
Beberapa Bulan kemudian.
Devan dan Nayla tampak bahagia dengan anak-anak mereka. Begitu juga dengan Aditya, dua anak laki-laki sudah mampu menambah betapa kokohnya pernikahan mereka yang awalnya hanyalah sebuah jebakan dari Aditya sendiri. Beralih lagi pada Alex dan Jessica, kini mereka tampak lebih bahagia setelah mengarungi badai rumah tangga yang menerjang.
Semua tampak indah dengan hadirnya dua orang anak, satu laki-laki yang bernama Alvaro dan satu perempuan yang di beri nama Cahaya.
"Daddy!" Seru Cahaya saat Alvaro buang air tepat di atas pangkuan nya.
Gaunnya yang baru saja di beli oleh Puput seketika kotor. Cahaya pun menangis kesal karena dirinya sangat menyukai gaun barunya itu.
"Aduh sayang," Jessica pun mengambil putra bungsunya.
Kini berat badan Alvaro sudah terbilang normal, terlebih lagi Alex sudah mencarikan ahli gizi terbaik untuk putranya. Saat Cahaya sedang kesal pada adiknya tiba-tiba saja Reyna datang.
"Tante," Cahaya pun menunjukkan gaunnya yang basah karena sang Adik pada Reyna.
"Alvaro nakal."
Reyna ingin memeluk Cahaya tetapi dirinya malah muntah karena tidak kuat dengan bau nya.
"Huuueekkk," Reyna pun berlari menuju kamar mandi dan melanjutkan muntah nya di sana.
"Kama masuk angin?" Tanya Puput yang menyusul putrinya ke dalam kamar mandi.
"Kayak nya Ma, dari kemarin mual terus. Gimana lagi akhir-akhir ini aku nggak suka bau nasi," kata Reyna kemudian memeluk Puput.
"Badan mu juga panas sekali, ayo istirahat. Biar Kak Alex yang memeriksa nya."
Reyna pun menurut, kemudian menuju kamar.
Kamar tersebut adalah kamar miliknya sewaktu masih belum menikah dan kini pun tetap menjadi kamarnya jika sedang pulang ke rumah orang tuanya tersebut. Tidak lama kemudian Alex pun datang dan memeriksa keadaan adiknya.
"Kamu hamil, tiga minggu mungkin usianya, bisa ke rumah sakit untuk hasil pastinya," jelas Alex.
"Kak, jangan asal ngomong dong!" Reyna merasa Alex tidak lagi menjadi Dokter hebat, sebab sudah pasti dirinya tidak hamil apa lagi baby Raka masih berusia tiga bulan.
Dirinya masih ingin mencurahkan kasih sayang untuk baby Raka, minimal sampai putranya itu bisa berjalan.
"Kau yang hamil, Dokter yang disalahkan! Salahkan suami mu!" Alex pun segera pergi, meninggalkan Reyna yang masih kesal pada Nanda yang sudah membuatnya hamil begitu cepat.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?" Terdengar suara Nanda dari ambang pintu.
Reyna pun menoleh, ternyata benar Nanda yang datang.
"Kok di sini? Bukannya dinas?" Tanya Reyna bingung.
"Iya. Tapi sudah selesai, kata Mama kamu sakit, Mama baru saja menghubungi aku," ujar Nanda sambil melangkah masuk.
"Mama keluar dulu," Puput pun berpamitan ke luar, karena tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anak menantunya itu. Pintu pun tertutup rapat, tinggal lah Nanda dan Reyna saja.
Sesaat kemudian Reyna menangis kencang hingga membuat Nanda kebingungan.
"Kamu kenapa?" Tanya Nanda panik, sambil menaiki ranjang agar lebih dekat dengan istrinya. Reyna pun mengambil bantal dan memukuli Nanda dengan membabi buta.
"Hey! Ada apa?" Nanda pun melindungi diri dengan tangannya yang menyilang di depan wajah. Tentu saja tidak mengerti mengapa istrinya melakukan itu padanya, merasa tidak memiliki kesalahan apapun.
"Kamu kenapa? Aku salah apa?" Tanya Nanda lagi.
Reyna pun menghentikan aksinya, menatap Nanda dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Kamu kenapa?" Tanya Nanda untuk yang ke tiga kalinya.
"Aku salah apa?" Nanda pun merebut paksa bantal dari tangan Reyna, kemudian segera meloncat turun dari ranjang. Reyna kembali menangis tanpa hentinya, berteriak kesal pada Nanda.
"Ini gara-gara kamu! Aku udah pakai KB kamu bilang nggak enak! Sekarang aku hamil!" Seru Reyna.
"Kamu hamil?" Nanda pun terkejut mendengarnya, sejenak berpikir bahwa Raka masih terlalu bayi untuk memiliki adik.
"Iya! Gara-gara kamu! Kamu nggak mau pakai alat kontrasepsi juga! Sekarang aku hamil!" Reyna pun melemparkan selimut pada Nanda. Sebab tidak ada benda yang bisa di gunakan untuk melempar suaminya tersebut
"Kenapa kamu nyalahin aku?"
"Kan kamu yang buang di dalam! Udah aku bilang keluarin! Kamu marah!" Teriak Reyna lagi dengan kencangnya.
"Kamu juga keenakan sudah hamil menyalahkan aku!"
"Dasar laki-laki, di mana-mana selalu sama!" Reyna pun tidak mau kalah terus saja memarahi Nanda tanpa hentinya. Merasa Nanda adalah orang paling bersalah dalam hal ini.
"Memangnya kamu sudah mencoba berapa lelaki? Sok tahu!"
__ADS_1
"Kamu nuduh aku murahan!" Kali ini Reyna pun turun dari atas ranjang kesal pada Nanda pun semakin menjadi-jadi.
"Dasar perempuan!"
"Kenapa dengan perempuan?" Reyna pun berkacak pinggang menatap Nanda penuh permusuhan.
"Tidak ada! Lagi pula kenapa kalau hamil? Kamu kan punya suami!" Terang Nanda.
Reyna pun terdiam menyadarinya, kemudian kembali menatap Nanda.
"Iya sih," Reyna pun menggaruk kepalanya.
"Tapi Raka masih terlalu kecil!" Kata Reyna lagi.
"Sudah jadi kan Umi? Nggak mungkin kita nolak, kasihan dia nya," jelas Nanda lagi.
Reyna pun merasa lemas, kemudian duduk di sisi ranjang. Nanda yang melihat emosi Reyna pun mereda ikut duduk di samping Reyna.
"Raka masih kecil banget, kemarin itu aku udah pasang IUD kamu bilang nggak enak! Aku kesal banget sama kamu!"
"Ya gimana, kamu istri ku!"
"Udah ah! Mulai sekarang pegang sendiri itu burung, aku nggak mau" Reyna kesal dan memanggungi Nanda.
Nanda pun memilih merebahkan dirinya di atas ranjang, sebab istrinya itu tampak nya sedang dalam mode sensitif. Nanda sudah berpengalaman tentang istri nya yang sedang hamil.
"Kamu gimana sih! Aku lagi sakit, bukannya di pijat atau apa? Dasar nggak peka!"
Nanda pun hanya diam dan menarik Reyna untuk berbaring di samping nya, memijat kepala istrinya tersebut dengan penuh kelembutan.
"Kok, aku bisa hamil lagi ya. Jaraknya itu dekat banget," tanya Reyna.
"Rezeki," kata Nanda dengan senyuman.
"Bukan rezeki aja, tapi keseringan olahraga!"
"Abis enak."
"Ahahahha," keduanya pun tertawa terbahak-bahak. Tapi mau bagaimana lagi, bertengkar pun hasilnya sama saja.
__ADS_1
Lagi pula anak adalah anugerah yang terindah. Bukankah dulu Reyna menangis terus-menerus saat bertahun lamanya menikah tapi belum juga memiliki anak.