Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Di usir.


__ADS_3

Malam harinya mata Vanya tidak dapat terpejam, setiap kali mata itu terpejam hanya ada wajah Riki yang melintas di benaknya.


Begitu pun saat terbuka, pikirannya hanya tertuju pada Riki.


Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, tetapi rasanya sangat tidak nyaman sama sekali.


Bahkan Ninda sampai kesal karena Vanya yang bergerak terus-menerus membuat tidurnya terganggu.


Sangat-sangat terganggu akibat Vanya yang aneh.


"Woy, kok grasak-grusuk nggak jelas. Tidur, udah malam nih!" Ninda pun menunjukan jam dinding.


Vanya pun tersadar ternyata sudah hampir subuh saja.


Ya, ampun ada apa dengan seorang Vanya.


Benar-benar tidak habis pikir kenapa bisa terus-terusan memikirkan seorang duda lapuk.


Percayalah saat Riki menceritakan akan masa lalunya membuat hati Vanya merasa kasihan.


Ternyata alasan Riki menjadi seorang duda karena di khianati oleh istrinya.


Bahkan pengkhianat itu juga terbilang cukup menjijikan, dimana sahabat yang sudah di tolong tega berbuat demikian.


Entah seperti apa cara kedua manusia pengkhianat itu berpikir, sehingga sanggup berbuat keji pada manusia yang sudah berbaik hati pada mereka.


Lagi-lagi Vanya hanya bisa mengusap wajahnya, sakit karena di khianati kekasih saja begitu dalam, apa lagi di khianati oleh seseorang yang sudah menikahinya.


Ini sungguh luar biasa, Vanya merasa kisah tersebut begitu menyakitkan.


"Tapi, kenapa juga aku malah mikirin dia?" Vanya pun memilih menutup wajahnya dengan bantal guling, kemudian terlelap dalam tidur dalam sekejap saja. Walaupun sudah subuh tapi rasa kantuknya baru terasa di saat itu.


"Woy, bangun!" Ninda pun membangunkan Vanya, karena hari sudah hampir siang.


Mengingat Vanya harus bekerja seperti pagi-pagi biasanya.


Lagi pula tidak biasanya Vanya belum bangun, ada apa juga dengan Vanya yang semalaman tampak gelisah.


"Nin, aku ngantuk banget!" Vanya pun kembali menutup wajahnya dengan selimut, rasa kantuk masih sangat terasa.


"Udah jam sembilan, satu minggu lagi Vanya. Setelah itu kamu bebas!" Ninda pun mengingatkan Vanya akan hari itu.


Hari yang terus saja di tunggu-tunggu, sekaligus menjadi semangat saat harus berusaha bangun di pagi hari. Sebab dulunya Vanya sangat sulit sekali bangun pagi. Tapi tunggu dulu, Vanya mendengar waktu yang di sebutkan oleh Ninda barusan.

__ADS_1


"Jam sembilan?" Vanya pun terperanjat mendengarnya, kemudian segera menuruni ranjang dan menuju kamar mandi.


Semuanya di lakukan dengan terburu-buru, termasuk memakai pakaiannya.


Bahkan sampai kancing kemejanya saja berantakan. Sebab, tidak terpasang pada tempatnya.


Sambil keluar dari kamar Vanya pun menyambar ponselnya, terlihat begitu banyak panggilan dari Riki.


"Ya, ampun. Kenapa bisa telat begini?"


Sedangkan Ninda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan aneh seorang Vanya.


Hingga saat keluar dari rumah dirinya melihat Rangga.


Entah sejak kapan dia berada di sana, tapi sungguh sangat memuakkan bagi seorang Vanya yang sudah terlanjur kecewa akan Rangga.


"Vanya, aku mau bicara."


Tak ada hentinya Rangga berusaha untuk berbicara pada Vanya, lagi pula jika di berikan kesempatan kedua dirinya akan berjanji untuk setia.


Sampai di sini Rangga sadar bahwa Vanya tak pernah bisa menghilang dari benaknya. Meskipun sudah jelas Vanya menolak keras untuk kembali padanya.


"Dasar gila!" Vanya pun memilih untuk mengacuhkannya, hingga tiba-tiba saja Vanya hampir terjatuh karena sepatunya.


Namun, saat itu dengan cepat Rangga pun menolongnya.


"Ternyata kau terlambat ke kantor karena pacaran!" Riki sudah berdiri tak jauh dari Vanya dan juga Rangga.


Entah sejak kapan pria itu ada di sana, yang jelas saat ini sudah terlihat batang hidungnya.


Berpikir jika Vanya memilih untuk bersama mantan kekasihnya yang pengkhianat itu dari pada ke kantor. Vanya pun segera berdiri, menjauh dari Rangga dengan penuh kekesalan.


Tak lupa menepuk-nepuk beberapa bagian tubuhnya, terutama yang terkena pada Rangga.


Rasanya untuk bersentuhan secara tidak sengaja saja Vanya sudah sangat jijik.


Jika bisa memilih antara terjatuh atau di tolong oleh Rangga, Vanya akan memilih jatuh saja. Benar-benar tak mengharapkan bantuan seorang pengkhianat cinta itu.


"Enak aja! Kalau ngomong jangan sembarang dong Om! Nggak banget deh!" Gerutu Vanya.


"Banyak alasan!"


Riki yang terbakar api kecemburuan merasa tak percaya dengan penjelasan Vanya, menurutnya apa yang di lihatnya sudah lebih dari sekedar penjelasan.

__ADS_1


"Apaan, sih? Nggak jelas banget! Udahlah, mendingan kalian berdua pergi dari sini!" Vanya pun memilih untuk mengusir kedua pria tersebut.


Tidak ada yang benar menurutnya, Riki yang berbicara sembarangan, sedangkan Rangga yang tiada hentinya terus mendatanginya.


Kacau dan membuatnya sangat pusing, tidak ada yang bisa membuatnya menjadi lebih baik. Vanya juga butuh tidur, sebab malam tadi tidak dapat tidur.


"Vanya, tapi aku mau bicara. Tolong, aku mohon," Rangga terus berharap, semoga Vanya bisa memberinya kesempatan kedua.


Apapun syarat ataupun keinginan yang mungkin di lontarkan padanya maka Rangga akan sangat berusaha, asalkan Vanya mau berbicara padanya.


"Pergi! Cari perempuan lain!" Vanya pun menunjuk arah jalanan, bingung bagaimana cara meminta Rangga untuk pergi dan tidak perlu kembali.


"Perempuan banyak, udah di tolak juga! Kamu pergi atau aku panggil warga!" Ancaman Vanya benar-benar ada.


Dirinya sudah sangat resah dengan kehadiran Rangga yang tidak ada hentinya menemuinya, Vanya bosan dan tak ingin lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya tersebut. Hingga Vanya mau ini yang terakhir kalinya Rangga menemuinya


"Baiklah, aku pergi," Rangga pun memilih untuk pergi, dari pada apa yang dikatakan oleh Vanya malah menjadi kenyataan.


Setelah itu Vanya pun beralih menatap Riki yang masih berdiri di tempatnya.


"Ngapain masih di sini! Aku hari ini nggak masuk kerja, mood aku rusak gara-gara kalian!" geram Vanya.


Amarah wanita itu benar-benar membuncah, kesal dan juga pusing akibat dua pria yang di anggapnya gila itu.


"Maaf, ayo ke pergi sekarang," Riki berusaha untuk berdamai dengan Vanya.


Tetapi, sayangnya Vanya tidak bisa di ajak berdamai.


Sejujurnya Vanya kesal karena semalaman penuh bayangan Riki selalu mendatanginya membuat tidurnya terganggu.


Bahkan pagi ini datang lalu marah-marah, tidaklah mengerti jika dirinya sedang tidak baik-baik saja? Dan, itu karena Riki.


"Nggak! Aku tahu satu minggu lagi kita nggak lagi ada urusan. Tapi, hari ini aku mau libur!"


Vanya pun memilih untuk masuk ke dalam rumah, benar-benar tidak ingin berangkat bekerja bersama dengan Riki.


Riki pun diam tanpa berbicara sama sekali membiarkan Vanya masuk dengan membawa amarahnya yang terlihat begitu meninggi.


Tidak ada yang di lakukan oleh Riki, malahan dirinya hanya duduk di kursi yang tersedia di teras.


Menunggu amarah Vanya mereda dan setelah itu barulah dirinya berbicara.


Riki sadar bahwa dirinya salah dalam menilai Vanya barusan.

__ADS_1


Sedangkan Vanya mengintip dari balik jendela kaca, dimana Riki masih berada di teras.


"Bodo amat! Aku, mau tidur!"


__ADS_2