
Segera Renita menuju alamat yang di berikan oleh Riki, menanyakan secara langsung apakah yang di katakan oleh Riki adalah benar ataupun tidak.
Amarah dan juga rasa penasaran benar-benar menggebu-gebu. Bagaimana bisa dirinya di tipu oleh seorang anak kecil.
Renita dan Rangga memang terpaut usia jauh bahkan usia Renita sudah dua puluh tujuh tahun. Sedangkan Rangga baru menginjak dua puluh satu tahun. Usia tak menjadi masalah karena saat Renita terpuruk hanya ada Rangga yang menjadi sandarannya. Hingga membuat nyaman dan akhirnya keduanya pun sepakat untuk menjalin sebuah hubungan serius. Bahkan selama beberapa bulan ke belakang ini Renita mengeluarkan uang untuk biaya kuliah dan juga uang lainnya untuk Rangga.
Apakah mungkin Rangga berbohong padanya, menipunya habis-habisan begini. Jika saja saja benar maka percayalah dirinya tak akan diam saja.
Perasaan Renita tak menentu saat berdiri di depan daun pintu yang masih tertutup, kurang ajarnya dirinya sudah sangat mencintai Rangga dan takut mendengar kenyataan bahwa benar Vanya adalah kekasih Rangga juga.
Namun tidak, sebelum semuanya terlambat lebih baik mengetahui sekarang, tangan Renita pun terangkat bergerak mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
Meskipun tetap saja hatinya tidak karuan sampai detik ini.
Hingga akhirnya pintu pun terbuka dan Vanya sendiri yang membukanya.
Wajah Vanya begitu berbinar bahkan terlihat begitu ramah saat melihat siapa yang menghampiri dirinya.
"Kak Renita ya?" Tanya Vanya langsung.
Betapa bahagianya Vanya saat melihat Renita mengunjunginya, bayangkan saja saat kamu di kunjungi oleh salah satu keluarga calon suami mu.
Impian Vanya sepertinya begitu jauh karena dirinya memang tak pernah bermain-main dalam setiap kali berpacaran.
Begitu juga saat ini, meskipun entah seperti apa raut wajah Vanya setelah tahu siapa Renita dan apa tujuannya menemuinya saat ini.
"Duduk dulu Kak, biar aku buatin minum dulu ya."
Vanya pun memutar badannya berniat masuk dan membuatkan secangkir teh. Namun ternyata dengan cepat Renita pun menolak.
"Nggak usah! Kita langsung pada intinya, bisakah untuk duduk bersama?"
Renita melihat kursi hingga akhirnya Vanya pun mengangguk. Sama sekali tidak menebak apapun sebab Vanya tak terbiasa berprasangka buruk.
"Iya,"
Akhirnya keduanya pun duduk di kursi yang tersedia di teras, wajah Vanya begitu bersinar saat ini.
Menunggu Renita berbicara padanya mungkin saja Renita ingin mengajaknya jalan-jalan ataupun Renita di utus oleh Mama calon mertuanya untuk menjemput dirinya bertemu dengan calon Mama mertua.
Ya ampun Vanya sangat bahagia sekali, pikirannya kian menerawang jauh penuh dengan rasa bahagia yang tidak dapat terkira.
Rasanya begitu lama Renita terdiam hanya menatap dirinya, tidakkah mengerti jika Vanya sudah tidak sabar menunggunya
"Kak Renita kok repot-repot datang. Aku juga mau loh kalau di minta ke tempatnya Kakak," Vanya masih saja memikirkan sesuatu yang sangat membahagiakan.
Karena tentunya belum tahu apa tujuan yang membawa Renita menemui dirinya.
Tetapi saat ini Renita menyimpulkan bahwa benar Vanya tak mengetahui siapa dirinya, seperti apa hubungannya dengan Rangga.
__ADS_1
Kurang ajar, bocah tersebut terlihat lihai dalam bersandiwara hingga begitu sempurna.
Namun, sebentar Renita juga tak tega jika nantinya Vanya kecewa setelah tahu bahwa Rangga ternyata penipu.
"Kamu pacaran sama Rangga udah berapa lama?" Akhirnya Renita pun mengutarakan pertanyaan, ingin memastikan apakali hubungan Rangga dan Vanya jauh sebelum dengan dirinya ataupun sebaliknya.
Jika hubungan Vanya telah melebih dirinya yang menjadi kekasih Rangga selama beberapa bulan ini, maka artinya Renita yang menjadi orang ketiga. Tetapi jika sebaliknya, maka Vanya adalah orang ketiganya.
Tapi tidak juga sepenuhnya demikian, karena di sini baik Vanya maupun Renita adalah sama-sama korban karena tipuan Rangga.
Renita semakin tidak dapat menahan kemarahan untuk mengacak-ngacak wajah bocah kurang ajar tersebut.
"Baru kok Kak, belum hampir sebulan," jawab Vanya.
Bahkan dirinya masih bisa tersenyum manis, meskipun entah bagaimana nantinya setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
"Vanya, sebetulnya aku adalah kekasih Rangga juga," papar Renita.
Renita sudah terlalu kesal dan merasa kasihan pula pada Vanya yang begitu bahagia, jadi lebih baik berkata langsung saja.
Dari pada terus melihat Vanya bahagia karena merasa di cintai sepenuhnya oleh Rangga, sebab sejatinya mencintai adalah kesetiaan. Jika menduakan itu artinya kamu belum di cintai sepenuhnya olehnya.
"Kak Renita jangan bercanda dong" Vanya masih saja tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Renita.
Meskipun kini dirinya mulai kehilangan senyuman di bibirnya.
Renita tak tahu cara menjelaskan seperti apa karena dirinya sudah sangat kecewa pada apa yang di lakukan oleh Rangga.
Dengan rasa penasaran Vanya pun melihatnya, membaca satu persatu
( Ay, jalan yuk hari minggu, aku kangen tahu ) Rangga. ( dengan emoticon love )
( Boleh deh, ke pantai ya ) Renita.
( Ke pelaminan juga boleh, Ay ) Rangga.
Dan begitu selanjutnya saling berbalas pesan mesra pun terus saja berlanjut.
Membuat Vanya kehilangan kebahagiaan, bahkan untuk berbicara saja sudah tak mampu.
"Minggu? Bukannya katanya dia nganter Kak Renita ke luar kota?" Vanya pun melihat Renita dengan penuh tanya.
Saat itu bibir Rangga yang mengatakannya bahwa akan mengantarRenita yang tak lain Kakak sepupunya.
Ternyata apa?
Sepupu macam apa yang di sebut oleh Rangga?
Mana ada sepupu chat mesra seperti ini, ini sungguh sangat menjengkelkan dan juga sangat memalukan.
"Dia sudah menipu kita, padahal selama ini aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk dia. Karena, aku pikir dia baik dan serius sama aku," Renita pun mengusap wajahnya, tak menyangka jika ternyata Rangga hanya menipunya saja.
__ADS_1
"Kak, aku minta maaf ya. Aku nggak tahu kalau Rangga udah punya pacar. Maaf ya Kak" Vanya merasa tidak enak hati meskipun sebenarnya dirinya begitu kecewa atas apa yang di lakukan oleh Rangga padanya.
Sedangkan Renita tersenyum dan mengusap punggung Vanya, dia dapat menyimpulkan jika Vanya begitu tulus dengan permohonan maafnya.
"Nggak apa-apa, kita sama-sama korban"
"Kak Renita, aku kok lemes banget ya. Inikah namanya patah hati," wajah Vanya memucat seketika.
Bahkan duduk di kursi saja rasanya Vanya sudah tidak sanggup lagi.
"Kamu kesal nggak sama dia?"
"Banget Kak"
"Kalau begitu laki-laki itu harus kita kasih pelajaran!"
"Pelajaran?"
"Agar dia jera!"
Vanya pun diam sejenak.
"Tapi di kasih pelajaran tambah pintar dia Kak," jelas Vanya dengan bodohnya.
Ya ampun Renita bukan sedih malah ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya.
Pantas saja Rangga mudah sekali menipunya habis-habisan ternyata Vanya memang begitu polos.
Tetapi, dirinya juga tertipu.
Ya ampun.
"Maksudnya kita kasih pelajaran yang membuat dia jera, sebuah hukuman biar kapok dan nggak melakukan ini lagi pada wanita mana pun."
"Setuju!" Vanya langsung berseru,l karena lelaki itu harus menerima hukuman dari kedua wanita yang sama-sama tersakiti.
Renita pun mengangguk sambil merencanakan sesuatu yang cukup membuat Rangga jera pastinya
"Kamu hubungi dia, suruh dia ke sini. Bilang aja kamu ada sesuatu buat dia."
"Sesuatu apa Kak?" Vanya masih bingung apakah yang akan di rencanakan oleh Renita.
"Boleh aku pinjam penselnya "
"Boleh dong, aku pengen pites-pites itu orang, biar kapok! Kesel banget tahu Kak"
Renita malah ingin tertawa, bukan menangis karena merasa tersakiti atas apa yang dilakukan oleh Rangga.
"Setuju?"
"Ya, setuju Kak"
__ADS_1