Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mau uang lagi?


__ADS_3

"Om!" Vanya pun berseru tepat di depan wajah Riki, hingga membuat duda lapuk tersebut tersadar dari lamunannya. Kembali membetulkan duduknya kemudian bersiap-siap untuk mengemudi.


"Om, musik dangdut," Vanya langsung memutar musik kesukaannya, bernyanyi dan berteriak dengan sesukanya.


Suara cempreng Vanya membuat gendang telinga Riki hampir pecah, meskipun demikian tetap saja Riki terpaksa mendegar dengan perasaan tidak tulus sama sekali.


Percuma saja mengecilkan volume suara karena pada akhirnya Vanya akan kembali menaikan volume sesuai dengan keinginannya bahkan bisa lebih keras dari sebelumnya.


Sesampainya di kantor, Riki merasa lebih baik sebab musik yang hampir membuat gendang telinganya pecah akhirnya tidak lagi terdengar. Malahan merasa perjalanan menuju kantor terasa begitu lama.


"Om, aku ngapain sih di sini? Bosan tau Om!" Vanya pun melemparkan tubuhnya pada sofa, kemudian menghitung berapa jumlah uang yang di berikan oleh Riki pagi tadi.


Riki tersenyum miring melihatnya, baginya wanita di mana-mana sama saja.


Hanya uang dan uang, lihatlah saat ini. Vanya pun sama saja di mana orang miskin akan sangat haus dengan uang.


"Satu, dua, tiga," Vanya begitu fokus dalam menghitung lembaran rupiah di tangannya, tanpa tahu apa yang kini dipikirkan oleh Riki tentang dirinya.


"Kau mau uang lagi?" Tanya Riki membuat Vanya seketika mengangguk dan tersenyum manis.

__ADS_1


"Mau Om. Siapa yang nggak mau uang, orang gila juga mendadak waras kalau sudah di kasih uang"


"Ya, bagus. Aku akan memberimu uang kalau kau menurut pada ku," kata Riki dengan berjalan ke arah Vanya.


Duduk di samping Vanya yang memegang lembaran uang di tangannya.


"Serius Om?" Vanya sangat bahagia jika sudah menyangkut tentang uang, meskipun sebenarnya dirinya sedang bangga karena bisa mendapatkan uang sendiri.


Tanpa tahu apa yang di maksud oleh Riki, sebab selama ini Vanya tidak pernah menghasilkan uang dengan keringatnya sendiri.


Sehingga dirinya merasa bangga saat mendapatkan uang tanpa meminta dari kedua orang tuanya ataupun kedua Kakaknya seperti yang sudah-sudah.


"Nanti aku akan memberi mu uang lagi. Tapi, pijat kepala ku!" Riki pun membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Kemudian menjadikan paha Vanya sebagai bantal.


Vanya setuju saja, menurutnya itu adalah sebuah pekerjaan.


Jasa seseorang yang di gunakan dan kemudian mendapatkan bayaran.

__ADS_1


Lagi-lagi tidak tahu jika di pikirkan Riki saat ini Vanya hanya menginginkan uang meskipun dengan cara menjual dirinya.


Menurut Riki, Vanya hanya sedang berpura-pura polos, karena pada kenyataannya tidak demikian.


Kenyataan uang bisa membeli apa saja termasuk harga diri sekalipun.


"Pijatan aku enak nggak Om?" Vanya pun memijat kepala Riki dengan perlahan, hingga membuat Riki merasa begitu nyaman.


Begitu pun Vanya yang ingin mendapat uang dengan jumlah lebih banyak jadi kepuasan pelanggan adalah keharusan.


Tanpa sadar Riki malah tertidur pulas saat Vanya memijat kepalanya.


"Lah, kok tidur?" Vanya pun terkejut melihat Riki yang tertidur pulas.


Bahkan terdengar ada dengkuran halus yang menyakini bahwa Riki begitu lelap.


Hingga akhirnya dua jam berlalu, Riki masih saja terlelap di tempatnya, membuat Vanya merasa tidak nyaman menahan berat.


Apa lagi tidak bergerak membuat kakinya terasa sakit.

__ADS_1


Saat itu Riki pun terbangun dari tidurnya, kemudian langsung melihat Vanya yang sedang mencari posisi nyaman.


__ADS_2