kalau begitu biar ku hilangkan perawan mu itu, agar kau bisa tenang di alam sana!" Kesal Riki.


"Ish!" Vanya pun semakin kesal pada Riki, tetapi sesaat kemudian mendapatkan ide yang cemerlang.


"Om, ajarin aku berenang dong," Vanya pun mengkedipkan kedua matanya, persis seperti anak kecil yang sedang meminta permen.


"Tapi nggak jadi, takutnya malah Om nafsu sama aku," Vanya pun bergidik ngeri.


Mendengar apa yang di katakan oleh Vanya membuat Riki merasa tertantang, sejak kapan anak bau kencur menjadi seleranya.


"Kau bukan seleraku, ayo aku buktikan!" Tantang Riki.

__ADS_1


Vanya pun memicingkan kedua matanya, seakan sedang mengintimidasi seorang Riki. Tapi sepertinya benar, pria tua itu tidak tertarik padanya sama sekali.


__ADS_2