
"Makasih ya Om, udah nganterin aku pulang."
Dulu dan kini benar-benar sudah berbeda, Vanya dan Riki kini sudah terikat dalam sebuah jalinan cinta yang begitu luar biasa.
Hingga saat ini keduanya sudah berada di depan kediaman Vanya seperti apa yang diketahui oleh Riki. Tanpa tahu jika di tempat ini Vanya hanya menumpang untuk sementara waktu saja.
"Aku juga mau turun menemui orang tua mu. Untuk meminta restu," jawab Riki.
Sebab beberapa saat yang lalu kepalanya sudah dibenturkan oleh Sela pada dinding
Karena apa?
Karena sudah membuat tanda merah pada tengkuk Vanya sehingga dirinya dianggap sebagai seorang tersangka yang harus bertanggung jawab pada Vanya.
Bahkan Sela juga menuduhnya melakukan pelecehan, padahal sudah jelas Vanya pun menerima tanpa menolak sama sekali.
Tetapi bagaimana lagi, karena di mata Sela, Vanya sama sekali tidak bersalah.
Karena di sini dirinya yang sudah dewasa dan dianggap sepantasnya membuat Vanya menjadi lebih baik bukan malah sebaliknya.
Tidak masalah, lagi pula menikahi Vanya juga sebuah keinginan terbesar dalam hidupnya.
"Restu?"
"Kenapa kamu tegang, aku hanya ingin menemui mereka untuk hubungan kita lebih lanjut," kata Riki menjelaskan lebih lanjut.
"Iya, tapi nggak sekarang ya, Om."
Ada banyak hal yang harus di ketahui oleh Riki tentang dirinya karena Riki hanya tahu dirinya anak pembantu.
Padahal tidak demikian.
Sementara saat ini Vanya yang tidak mengerti bagaimana cara menjelaskan pada Riki tentang dirinya.
"Kenapa? Salahnya dimana?" Riki tidak ingin menunda lebih lama, dirinya tidak mau mengingkari janji yang sudah di buatnya sendiri.
Tidak akan menyentuh Vanya sebelum mereka menikah.
Tapi apa?
Bahkan hari ini saja tanpa diketahui oleh Vanya, dirinya sudah mencari sebuah kepuasan dengan cara yang terbilang gila.
Riki tidak ingin di kemudian harinya Vanya merasa Riki menghargai dirinya seperti wanita diluar sana sebelum hadir dalam hidupnya.
"Om, biar aku ngomong dulu sama kedua orang tua aku. Setelah itu baru Om datang"
Vanya benar-benar tidak tahu cara menjelaskan pada Riki, tetapi saat ini dirinya benar-benar tidak siap untuk menceritakan tentang dirinya pada Riki.
"Vanya, ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu?" Riki dapat menangkap ada sebuah hal yang di sembunyikan oleh Vanya.
Tapi apa?
Riki sendiri tidak tahu.
"Baiklah, besok Mas jemput lagi."
__ADS_1
Riki pun mencoba untuk mengerti, hingga akhirnya mempersilahkan Vanya untuk turun.
"Vanya."
Vanya pun kembali menoleh pada Riki, meskipun perasaannya masih campur aduk.
Hingga akhirnya Riki pun mencium kecil bibirnya, dan Vanya pun berpamitan untuk turun.
"Hati-hati sayang, besok Mas jemput lagi"
Vanya pun mengangguk hingga mobil Riki pun melesat pergi.
Vanya pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan penuh tanya. Bahkan Ninda sampai terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya.
"Menikah? Kamu serius?" Tanya Ninda berusaha untuk meyakinkan dirinya, bahwa apa yang dikatakan oleh Vanya benar adanya.
"Iya."
"Tapi kamu masih muda banget."
"Iya, sih. Tapi gimanapun juga. Om Riki, bilang dia udah nggak muda lagi, nggak mau pacaran kayak ABG," jelas Vanya.
"Iya juga sih, tapi masalahnya kamu udah siap belum menikah dengan dia?" Tanya Ninda dengan serius.
Keduanya berbaring di atas ranjang dengan posisi sembarangan sedangkan obrolan mereka masih seputaran Riki.
"Aku juga nggak ngerti, tapi gimana lagi?"
"Lah, kok kamu ragu?"
"Bukan ragu Ninda, aku cuma nggak tahu gimana bilangnya ke Om Riki, terutama ke Bunda dan Ayah," kata Vanya lagi mengutarakan apa yang di hatinya.
"Kamu bener banget, aku tidur dulu. Besok aku bakalan ngomong ke Om Riki. Makasih ya, Nin buat sarannya," Vanya pun tersenyum merasa sudah tak lagi terjebak dalam kebingungannya.
"Ya udah, semangat ya," Ninda juga ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan Vanya.
##############
Keesokan harinya ponsel Vanya pun berdering, tertulis nama sang pujaan hati di sana.
( Sayang, kamu sudah bangun? ) Om Riki.
Vanya pun tersenyum membaca pesan dari Riki, rasanya begitu membuat diri melayang seketika.
Jangan lupakan panggilan yang begitu membuatnya melayang seketika.
Sesaat kemudian Vanya pun bergegas untuk membalasnya.
( Udah Om ) Vanya.
Ingin sekali Vanya berteriak dengan hati yang berbunga-bunga, tidak mengerti mengapa bisa jatuh cinta rasanya semanis ini.
( Mas, jemput kamu ) Om Riki.
Obrolan pun di tutup, Vanya bergegas menuju kamar mandi. Kemudian menyelesaikan ritual paginya.
__ADS_1
Selesai memakai pakaian terdengar suara mobil di depan rumah.
Membuat Vanya bergegas untuk keluar, benar saja ada Riki di sana.
"Pagi Om," sapa Vanya dengan senyuman manisnya.
Vanya pun meminta Riki untuk turun dari mobil, kemudian keduanya duduk di teras.
Vanya ingin menceritakan siapa dirinya saat ini juga pada Riki.
"Ada apa? Apa ada kedua orang tua mu di dalam?"
"Om, aku mau ngomong serius. Jadi, aku bukan anak Bi Ina ataupun pembantu di rumah keluarga Devan Bima Putra, tapi aku anak Ayah Devan Bima Putra," papar Vanya.
Riki pun mematung saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vanya barusan.
Tetapi apakah mungkin Riki percaya akan penjelasan Vanya saat ini.
"Jangan ngawur kamu, Vanya," Riki meraih tangan Vanya.
"Tanpa terlahir dari keluarga berada pun aku sudah mencintai dan menerima mu apa adanya," Riki tak ingin Vanya mengarang cerita, sebab dirinya juga tidak masalah jika pun Vanya hanya terlahir dari kalangan biasa.
Sementara Vanya semakin tidak mengerti cara mengatakannya pada Riki yang tampaknya tidak percaya sama sekali pada apa yang barusan dikatakan oleh dirinya.
"Gini aja, nanti malam Om datang ke rumah mereka. Nanti, di sana Om bakalan tahu semuanya, sekarang aku nggak ikut Om ke kantor"
"Vanya?" Riki masih terlalu sulit untuk menerima penjelasan konyol Vanya.
Otaknya masih belum bisa menerima kenyataan ataupun masih terlalu aneh mendengar penjelasan Vanya.
Lagi pula sangat tidak mungkin anak dari sekelas konglomerat seperti Devan membiarkan anaknya hidup seperti ini.
Maksudnya hidup sederhana di rumah yang sederhana pula, sungguh semuanya sangat tidak masuk di akal.
"Om, aku serius."
Riki menahan tawa melihat ekspresi wajah Vanya yang begitu serius, sampai di sini bahkan Riki tidak mengerti sama sekali dengan maksud Vanya.
"Ya sudah, terserah kamu saja. Nanti Mas datang ke sini lagi."
"Bukan ke sini Mas, tapi ke rumah keluarga aku. Om temenan kan, sama Kak Felix?" Tanya Vanya lagi meyakinkan Riki.
"Tau dong, rumahnya?"
"Ahahahhaha," tawa Riki pecah seketika, sepertinya calon istrinya tersebut sedang menjiwai sebuah lawakan yang begitu konyol, tapi tidak masalah selama itu bisa membuat Vanya bahagia.
Sementara Vanya malah kesal dibuat oleh Riki, dirinya yang serius dalam berbicara malah dianggap hanya sebuah lelucon.
"Nggak lucu tau Om!" Wajah Vanya benar-benar kesal karena Riki, kini malah dirinya ditertawakan dengan menggelegar.
"Ya sudah," Riki pun menghentikan tawanya, kemudian memilih untuk berpamitan.
"Tidak sayang, Mas tidak menertawakan mu. Hanya saja kamu memang sangat berbakat untuk menjadi seorang pelawak. Mas pamit nanti Mas datang."
Riki pun akhirnya pergi, menurut pada apa yang dikatakan oleh seorang Vanya.
__ADS_1
Wanita yang sangat di cintainya itu. Sementara Vanya hanya menatap kesal mobil Riki, sebab dianggap hanya menebar lelucon.
"Ngeselin banget deh"