
Adnan tersenyum melihat Rena yang menurut pada setiap apa yang dikatakannya, tidak memungkiri kecantikan Rena mampu meluluh lantakkan dunianya seketika.
Sayangnya wanita yang kini di sampingnya adalah calon Kakak iparnya mungkin Adnan bisa belajar untuk menyayangi Rena layaknya keluarga.
Beberapa saat kemudian, udara segar mulai terasa.
Adnan pun menepikan mobilnya menatap kebun teh yang terbentang indah dengan luasnya.
Kebun teh tak lain adalah milik Devan sendiri yang kini diwarisinya.
Tapi sayang, indahnya pemandangan tersebut tidak sebanding dengan indahnya wajah seorang wanita yang kini tertidur di sampingnya.
Rena.
Rena jauh lebih indah dari segala yang pernah di temui selama hidupnya.
Adnan pun terus menatap wajah Rena tanpa ingin beralih melihat yang lainnya, wajah Rena seketika mengalihkan dunianya.
Adnan pun mencoba untuk memegang wajah Rena, memandangi lebih dekat dengan penuh kekaguman tanpa jeda.
Sampai akhirnya mata Rena pun terbuka, sejenak Rena terdiam melihat wajah Adnan yang begitu dekat dengannya.
Tatapan mata yang saling bertemu seakan merasa bingung bertanya tentang perasaan yang kian terasa tidak karuan. Detak jantung yang berdebar kencang kian semakin menjadi-jadi. Entah rasa apa itu, tapi keduanya seakan tidak ingin menjauh. Tidak ingin beralih, dan tidak ingin lebih jauh dari ini.
Hati mengatakan cinta yang bersemi begitu indah, tanpa kompromi dan tanpa terkecuali.
Aku mencintai mu.
Begitu pun harapan ku, kamu mencintai ku.
Sayang semua itu hanya hati yang berbicara, bibir hanya diam.
Bungkam tanpa kata.
Menyimpan perasaan yang penuh dengan tanya.
__ADS_1
Andai saja dunia bisa diatur, hidup bisa dengan pilihan, makan Adnan hanya ingin bersama dengan Rena.
Berdua tanpa ada cinta ketiga bahagia dalam mahligai rumah tangga.
Memiliki banyak anak dan juga cucu hingga menua, biarlah rambut hitam memutih.
Menyaksikan perjalan cinta yang begitu indah dengan segala perjuangannya.
Sampai akhirnya keduanya pun tersadar setelah lama saling memandang kagum satu sama lainnya.
Keduanya pun mendadak merasa canggung, beralih menatap sekitarnya seakan berusaha menormalkan irama jantung.
"Kita sudah sampai?" Tanya Rena dengan suara pelan.
Ragu bertanya karena menyadari keduanya barusan begitu dekat.
"Iya," Adnan pun mengangguk membenarkan.
Kemudian keduanya kembali diam seakan kehabisan kata-kata.
Sampai akhirnya hujan pun turun dengan derasnya, seketika Rena menunjukan raut wajah kecewa.
"Padahal ini masih sore," kata Rena lagi.
"Kita tunggu hujannya reda," Adnan pun tidak ingin membuat Rena bersedih.
Kebahagiaan Rena adalah segalanya, Adnan ingin melihat senyuman manis wanita yang terus di pujanya itu. Sehingga ingin terus membuatnya bahagia.
Sesaat kemudian hujan semakin deras, rasa dingin pun mulai terasa.
Rena yang belum pulih seratus persen merasa dingin, Adnan pun mengambil jaketnya yang diletakkan di jok belakang.
Kemudian menyelimuti tubuh Rena, berharap dengan begitu bisa membuat tubuh Rena lebih hangat.
Rena yang merasa hangat saat Adnan memakaikannya jaket pun merasa bahagia, walaupun begitu tetap saja menyembunyikan senyuman yang begitu indah.
__ADS_1
Adnan kembali memandang wajah Rena, wajah wanita yang dicintainya.
"Makasih," kata Rena, Adnan pun tersenyum kemudian menjauh dan melihat keluar. Menyaksikan hujan yang kian semakin lebat saja. Keduanya hanya diam dalam kecanggungan yang melanda.
Rena yang tidak tahu harus berbicara apa, sedangkan Adnan menyadari Rena adalah calon Kakak iparnya.
"Bagaimana skripsi mu?" Adnan pun mencoba untuk mencairkan suasana menjadi lebih hangat, mungkin dengan sedikit berbasa-basi.
"Aku membutuhkan bantuan mu," jawab Rena dengan suara bergetar.
Tapi, suara Adnan saja membuatnya tidak karuan.
Mengapa rasa itu baru terasa, dari dulu kemana saja?
Rena benar-benar tidak mengerti, mengapa rasa itu hadir di saat Adnan sudah memiliki wanita yang dicintainya.
Jika saja bisa, Rena sangat berharap untuk memiliki Adnan.
Perhatian Adnan, ketampanan Adnan, kenyamanan yang diberikan Adnan seakan membuatnya menjadi wanita paling bahagia.
Percayalah jika memang bisa dicintai Adnan mungkin Rena adalah manusia paling bahagia di dunia ini.
"Itu gampang saja sebenarnya, asalkan kamu mau berusaha."
"Iya."
Adnan pun kembali melihat keluar.
"Hujannya makin deras, kita ke vila saja," Adnan pun memilih untuk beristirahat di vila.
Vila milik keluarga, tidak lupa Adnan memperingatkan pekerja di sana untuk tidak memberitahu pada Devan tentang keberadaan nya dan Rena di vila.
"Hari semakin gelap sedangkan hujan semakin deras. Kita istirahat di sini saja," pinta Adnan.
Rena pun menatap sekitarnya merasa nyaman berada di tempat tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak masalah," Rena tidak ingin kembali, di rumah hanya mendapatkan teror yang selalu membuatnya ketakutan.
Rena ingin untuk malam ini saja diberikan waktu untuk beristirahat sejenak, memulihkan tenaga yang terkuras.