Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Dia lebih membutuhkan pria itu dari pada kita!


__ADS_3

"Kenapa kamu mencintainya?" Tanya Ana.


Oma Ana selama ini hanya menyaksikan saja, seakan menjadi penonton diantara mereka yang tengah terlibat ketegangan.


Namun, pada malam ini dirinya mendatangi kamar cucunya itu dan bertanya secara langsung. Sebenarnya disini hatinya merasa iba akan cucunya yang mencintai seorang duda.


"Oma," Vanya pun memeluk Ana dengan eratnya, dirinya tidak tahu harus memeluk siapa selain Omanya tersebut.


Semuanya benar-benar begitu menentang hubungannya dengan Riki, sehingga tidak ada satupun yang bisa dijadikan sebagai teman berbicara.


Ana mengusap kepala Vanya, dirinya tahu cucunya itu sedang butuh seseorang untuk bersandar.


"Kamu sangat mencintainya?" Tanya Ana tiba-tiba.


Vanya terdiam sejenak, namun anggukan kepala cukup menjadi jawaban yang meyakinkan.


"Kenapa?" Tanya Ana lagi.


"Nggak tahu Oma, tapi aku sayang sama dia," hati memang tidak dapat berbohong, meskipun hubungan ini dipenuhi dengan penentangan dari orang tua.


Andai saja bisa, Vanya juga ingin menyudahi semuanya, namun apa daya. Semakin menyudahi semuanya semakin rumit sehingga Vanya lebih memilih untuk berdiri tegak dan memperjuangkan cintanya, meskipun yang menjadi tantangannya adalah keluarnya sendiri.


Itulah yang dilakukan oleh Ana saat ini, memeluk Vanya dengan penuh kehangatan agar bisa menenangkan keadaan.


"Begitu," Ana sendiri merasa kasihan terhadap Vanya, tampaknya cinta cucunya itu cukup besar pada kekasihnya itu.


Lagi-lagi Oma Ana mengusap punggung Vanya, berusaha untuk memberikan kekuatan.


"Kalau kamu benar-benar mencintainya, sebenarnya Oma bisa sedikit membantu."


Apa yang dikatakan oleh Ana membuat Vanya tercengang, dirinya juga bingung dengan maksud dari ucapan tersebut.


"Oma serius," kata Oma Ana lagi dengan yakin.


Vanya pun hanya diam saja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Omanya itu bahkan mungkin Vanya sampai kehilangan kata-kata setelah mengetahui sesuatu hal yang cukup membuatnya menjadi hampir tidak bisa bernapas.


"Oma serius?" Tanya Vanya setelah Oma Ana selesai bercerita.


Bercerita sedikit tentang masa lalu yang cukup membuat Vanya terkejut.


Oma Ana pun mengangguk karena apa yang dikatanya benar adanya.


Vanya pun terdiam menimbang apa yang dikatakan oleh Oma Ana, benar-benar semua ini diluar dugaannya.

__ADS_1


Sampai tiba-tiba pintu pun terbuka, tampak Devan di sana.


"Apa kau ingin mempermalukan Ayahmu dihadapan duda kurang ajar yang kau cintai itu?" Tanya Devan secara langsung.


Sementara Nayla menyusul dari belakang tubuh kekar suaminya itu.


"Oma, pergi dulu," Oma Ana pun memutuskan untuk keluar dari dalam kamar Vanya.


Kali ini hanya Devan yang menatap putrinya dengan tajam, sementara Nayla hanya menjadi saksi di sana.


Di satu sisi Nayla ingin anaknya bahagia tapi tidak dengan Riki yang jelas jelas sangat suka berganti-ganti wanita, sementara ingin pula meredam amarah Devan, namun begitu sulitnya hingga bingung harus melakukan apa.


"Jawab!" Bentak Devan.


Vanya tersentak ketika.


"Ayah jahat, Ayah nggak sayang sama aku!" Kesal Vanya, kemudian naik ke atas ranjang dan menarik selimut seperti biasanya saat sedang kesal pada Devan.


Bahkan Vanya baru sadar kalau Ninda sahabatnya tidak ada di sana, mungkin saja sudah pergi sejak tadi.


Tentu saja sahabatnya itu pergi karena pastinya takut melihat kemarahan seperti saat ini.


"Vanya, untuk malam ini semua harus diselesaikan. Lihat Ayah, jangan lagi berhubungan dengan laki-laki itu!" Tegas Devan tanpa ingin dibantah sama sekali.


"Vanya!"


Vanya pun melempar selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian berdiri di hadapan Devan.


Devan memang tidak mungkin bisa kasar pada putrinya itu, tetapi saat ini tatapan mata Vanya seakan menantangnya tanpa rasa takut sama sekali.


"Apa ini yang diajarkan oleh pria duda itu? Sadar atau tidak kau sudah berani melawan orang tua mu!" Papar Devan penuh kemarahan merasa Riki semakin membawa pengaruh buruk terhadap putrinya.


"Ayah, kita ke kamar ya. Udah malam," Nayla mengusap lengan suaminya berharap semuanya disudahi saja, sebab dirinya benar-benar tidak bisa melihat pertengkaran Ayah dan anak yang tidak kunjung usai sampai kini.


"Anak ini harus diberi pelajaran, semakin hari semakin kurang ajar!" Devan pun menunjuk wajah putrinya tersebut, rasanya menjengkelkan sekali dan ingin membuat putrinya itu sadar.


"Ayah, aja yang aneh. Mikir buruk terus tentang orang lain. Memangnya kalau dia pernah jahat apakah tidak ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik? Salahkah jika ada orang yang ingin menjadi lebih baik?"


"Dia pria kurang ajar Vanya, dia sudah pernah beristri, belum lagi dia itu sudah banyak bermain wanita!" Jelas Devan ingin anaknya itu membuka matanya lebar-lebar dan sadar bahwa Riki tidak seperti yang dipikirkan oleh Vanya.


Vanya pun terdiam sejenak, kemudian menatap Devan kembali.


"Apa salah dia pernah menikah dan menjadi duda? Apa salah seorang duda menikahi seorang gadis?" Kali ini Vanya yang mengutarakan pertanyaan pada Devan.

__ADS_1


Seakan dirinya ingin melihat apa yang dikatakan oleh Devan saat ini.


"Begitu banyak lelaki di dunia ini yang jauh lebih baik, kenapa harus dia? Dia sudah duda!" Tidak tahu lagi harus menjelaskan dengan cara seperti apa, tetapi semuanya memang benar-benar membuat perasaan campur aduk.


"Kenapa dulu Bunda mau menikah dengan Ayah, padahal Ayah memiliki istri?"


Degh!


Devan seketika melihat Vanya dengan berapi-api, seakan putrinya itu semakin lancang saja sampai disini.


"Apa maksud mu?" Tanya Devan kembali.


"Dibandingkan dengan duda gila yang Ayah sebut itu, mana yang lebih kurang ajar. Dia yang sudah jelas duda dan ingin menikahi wanita masih gadis ataupun seorang pria yang sudah memiliki istri. Tetapi, menikahi wanita lain lagi. Bahkan, awalnya tidak mau menceraikan salah satunya, serakah bukan? Apakah selamanya pria itu dalam kejahatan-kejahatan nya? Atau sekarang sudah lebih baik setelah merasa menemukan cinta sejatinya"


Plak!


Tangan Devan melayang begitu saja, hingga akhirnya mendarat pada wajah Vanya.


Bahkan untuk pertama kalinya tangannya melayang di pipi putri kesayangannya itu.


Sementara itu Vanya memegang pipinya yang terbawa ke samping, rasanya begitu luar biasa.


Vanya pun menitihkan air matanya.


Sementara Nayla menutup matanya sejenak setelah melihat apa yang terjadi barusan.


Mengapa keluarganya jadi seperti ini, semuanya seakan begitu rumit.


Tidak lagi ada kebahagiaan, semuanya benar-benar berubah menjadi ketegangan.


"Ternyata Ayah nggak sebaik yang aku pikirkan!"


"Pergi dari sini!" Devan pun menunjukan pintu keluar, dirinya benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.


Sementara Vanya langsung menyambar ponselnya pada meja, kemudian segera pergi tanpa membawa apapun.


"Vanya!" Nayla pun mengejar putrinya tersebut, dirinya tidak ingin Vanya pergi.


"Biarkan saja dia pergi, dia lebih membutuhkan pria itu dari pada kita!" Kata Devan.


Vanya pun sejenak melihat Devan, kemudian melihat Nayla.


Setelah itu benar-benar pergi, meskipun Nayla terus saja memanggilnya dengan suara keras dan diiringi dengan isak tangis.

__ADS_1


"Vanya!"


__ADS_2