Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Apakah kali ini juga harus terluka?


__ADS_3

Riki mengusap wajahnya yang sudah babak belur tubuhnya penuh dengan lebam. Namun, percayalah sakit di hati jauh lebih parah dari pada luka yang tampak karena Felix dan Devan.


Riki pun akhirnya memutuskan untuk pergi, dirinya sangat tidak mengerti dengan semuanya.


Hingga sebelum masuk ke dalam mobil mata Riki pun tidak sengaja melihat Vanya yang berdiri di balkon kamarnya.


Riki pun mengangkat tangannya sementara Vanya hanya diam menatap dengan iba.


Keadaan Riki benar-benar membuat Vanya merasa kasihan, tapi itulah perjuangan yang harus dilakukan.


Ataupun mungkin saja Riki lebih memilih mundur dari semua perjuangan, sebab tidak ingin membuat masalah dengan Devan dan Felix.


Entahlah, Vanya hanya bisa menarik napas panjang. Berharap akan ada jalan terbaik untuk hubungan mereka kedepanya.


Hingga sesaat kemudian Riki pun pergi, perasaannya benar-benar tidak karuan.


Sepanjang perjalanan pulang Riki hanya mengingat semua yang dikatakan oleh Devan, bahkan Riki pun membenarkan semuanya.


Namun, tidak juga untuk terus menjadi seorang pria kurang ajar. Karena, ingin bahagia bersama Vanya seorang.


Hingga akhirnya Riki pun sampai di rumah, Sela yang tidak sengaja berpapasan terkejut melihat keadaan Riki.


Wajahnya, tangannya, penuh lebam. Bahkan kemejanya tampak kusut.


Apa yang dilakukan oleh anaknya tersebut?


"Riki, kamu kenapa?" Langsung saja Sela membantu Riki untuk duduk di sofa.


Mengobatinya dengan secepat mungkin, sementara rasa penasaran tidak pernah henti.


Sebab sampai saat inipun Riki belum memberikan penjelasan apapun.


"Riki, kamu kenapa? Kenapa bisa begini?"


Riki pun menyandarkan tubuhnya, menutup mata sejenak untuk mencari sebuah ketenangan yang mungkin saja ada.


Sementara wanita paruh baya itu terus saja bertanya di saat malam yang semakin larut ini, tetapi bagaimana lagi. Sebab, pikiran Sela tidak akan tenang sebelum mendengarkan penjelasan dari Riki.


"Vanya, adiknya Felix, Ma."


Singkat, padat dan jelas. Namun, tetap saja mengejutkan untuk didengar oleh Sela.


"Apa?" Sela benar-benar begitu terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Riki, ini terdengar tidak mungkin. Lalu, apa mungkin Riki hanya mengarang cerita semata? Untuk apa?


Tidak mungkin.


Meskipun Riki kembali mengulangi kalimatnya agar Sela mendengar kembali pula tentunya, bahwa apa yang didengarnya tidaklah salah.

__ADS_1


Namun tetap saja masih membuatnya terkejut.


"Vanya, adiknya Felix sekaligus anaknya Om Devan Bima Putra. Nama lengkapnya adalah Vanya Devan Bima Putra."


Riki pun bangkit dari duduknya, menuju kamar dengan pikirannya yang sangat kacau.


Sementara Sela lagi-lagi hanya bisa mematung di tempatnya, diam tanpa kata. Bahkan untuk memanggil Riki saja sudah tidak bisa.


Bibirnya benar-benar tidak bisa berbicara sama sekali, hingga ternyata Riki sudah menghilang dari pandangan mata Sela.


Riki masuk ke dalam kamar, kemudian melemparkan tubuhnya pada ranjang.


Sampai akhirnya ponsel Riki pun bergetar, tertulis nama Vanya di sana.


Dengan segera Riki pun membuka pesan tersebut.


( Mas, nggak apa-apa kan? Maafin Ayah ya, Mas, tapi sebenarnya hati Ayah baik kok. Ayah cuma kesal karena tahu kita tidur berdua, sekali lagi maaf ya Mas. Aku sayang sama Mas. ) Vanya.


Isi pesan yang dikirimkan oleh Vanya seakan menjadi semangat tersendiri untuk dirinya yang berjuang mendapatkan restu.


Bahkan semakin yakin untuk terus maju tanpa gentar sedikitpun setelah hari ini.


Di sini Riki mengerti seperti apa posisi Devan, setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.


Begitu juga dengan Devan, maka kali ini Riki yang akan berjuang untuk bisa mendapatkan restu dari Devan.


Seketika Riki pun menulis pesan balasan untuk sang pujaan hati.


( lya, nggak apa-apa. Mas, ngerti kok perasaan Ayah kamu. Maaf ya, kalau masa lalu Mas yang buruk ) Riki.


Pesan pun terkirim, hingga setelah membacanya. Vanya pun kembali menuliskan pesan balasan.


( Nggak apa-apa Mas, aku benar-benar minta maaf. Tapi, aku sayang sama Om Riki ) Vanya.


( Kok Om? ) Riki.


( Kakandaku tercinta ) Vanya.


Bibir Riki seketika tertarik pada masing-masing sudutnya, hanya dengan mendapat pesan dari Vanya seketika mendapatkan suntikan semangat kembali untuk berjuang demi cinta yang tidak direstui.


Lupakan rasa sakit pada tubuhnya, sebab obat yang paling mujarab adalah Vanya.


Cinta benar-benar gila, tidak pernah berpikir jika cintanya begitu rumit dan juga penuh dengan tantangan.


Semuanya seakan sangat tidak masuk akal, Riki tersenyum merutuki kebodohannya.


Teringat selama ini menceritakan apapun pada Felix, sampai akhirnya ternyata Vanya adalah adik dari sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Ini gila, tapi aku mencintainya Felix!" Riki pun berbicara sendiri menyebutkan nama sahabatnya itu meskipun tidak ada orangnya di sana.


Riki tidak gila karena berbicara sendiri, hanya sedang tertawa saja karena dirinya yang sangat aneh.


Sementara Sela yang sudah tersadar akhirnya menyusul Riki ke dalam kamar, siapa sangka ternyata anaknya itu sedang senyum-senyum sendiri.


Membuat perasaan Sela menjadi was-was akan Riki yang kehilangan kewarasannya karena hubungan yang di tentang dengan tegas oleh keluarga Vanya.


"Riki?" Sela ingin memastikan saat ini juga bahwa anaknya itu memang masih waras.


Sela benar-benar sangat takut.


Sebab Sela tahu jika Riki sudah mencintai maka tidak akan pernah bisa melupakan, cintanya tidak akan mudah pudar.


Begitupun sebaliknya, jika belum menemukan seseorang yang tepat maka tidak akan pernah jatuh cinta jika pun dipaksakan.


Bagaimana dengan kali ini? Riki sudah pernah terluka? Akankah untuk kali ini terluka lebih dalam lagi.


"Ada apa, Ma?"


"Kamu masih waras kan? Jangan bikin Mama panik."


"Aku baik-baik saja Ma, ini tidak masalah. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan restu dari keluarga Vanya," jawab Riki meyakinkan Sela.


Percayalah Riki baik-baik saja, hanya babak belur tidak akan membuatnya mundur untuk mendatangkan restu.


Sela pun merasa lega, sebab dari tadi terus saja takut anaknya kembali menjadi lelaki kurang ajar yang hanya mencari kesenangan dari wanita-wanita liar di luar sana.


Meskipun hanya sekedar pelampiasan semata, tetapi cukup membuat Sela terluka saat menyaksikannya.


Jujur saja Sela sudah lelah melihat anaknya yang mencari kebahagiaan palsu itu.


Kebahagiaan semu yang sebentar tidak pernah ada dan tidak bertepi, sampai kapan?


Tidak tahu!


"Kalau begitu Mama keluar dulu, kamu juga istirahat ya."


Sela pun keluar, tidak lupa menutup pintu meskipun hatinya tampak merasa iba dengan keadaan putranya.


Jika dulu Riki harus terluka karena sebuah pengkhianatan, apakah kali ini juga harus terluka kembali karena terhalang restu yang tidak kunjung didapatkan.


Mampukah perjuangan sampai pada titik dimana kebahagiaan menghampiri.


Tidak. Sela tidak siap untuk memikirkan kemungkinan terburuknya, saat ini dirinya hanya ingin kemungkinan yang terbaik saja.


Sebagai seorang ibu dirinya ingin melihat anaknya bahagia, tanpa luka dan air mata.

__ADS_1


__ADS_2