
Bagaimana jika ternyata nanti Adnan pergi dengan keadaan marah, kecewa dan malah tak bisa dihubungi seperti beberapa waktu lalu.
Bagaimana jika Adnan menghilang tiba-tiba dan kemana nanti Rena mencarinya?
Pikiran Rena benar-benar kacau karena memikirkan Adnan.
Rena sudah pernah merasa rindu saat Adnan menghilang begitu saja, bagaimana dengan status pernikahan mereka jika saja terjadi lagi saat ini.
Tidak.
Itu adalah mimpi buruk, sehingga tak ingin merasakan untuk kedua kalinya.
Mungkin jika pun Adnan pergi ke luar kota tanpa dirinya boleh saja, namun tidak dalam keadaan seperti ini.
"Adnan, aku ikut ya," mata Rena berkaca-kaca berharap Adnan mengijinkannya untuk ikut, dirinya tak ingin jauh dari Adnan.
"Tidak usah, aku tidak lama."
Rena pun menundukkan kepalanya kemudian meneteskan air matanya, membuat Adnan merasa tidak enak hati.
"Rena, aku tidak ingin kehilangan kendali. Kamu belum siap, sedangkan aku melihat kamu itu adalah cobaan terberat," jelas Adnan agar Rena mengerti, mungkin dengan demikian Rena dapat memahaminya saat ini saja.
"Aku nggak mau ditinggal kamu," Rena pun memeluk Adnan dengan cepat, tak ingin melepaskan sama sekali.
"Rena, aku tidak punya banyak waktu. Aku sudah di tunggu," Adnan melihat jam tangannya kemudian menarik tangan Rena agar melepaskannya.
Tetapi Rena tak mau, dirinya masih terus berusaha untuk memeluk Adnan begitu eratnya.
"Rena"
"Mas Adnan, aku ikut."
Adnan tak mungkin tega untuk berbuat kasar pada Rena, sehingga hanya bisa diam dan mulutnya yang memerintah untuk melepaskannya.
"Rena!"
"Nggak mau, aku nggak mau di tinggal!"
"Rena!"
"Mas Adnan," rengek Rena dengan memohon.
'Kurang ajar!' Batin Adnan pun mulai berbicara.
Belum juga panas sebelumnya mereda kini sudah kembali memanas karena ulah Rena.
__ADS_1
Apa lagi yang bisa dilakukannya saat ini agar Rena mengerti tentang dirinya.
Hingga tiba-tiba Rena berjinjit dan membuat Adnan tersentak saat Rena mulai mencium bibirnya dengan begitu lembutnya.
"Rena jangan memulainya lagi!" Adnan menjauhkan diri agar tak lagi dapat membuat Rena melakukan aksi gilanya tersebut.
"Adnan, aku siap. Tapi, jangan tinggalkan aku ya," Rena yang tak ingin ditinggal pergi oleh Adnan walaupun urusan pekerjaan membuatnya melupakan rasa malunya.
"Rena, jangan main-main!"
"Aku tidak main-main!" Rena pun melepaskan satu persatu kancing kemejanya kemudian melepas kemeja tersebut, membuat kedua gunung kembar nya yang masih terbungkus itu menyembul keluar.
Membuat otak Adnan benar-benar tak lagi sejalan dengan apa yang sudah diputuskannya barusan.
"Aku ikut," pinta Rena dengan nada memohon.
Tetapi pikiran Adnan sudah tak lagi pada pekerjaannya atau pun keberangkatan yang sudah siap menanti. Melainkan pada tubuh Rena yang memancing jiwa kelelakiannya.
Tanpa bisa ditahan Adnan pun menarik Rena hingga terlentang di atas ranjang, kemudian menindihnya.
Rena yang terlempar merasa terkejut, tetapi tidak ingin ditinggalkan membuatnya tak berani menolak lagi.
Hingga akhirnya menerima saat bibir Adnan mencium bibirnya.
Sesaat kemudian menciumi tengkuknya, Rena merasa ini adalah sensasi yang begitu luar biasa. Hingga mulai menikmati sebuah permainan yang cukup membuatnya mengeluarkan keringat.
"Adnan, aku..." Rena tak dapat mengatakan apa yang hendak dikatakan, karena sensasinya memang begitu luar biasa.
Sesaat kemudian Adnan pun kembali mencium bibir Rena sambil melepaskan pakaiannya. Semua sudah terlalu jauh, kalaupun Rena memintanya untuk berhenti sudah tidak lagi bisa. Adnan sudah telanjur dimasuki oleh setan yang sudah membayanginya dengan sejuta kenikmatan dunia.
"Adnan, tunggu," Rena pun mencoba untuk menahan, sebelum memasuki dirinya.
Tetapi Adnan tak perduli sama sekali dan langsung masuk dengan cepat membuat Rena berteriak keras.
"AH!"
"Rena, ternyata ini lebih nikmat dari yang aku bayangkan," kata Adnan, tetapi tersadar Rena sudah jatuh pingsan.
Membuat Adnan pun melepaskan dirinya, dan membasuh wajah Rena dengan mineral. Mata Rena pun terbuka kembali dan melihat suaminya tersebut tanpa sehelai benang pun.
"Minum dulu, jangan terlalu tegang." Rena pun meneguk mineral agar lebih baik.
"Sudah lebih baik?"
Rena mengangguk dan Adnan pun kembali memasuki Rena, melanjutkan permainan walaupun banyak rintangan tetapi semua harus segera diselesaikan agar kepalanya jauh lebih jernih dalam berpikir.
__ADS_1
Apa lagi dalam urusan kali ini.
Rena pun hanya bisa meremas sprei, meluapkan rasa sakitnya karena betapa brutalnya Adnan.
Sampai pada akhirnya Rena pun mulai menikmatinya, merasa semua mulai nyaman dan terasa nikmat.
"Sssst......" Rena mendesah seiringan dengan gerakan Adnan yang tak beraturan itu.
"Rena, aku mencintaimu," racauan kenikmatan dari bibir Adnan kian membuat Rena merasa tenang dan dicintai.
Hingga akhirnya benar-benar larut dalam cinta yang penuh gairah.
Siang hari yang terik ini tak menghalangi keduanya untuk saling melepas yang tertahan, meleburkan kerinduan yang kian mendalam dan menciptakan suara yang saling bersahut-sahutan.
Cinta pun sudah membuncah karena tertahan rindu beberapa hari tidak bertemu setelah kejadian hari itu, dan kinilah saatnya.
Kini saat-saat untuk melepaskan segala cinta yang ada.
"Mas Adnan, aku....." Rena tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tetapi dirinya merasa ada cairan yang keluar dari dalam dirinya.
Cairan yang mampu membuatnya merasa puas dan juga bahagia.
Meskipun dirinya tak tahu itu cairan apa, semua didapatkan setelah bersama dengan Adnan.
Namun, Adnan masih saja berpacu di atas tubuhnya, sekalipun keringat semakin banyak membanjiri tubuhnya, tak lantas membuatnya menjadi lelah.
Hingga akhirnya Rena pun merasa kenikmatan datang lagi dan ikut merasakan sesuatu yang begitu besar dan keras yang menusuk dirinya di dalam sana.
Kurang ajar.
Rena pun kembali terbuai dan mencoba untuk menggerakkan pinggulnya dengan penuh nafsu, ini sungguh luar biasa tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Sampai akhirnya keduanya pun mendapatkan puncaknya, jika Rena sudah sampai untuk yang kesekian kalinya. Maka, Adnan baru satu kali saja.
Tetapi percayalah, hari ini di siang yang terik ini dirinya merasa kepuasan yang begitu luar biasa.
"Mas, aku haus."
Adnan pun turun dari atas tubuh Rena, meraih mineral pada meja nakas dan memberikannya pada Rena.
Sesaat kemudian keduanya pun kembali berbaring dan Adnan pun menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya tersebut.
Rena sudah terlelap dengan cepat, sedangkan Adnan terus saja menatap wajah Rena dengan rambutnya yang berantakan.
Semua itu adalah hasil dari dirinya yang terlalu terbakar dengan api gairah kehangatan yang begitu luar biasa.
__ADS_1
"Terima kasih," Adnan pun mencium bibir Rena, menyisir rambut wanitanya yang begitu cantik itu.
Semakin lama Adnan semakin jatuh cinta pada seorang Rena.