
Keesokan harinya.
"Ya ampun, gini amat nasib ku," Vanya terus saja menggerutu kesal karena pekerjaannya tidak juga selesai sampai saat ini. Menjadi seorang cleaning service bukanlah cita-citanya. Karena cita-citanya adalah menjadi seorang guru, tapi apa daya yang terjadi justru begitu sulit untuk di tebak. Sebab kini masih terus menjalani hukumannya sebagai orang biasa, bahkan di perusahaan milik Kakaknya sendiri. Sampai tiba-tiba ada yang menyenggol ember berisi air pel yang membuat lantai menjadi basah seketika itu juga. Vanya seakan berubah menjadi seekor serigala yang siap memangsa manusia yang sudah lancang mengganggunya. Lelahnya kini semakin menjadi-jadi, pekerjaan yang hampir selesai malah semakin banyak karena ulah orang lain.
"Kamu punya otak nggak sih? Kamu nggak lihat ini ember? Mata kamu di mana?"
"Apa hubungannya otak sama ember?" Tanya pria tersebut.
"Kamu itu benar-benar menjengkelkan!" Vanya melemparkan pel di tangannya hingga akhirnya melayang di udara.
Beruntung Riki bisa mengelak.
"Kau wanita atau laki-laki?" Riki mendadak bingung dengan OG tersebut.
"Maksud mu?" Seru Vanya semakin terbakar kemarahan.
"Dasar wanita jadi-jadian!" Riki pun segera pergi, menuju ruang Felix seperti tujuan awalnya.
Sedangkan Vanya menatapnya dengan tajam, suatu hari nanti pria itu akan menyesal setelah tahu kalau dirinya adalah Vanya Devan Bima Putra, putri dari Devan Bima Putra!
Bendera perang pun di kibarkan, Vanya menahan sampai masa hukumannya selesai. Sedangkan Riki merasa pernah melihat wanita OG tersebut, tetapi siapa dirinya juga tak tahu pasti. Sejenak kemudian membuang pikiran sebab banyak wanita yang di temuinya selama ini.
Riki memang seorang pria pencinta wanita selama wanita tersebut seksi maka tidak akan pernah bisa di lepaskan sebelum di rasakannya.
"Hay pengantin baru," Riki pun meloncati meja kerja Felix, kemudian memeluk sahabatnya penuh dengan rasa bahagia.
"Kurang ajar!" Felix mendesus kesal, bukan karena Riki yang mengganggu pekerjaan nya. Melainkan karena Riki baru muncul dan tak hadir di acara pernikahannya.
"Maaf, aku tidak datang. Mama harus di berangkatkan ke Singapura untuk melakukan operasi karena kanker payudara yang di deritanya semakin ganas, " jelas Riki.
Felix yang awalnya ingin marah mendadak menjadi prihatin, dirinya meredam kemarahan yang hampir saja menghajar sahabatnya itu.
"Aku turut prihatin, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih harus kemoterapi di sana dan aku pulang ke sini untuk memberikan selamat secara langsung," Riki pun meraih tangan Felix, rasa bahagia tak pernah lepas walaupun temannya yang menikah.
Felix pun tersenyum dan keduanya berpelukan ala-ala laki-laki cool.
"Tidak masalah, tapi apakah hanya selamat saja. Tidak ada hadiah?" Seloroh Felix.
"Benar, hampir saja aku lupa beruntung kau mengingatkan aku," kata Riki. Kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya. Meletakkan pada telapak tangan Felix.
Sesaat kemudian tampaklah apa yang di berikan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Felix tertawa tetapi menendang kaki Riki, karena hadiah yang di berikan oleh Riki adalah obat kuat dan sebuah alat uji kehamilan.
"Ahhahha," keduanya pun tertawa terbahak-bahak, karena kebahagiaan ini benar-benar begitu tulus tanpa ada yang iri.
"Apa kau tidak berencana untuk serius pada satu wanita? Tidakkah kau lelah terus berpetualang dengan wanita-wanita yang tidak jelas itu?" Tanya Felix.
Mengingat Riki bukan lagi seorang pria bau kencur, melainkan pria duda dewasa yang suka berganti-ganti wanita. Rasanya di usia yang sudah matang ini sudah waktunya untuk sesuatu yang serius.
"Kan sudah pernah aku katakan, untuk apa memiliki satu wanita jika banyak wanita yang bisa ku miliki?" Kata Riki dengan senyuman.
"Dasar casanova kurang ajar!" Umpat Felix.
Bukanya marah Riki justru tertawa, bahkan sampai menggelegar di ruangan kedap suara tersebut.
"Baiklah, aku pulang dulu. Aku harus melihat wanita liar ku dulu di luar sana," Riki pun keluar dari ruangan Felix.
Kemudian kembali bertemu dengan seorang wanita yang beberapa saat lalu juga di temuinya.
"Apa!" Vanya menendang ember berisi air hingga membuat Riki terkena percikkan air.
"Dasar wanita aneh! Kau hanya OG di sini tapi belagu sekali!" Tatapan Riki begitu tajam seakan siap mencekik wanita gila di hadapannya.
"Kamu pikir, aku takut!" Vanya menunjukkan dua jarinya seakan siap mencongkel kedua bola mata Riki.
"Dasar gila!" Riki pun menendang ember kembali hingga mengenai Vanya.
"Wah, ngeri," ejek Vanya dengan senyuman miring.
Siapa Riki berani mengatakan bahwa dirinya akan di pecat, tidakkah tau kalau dirinya anak Devan?
Ah, lupakan kalau Devan adalah Ayahnya. Sebab, selama ini Devan memang selalu menutupi identitasnya di luar sana.
Tapi kali ini Vanya akan menuntut haknya, hak agar di akui sebagai anak.
"Aku yang akan membungkam mulut mu jika kau tahu siapa aku!" Kata Vanya dengan penuh kekesalan.
"Dasar, wanita aneh!" Riki pun melenggang pergi tak ingin terus berbicara dengan wanita di hadapannya tersebut.
"Cukup sudah aku seperti anak tiri, kali ini aku harus menuntut apa yang menjadi hak ku!" Dengan bersemangat Vanya pun segera menemui Devan.
Devan dan Nayla yang sedang asik menonton televisi di ruang keluarga mendadak terkejut mendengar suara Vanya yang berteriak.
"Ayah!" Napas Vanya naik turun, menatap Devan dan Nayla secara bergantian.
__ADS_1
"Apa lagi anak ini?" Tanya Nayla melihat anaknya, sudah pasti akan ada yang aneh setelah ini.
Lihat saja saat ini anaknya itu seperti seorang penantang hebat.
"Kali ini aku tidak takut!" Kata Vanya dengan penuh keyakinan dan membuang rasa takutnya terutama pada Devan, karena kebenaran harus ditegakkan.
Untuk membungkam mulut laki-laki yang ditemuinya di kantor tadi, agar laki-laki itu tahu bahwa dirinya bukan orang sembarangan.
"Ayah, Bunda, aku ingin menuntut hak di sini. Saat ini, detik ini," Tegas Vanya dengan yakin.
"Hak?" Nayla pun bertanya sambil menatap anaknya dengan bingung.
Sedangkan Devan menahan tawa melihat tingkah laku putri kesayangannya yang sedang dalam masa hukuman tersebut, jadi Devan lebih memilih memasang wajah dinginnya. Padahal saat ini Devan ingin tertawa.
"Aku ini Vanya Devan Bima Putra hanya nama ku yang memakai nama Ayah. Kak Adnan tidak, Kak Felix juga tidak. Tapi kenapa aku ini tidak di akui anak oleh kalian?" Akhirnya Vanya merasa lega setelah mengeluarkan pertanyaan tersebut.
"Maksudnya?" Tanya Nayla lagi.
"Aku tidak di akui sebagai anak, aku mau orang-orang tahu kalau aku anak Ayah dan Bunda. Atau....." Vanya pun menggantungkan ucapannya, memicingkan matanya pada Devan.
"Atau apa?" Devan pun bangkit dari duduknya, kedua tangannya berada pada masing-masing saku celananya.
"Atau......" Vanya seketika kehilangan keberanian, wajah Devan memang sangat menegangkan. Tapi tidak, dirinya sudah membulatkan tekadnya, kali ini menyangkut hak keadilan.
Sesaat kemudian melihat Bik Ina yang melintas
"Atau aku jadi anak Bik Ina."
Devan dan Nayla pun menahan tawa, begitu juga dengan Bik Ina yang mendadak menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Neng?" Tanya Bik Ina saat mendengar namanya disebutkan.
"Kau memang anak Bik Ina," kata Nayla sambil terkekeh.
"Bunda!" Vanya menghentakkan kakinya, bukannya pengakuan yang didapatnya malah Nayla mengatakan bahwa dirinya anak orang lain.
Tidak!
Vanya tidak terima, dirinya harus mendapatkan hak seorang anak seperti tujuan awalnya.
"Kalau kalian nggak mau ngakuin aku sebagai anak di hadapan umum, aku mau tinggal di rumah Bik Ina!" Yakin kali ini Devan tak akan setuju dan akan mencabut hukumannya.
Dalam hatinya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Tapi tunggu, Devan tampak hanya diam saja. Sial, malah dirinya yang merasa takut.
"Baiklah, mulai hari ini kamu menjadi anak Bik Ina. Tinggal di rumah Bik Ina, cari uang sendiri, sampai hukuman mu selesai!" Tegas Devan.