
"Alex, sakit ya?"
"Enak, pengen lagi. Ini namanya gigitan rasa cinta," celetuk Alex tiba-tiba sambil melihat wajah Jessica yang ketakutan.
"Ish! Kamu gitu ih! Ku pikir kamu kesakitan!" Jessica pun menggaruk meja, kesal rasanya pada Alex.
"Maaf deh, aku kamu kan love-love jadi kalau gigitan kamu ya aku aman-aman aja. Paling sedikit kena virus," ujar Alex panjang lebar.
"Virus?" Jessica bingung, dan mengapa Alex mengatakan virus.
"Emangnya aku apaan!"
"Virus cinta!"
"CK" Jessica terdiam sambil membuang pandangannya ke arah jalanan, melihat kendaraan yang terus berlalu-lalang
Tapi tidak dengan hatinya, hatinya malah sedang berlalu lalang di awan saat gelapnya malam hampir datang.
Sayangnya tidak ada artinya dengan sinar cinta yang kini mulai bersemi di dalam hati wanita yang sudah dua kali membina rumah tangga itu.
"Kamu mikirin apa?" Tanya Alex saat melihat wajah Jessica tidak juga melihat ke arahnya.
Jessica pun berusaha tenang, menyimpan senyuman yang sebenarnya sudah terukir di relung hati paling terdalam.
"Nggak apa-apa!"
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa!"
"Ini Mas Nasi goreng nya."
Nasi goreng pun tersaji, si penjual pun meletakkan di atas meja.
"Terima kasih," kata Alex sambil menarik salah satu piring nasi goreng. Namun tiba-tiba saja di tarik kembali oleh Jessica.
"Aku nggak cukup satu porsi, dua baru cukup!" Kata Jessica semakin menjauhkan dari Alex.
"Dasar rakus!"
"Biarin!"
Alex pun meminta dibuatkan nasi goreng satu porsi lagi, sambil menunggu dirinya melihat Jessica yang mulai makan dengan lahapnya.
Bahkan dengan gerakan cepat, seakan takut nasi gorengnya dihabiskan.
"Pelan-pelan aja, tidak ada yang akan menghabiskan!"
"Aduh panas!" Jessica pun panik, kemudian berdiri malah tanpa sengaja memegang seseorang sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Hey! Cewek gatel. Jangan pegang-pegang suami saya!" Seru sang istri.
Jessica pun tersadar, awalnya dirinya hanya refleks saja. Tanpa sengaja ternyata suami orang.
"Maaf," Jessica menangkup kedua tangannya, benar-benar merasa bersalah.
"Dasar gatal!" Seru wanita itu lagi. Jessica pun terkejut mendengar perkataan wanita tersebut untuk yang kedua kalinya, seketika Jessica melihat suami dari wanita itu.
Gemuk, hitam, pendek. Sama sekali tidak ada yang bisa membuatnya tertarik.
"Hey, istri saya tidak sengaja. Lagi pula kalau model suami mu begini dia pasti rugi meninggalkan suami setampan aku!" Tegas Alex dengan bangga.
Glek!
Jessica meneguk saliva sambil menahan tawanya saat Alex membanggakan dirinya.
__ADS_1
"Em, anu Mas. Itu," wanita asing tersebut tampak gelagapan, melihat wajah tampan Alex.
"Bebeb, ayo kita pergi!"
"Mas aku Bunga Sekar mawar melati semua indah," wanita tersebut pun mengulurkan tangannya pada Alex.
Plak!
Jessica pun memukul tangan wanita tersebut.
"Ini suami saya!" Geram Jessica.
Alex tersenyum melihat istrinya yang sepertinya sedang kesal saat dirinya digoda oleh wanita di hadapannya, padahal wanita itu sangat jelek di mata Alex. Seketika Jessica pun menarik Alex untuk segera menuju mobil.
"Mas, ini nasi gorengnya!" Seru si pedagang nasi goreng.
Bukan hanya belum di habiskan, tetapi juga belum dibayar.
"Jessica, nasi gorengnya!" Alex juga mengingatkan Jessica.
"Udah nggak nafsu!" Ketus Jessica.
Alex tersenyum dan menaik turunkan kedua alis matanya.
"Kenapa?" Tanya Jessica belum mengerti dan belum menyadari sikap anehnya saat ini.
"Ada yang panas tapi bukan kompor, ada yang menyala tapi buka api obor," kata Alex sambil mendekati wajah Jessica.
"Maksudnya?"
Jessica tidak suka berbasa-basi, sama sekali tidak mengerti maksud Alex.
"Kamu cemburu ya?" Alex mencolek dagu Jessica.
Em!
"Nggak, siapa bilang!" Elak Jessica.
"Iya" Alex pun menyenggol lengan Jessica dengan sengaja, untuk menggoda istrinya tersebut.
"Nggak Alex!"
"Ya aja!"
"Nggak!"
"Mas, ini bayar! Pacaran aja! Pacarnya udah bunting juga nggak di nikahin!" Omel si pedagang dengan asal.
Jessica dan Alex pun saling tatap, seketika keduanya tertawa terbahak-bahak tanpa bisa ditahan.
"Dasar aneh!" seketika penjual nasi goreng terasa aneh pada dua orang pelangganya itu.
Alex pun mencari keberadaan dompet nya, tapi sepertinya benda tersebut tidak berada pada saku celananya seperti biasanya.
"Aku ke mobil dulu, kayaknya dompet ku ketinggalan di mobil," Alex pun segera menuju mobil, sesaat kemudian kembali.
"Ayo bayar," Jessica sudah tidak sabar ingin pergi, tetapi Alex tampaknya sedang kebingungan
"Bayarnya pakai uang kamu ya, dompet aku ketinggalan," kata Alex.
"Aku nggak bawa dompet dari rumah," Jessica memang tidak membawa dompet sama sekali, dirinya sedang malas menenteng tas.
Lagi pula sudah terbiasa isi dompetnya tidak terpakai saat bersama Alex, jadi Jessica jarang membawanya.
"Mas! Bayar!" Terdengar suara dari arah gerobak, seorang pria masih menunggu bayaran atas nasi goreng buatannya.
__ADS_1
Alex dan Jessica pun tersenyum lucu.
"Mas, dompet saya ketinggalan. Nanti saya kembali lagi, dan membayarnya. Saya tidak akan melarikan diri," kata Alex meyakinkan.
"Enak aja!" Pria itu berjalan ke arah Alex, geram rasanya memesan banyak tapi malah tidak membayar.
"Saya janji Mas," kata Alex lagi, pertama kalinya hal ini terjadi.
Alex seperti seorang pria yang membawa wanita berkencan namun tidak memiliki uang.
"Suruh cuci piring aja Mas, dia kebiasaan memang begitu," Jessica kembali duduk dengan santai, kemudian melihat Alex yang melihat ke arahnya dengan aneh.
"Itu lebih baik! Cuci piring!"
Akhirnya Alex mencuci piring pelanggan yang baru saja selesai makan, sampai akhirnya terdengar suara benda jatuh.
Ternyata tiga buah piring pecah di tangan Alex.
"Ya ampun! Cukup dan pergi dari sini. Saya bisa lebih rugi kalau ada kalian!" Dengan penuh kemarahan pedagang tersebut mengusir Alex.
Alex pun menggaruk kepalanya, ini sangat aneh. Dirinya tidak tahu cara mencuci piring.
"Maaf Mas," Alex merasa tidak enak hati, sudah memecahkan piring tersebut.
"Nggak usah makan di sini lagi kalau nggak punya uang, sok sokan satu porsi satu juta. Harga satuan cuma lima belas ribu juga nggak ke bayar!" Gerutu pria itu penuh kekesalan.
"Alex?" Tanya Jessica bingung, seketika Jessica ingat beberapa saat lalu Alex berbisik pada penjual nasi goreng, kini Jessica pun bisa menyimpulkan.
"Ahahahhaha," tawa Jessica pecah seketika itu juga.
"Hehe," Alex tersenyum kecut merasa malu.
Sampai di dalam mobil pun Jessica masih terus tertawa, melihat wajah Alex yang masih menahan malu.
Tapi paling tidak sampai disini Jessica merasa bahagia, kebahagiaan yang sesungguhnya bukan hanya dengan harta yang berlimpah.
Tapi harus ada perhatian dan kasih sayang didalamnya.
"Ketawa aja terus!"
"Makasih ya, aku nggak nyangka kamu bisa begitu," Jessica menghentikan tawanya dan berbicara dengan raut wajah serius.
"Ya ampun," Alex menunjuk ke arah luar.
Jessica pun melihatnya, sesaat tidak melihat apa-apa kembali memutar leher dan ingin menatap Alex.
Terapi malah bibir Alex membentur pipinya.
"Makasih!" Alex tersenyum bahagia dan mulai melajukan mobilnya.
Jessica tersadar ternyata barusan Alex mengerjainya.
"Kamu jahat!" Jessica memukul lengan Alex dengan kesal.
Alex tertawa karena merasa berhasil setelah mengerjai Jessica.
"Ahahahhaha.......Itu bayaran buat ide kamu yang minta aku nyuci piring!"
"Hehe, emang enak!" Ejek Jessica.
"Mana piringnya pecah, kita itu seperti benar-benar tidak punya uang. Menyedihkan sekali, tapi besok bisa dicoba lagi, itung-itung makan gratis!" Kata Jessica sambil terkekeh geli.
"Kamu makan gratis, aku?" Tanya Alex.
"Aku makan gratis!" Jessica kembali menertawakan Alex yang sedang kesal padanya.
__ADS_1
"Dasar!"