Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak seperti dibayangkan..


__ADS_3

Pagi ini hujan rintik-rintik yang turun membasahi bumi. Cuaca cukup mendung dan juga di dingin.


Tetapi tidak dengan Riki.


Wajahnya begitu berbinar, karena apa?


Tentunya karena akan bepergian bersama dengan Vanya.


Tetapi saat berhenti di lampu merah tanpa sengaja Riki melihat seorang anak bau kencur yang disebut Vanya sebagai kekasihnya.


Tapi tunggu dulu, mengapa ada seorang wanita yang di boncengnya. Bahkan begitu mesra.


"Itu Renita bukan?" Riki cukup mengenali Renita sebab wanita tersebut sudah bekerja dengan dirinya selama beberapa tahun ini.


Menjadi sekretaris yang cukup baik dan juga bisa di andalkan dalam berbagai hal.


Dengan segera Riki pun mengarahkan kamera ponsel mengambil sebuah gambar. Sebetulnya Riki tidak pernah perduli pada hal seperti ini.


Namun, tidak dengan kali ini.


Karena menyangkut tentang Vanya, seorang yang mampu membuatnya tertarik dan merasakan sebuah kenyamanan.


Lagi pula foto tersebut bisa menjadi bukti jika pria itu menduakan Vanya.


Riki akan lebih bersyukur jika saja keduanya bisa putus hubungan hanya karena melihat foto tersebut.


Artinya untuk kali ini dirinya tidak perlu repot-repot untuk membuat Vanya dan juga kekasihnya itu berakhir.


Karena apa?


Karena dengan sendirinya juga akan berakhir mungkin juga hanya tinggal menunggu detik-detiknya saja.


Riki pun akhirnya menepikan mobilnya di depan gerbang rumah sederhana. Vanya yang sudah menunggu di teras pun bergegas untuk memasuki mobilnya.


"Hay Om," Vanya menyapa dengan suara riangnya tetapi mungkin kebahagiaan itu akan lenyap jika saja tahu tentang kekasihnya yang sedang bersama dengan seorang wanita.


"Apaan sih Om? Ngeliatin aja! aku emang cantik Om. Tapi biasa aja!"


Vanya kesal karena Riki bukannya segera melajukan mobilnya malah hanya diam saja menatap dirinya.


Baiklah, Riki pun segera melajukan mobilnya. Tanpa perduli mulut Vanya yang terus saja berbicara tanpa hentinya.


"Sebenarnya aku malas banget pergi sama Om. Tapi karena pacar aku sedang ada urusan. Terpaksa aku pergi sama Om," jelas Vanya dengan panjang lebar.


Riki melirik Vanya dan mengangkat sebelah alisnya. Sesaat kemudian kembali melihat ke depan, karena dirinya sedang mengemudikan mobil.


"Ada urusan?" Tanya Riki yang tampak mulai penasaran dengan topik pembicaraan Vanya.


"Iya, kalau nggak malas banget pergi sama Om. Lagian juga cuma hari ini waktunya, besok udah harus ke sekolah sama Tante Sela, lagian hari ini Tante Sela juga ke rumah kerabat jauhnya katanya"


Riki tidak perduli pada penjelasan Vanya tentang kedua orang tuanya karena sudah tahu kemana keduanya pergi hari ini.


Hanya saja Riki ingin menunjukkan sesuatu pada Vanya hingga sejenak Riki pun menepikan mobilnya.


"Kok, berhenti sih Om!" Vanya sudah tak sabar untuk sampai di Mall, tangannya sudah gatal sekali karena ingin segera memilih barang-barang yang akan dia bawa pulang.


Tetapi malah Riki berhenti di jalan begini hanya membuang-buang waktu saja.


Kapan akan sampai di Mall jika begini.

__ADS_1


"Lihat!" Riki memberikan ponselnya pada Vanya, semoga gadis ini mengerti jika tengah di bohongi oleh kekasih tercintanya tersebut.


Sedangkan Riki tersenyum menantikan detik-detik Vanya akan menangis histeris. Kemudian memutuskan kekasihnya detik ini juga.


"Apaan sih!"


"Lihat!"


Dengan segera Vanya pun melihatnya karena tak ingin semakin memperlambat waktu. Lebih cepat mengikuti kemauan Riki maka akan lebih cepat pula melanjutkan perjalanan menuju Mall.


Hingga Vanya pun melihat wajah Rangga bersama dengan seorang wanita yang di boncengnya. Mata Vanya pun membulat seketika itu, bagaimana bisa Rangga membohongi dirinya. Padahal pada kenyataannya pergi bersama dengan seorang wanita.


Vanya pun mencoba untuk menghubungi Rangga. Tetapi tidak bisa karena ponselnya sepertinya di matikan.


Riki pun tersenyum penuh kemenangan saat seperti ini bisa mengambil kesempatan.


Lagi pula semoga saja tak ada lagi laki-laki lain yang mendekati Vanya selain dirinya setelah ini.


Sehingga Riki tak perlu bersaing dengan laki-laki manapun selain berfokus pada tujuannya untuk mendapatkan Vanya.


"Om!" Vanya pun menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Riki.


Hingga pria itu pun tersadar dari lamunanya.


Sebab, Riki memang berkhayal tentang Vanya yang menangis karena kecewa pada Rangga.


Namun, nyatanya malah Vanya yang menganggap Riki tidak waras karena senyum-senyum sendiri.


"Apaan sih? Om lagi mikirin apa?" Tanya Vanya penasaran.


"Nih ponselnya," Vanya pun mengembalikan ponsel Riki bahkan setelah melihat gambar Rangga dan seorang wanita yang di boncengnya di lampu merah pada ponsel tersebut.


Wanita itu benar-benar biasa saja tanpa ada kemarahan sama sekali seperti apa yang dibayangkan oleh Riki.


"Kamu nggak marah?" Rasa penasaran pun kian semakin menjadi-jadi membuat Riki segera bertanya agar tak terus penasaran dibuat oleh wanita aneh di samping ini.


Apa mungkin karena terlalu cinta jadi Vanya tidak dapat marah pada kekasih bocahnya itu?


Vanya pun hanya mengangkat bahunya seakan tidak ada masalah sama sekali. Tujuannya saat ini adalah Mall, bukan yang lainnya? Tapi mengapa Riki malah membahas hal yang tidak penting sama sekali.


"Emangnya kenapa?" Tanya Vanya kembali.


Riki seakan kehabisan kata-kata semuanya benar benar terlihat aneh lagi-lagi semuanya tidak seperti apa yang dibayangkan sebelumnya.


"Om, jalan! aku mau cepat sampai di Mall. Entar barang-barang bagusnya habis loh."


Riki masih saja diam dalam kebingungannya tanpa bergerak sama sekali, apa lagi untuk melanjutkan mobilnya seperti apa yang diperintahkan oleh Vanya barusan.


"Vanya, itu kekasih mu bukan?"


Lagi-lagi Riki bertanya sebelum mendapatkan jawaban yang pasti tak akan pernah bisa tenang.


"Ya ampun Om, banyak tanya benget sih? Cepetan!" Kali ini Vanya yang geram pada Riki.


Karena apa?


Karena pria itu masih saja menepikan mobilnya semakin membuat emosi Vanya meninggi saja.


Sedangkan bayang-bayang tas branded keluaran terbaru sudah terngiang-ngiang di kepalanya.

__ADS_1


Bagaimana jika tas itu di ambil orang terlebih dahulu.


"Jawab dulu!"


"Iya! Itu adalah pacar aku. Namanya Rangga. Dan itu Kak Renita, Kakak sepupunya Rangga"


Vanya pun segera menjelaskan agar tidak lebih lama lagi berada di sana.


Sekarang apa lagi yang ingin di tanyakan oleh Riki, karena semuanya rasanya sudah jelas.


"Kakak?" Riki masih saja bertanya padahal Vanya sudah menjelaskan segalanya.


"Iya, cepetan jalan!"


"Itu tidak mungkin, lihat saja mereka mesra begitu!!


"Otak Om aja nggak bagus"


"Pacar mu itu selingkuh!" Papar Riki lagi dengan kesal, sebab Vanya belum marah sama sekali seperti apa yang dipikirkan olehnya. Padahal Riki sudah membayangkan jika keduanya akan putus. Tapi semuanya ternyata sia-sia, apa yang diimpikan olehnya pun tidak akan jadi nyata.


"Om, itu Kak Renita. Rangga udah ijin ke aku hari ini nganterin Kak Renita ke luar kota. Bahkan, aku juga pernah ketemu sama Kak Renita!" Terang Vanya dengan jelas.


"Benarkah?" Riki menggaruk alis matanya karena rasanya tidak mungkin bisa begitu mesra dengan Kakak sepupunya sendiri.


Lantas bagaimana dengan penjelasan Vanya barusan?


Ini sangat membingungkan andai saja tidak ada hubungannya dengan Vanya sudah pasti Riki tak akan mau memikirkan hal seperti ini.


"Om, mau nganter atau aku naik taksi aja!"


Riki pun segera menyalakan kembali mesin mobilnya, kemudian melajukan menuju Mall seperti apa yang diinginkan oleh Vanya.


Hingga akhirnya keduanya pun sampai, Vanya langsung saja turun.


Tak lupa memakai masker, karena apa?


Karena tak ingin tiba-tiba malah bertemu dengan orang yang mengenalinya.


"Kenapa pakai masker?"


"Kepo banget sih Om!"


Bukannya jawaban yang didapat oleh Riki malah omelan.


Karena, Vanya tak ingin mengatakan penyebab utamanya memakai masker.


"Aku baru perawatan, nggak mau nanti wajah aku kena debu!"


"Ini di Mall bukan di jalan raya.


"Bodo amat! Berisik! Cepetan!" Dengan cepat Vanya memegang tangan Riki, kemudian menarik kemana saja sesuai dengan keinginan dirinya.


Sedangkan Riki mendadak diam melihat tangan Vanya yang menggenggam erat tangannya.


Meskipun sebenarnya Vanya hanya tidak sabar untuk berbelanja tetapi Riki begitu bahagia.


Kurang ajar, bocah ingusan itu benar-benar membuatnya hampir gila.


Kapan bisa memiliki dengan sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2