
"Udah jam segini, aku harus pulang." Vanya pun membilas diri kemudian memakai pakaiannya berpamitan pada Sela kemudian pulang dengan menggunakan taksi.
Sesampainya di rumah Vanya melihat Nayla dan Devan yang menungguinya di ruang tamu sederhana miliki Ina.
Vanya pun berlari memeluk Nayla, bahkan sampai melempar dua kantung plastik berisi barang miliknya yang barusan di belinya dengan sembarangan. Tepatnya di beli dengan uang Riki tanpa di ketahuinya.
"Bunda!" Seru Vanya dengan bahagia.
"Anak Bunda," Nayla sangat merindukan anaknya hingga hari ini meminta Devan untuk menjemput anaknya tersebut. Devan pun menyetujuinya, apa lagi dirinya juga sudah sangat merindukan Vanya.
"Kamu sudah banyak belajar?" Tanya Devan.
Vanya pun beralih memeluk Devan, lelaki yang paling di cintainya tersebut.
"Kita pulang ya," kata Devan.
Vanya pun mundur sambil menggelengkan kepalanya, menolak tawaran kedua orang tuanya, dirinya masih ingin menikmati kebebasan ini.
Kebebasan yang begitu hakiki, lagi pun Vanya masih ingin menjadi guru di sekolah milik Sela.
"Aku, di sini dulu ya. Yah, soalnya aku banyak belajar menjadi sederhana di sini. Sama Ninda, aku juga udah bisa bikin kopi," Vanya pun segera menuju dapur. Kemudian kembali dengan secangkir kopi buatannya.
"Ayah cobain," dengan bangga Vanya pun meletakkan kopi pada meja.
Devan merasa kopi tersebut begitu horor, tetapi tetap meminumnya karena tak tega pada Vanya. Namun benar saja, kopi buatan Vanya begitu nikmat.
"Wah, anak Ayah ternyata sekarang sudah besar," Devan pun menarik Vanya untuk duduk di sampingnya kemudian mengelus kepala Vanya. Merasa sangat bahagia saat melihat perubahan pada anaknya walaupun hanya sebatas membuat kopi.
"Hehe," Vanya pun tersenyum dengan bangga, akhirnya Devan bisa memuji dengan sebenarnya tanpa berbohong hanya karena ingin dirinya bahagia.
__ADS_1
"Bereskan pakaian mu, kita pulang," kata Nayla.
"Nggak, Bunda. Aku di sini dulu ya. Please, janji aku nggak akan bikin masalah. Buktinya aku nggak adakan bikin masalah," kata Vanya penuh harap.
Vanya belum menyelesaikan permasalahannya dengan Riki, bagaimana kalau Devan tahu dirinya berani ke club malam lagi saat itu. Ataupun Riki mencarinya dan ingin memenjarakan karena melarikan diri.
Tentunya di mata Devan tidak ada kebanggaan seperti saat ini, saat dirinya berhasil membuat kopi karena Ninda yang mengajarkannya.
"Ayah, Bunda," mata Vanya pun berkaca-kaca, memohon kepada kedua orang tuanya.
Dengan berat hati Devan pun mengangguk.
"Tapi, sering-sering ke rumah," Devan mengusap kepala Vanya.
"Ninda, saya titip anak saya, ya."
"Iya, Tuan." Ninda pun mengangguk.
"Vanya, kamu yakin nggak mau pulang?" Rasanya Ninda merasa aneh saat Vanya menolak untuk pulang, mengingat rumah Vanya jauh lebih besar dari pada rumahnya.
"Kamu nggak suka aku di sini?" Vanya kembali bertanya sambil memasang wajah kesalnya.
"Nggak gitu keles, rumah ku kecil. Emang betah?" Ninda pun memperjelas pertanyaannya mengingat Vanya sudah terbiasa di layani oleh banyak pekerja sedangkan di rumahnya tidak. Jika ingin melakukan sesuatu semuanya harus di lakukan dengan tangan sendiri pastinya semua serba sederhana.
"Kamu lupa ya, aku masih punya masalah sama Om Riki. Masih tersisa sampai dua puluh enam hari ke depan."
"Benar juga, hampir juga aku lupa," Ninda pun sekarang mengerti tentang alasan Vanya yang sebenarnya.
"Tapi aku suka sih kamu ada di sini lama-lama, aku berasa punya teman."
__ADS_1
"Aku punya sesuatu buat kamu."
Vanya pun menunjukan dua buah kantong plastik, kemudian memberikannya pada Ninda.
"Ini banyak camilan dan ini alat kecantikan," ujar Vanya dengan senyuman.
"Banyak banget ini makanan."
"Aku abis ngibulin Om Riki," Vanya pun tertawa karena bisa membeli makanan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
"Kamu ngerjain dia mulu, entar jodoh," celetuk Ninda.
"Ogah, amit-amit deh. Masa aku sama Om-Om!" Vanya ingin muntah mengingat wajah Riki yang begitu tua di matanya.
Lagi pula tidak akan mau dengan Riki yang sudah berusia di atasnya.
"Tapi, bagus juga sih. Kamu hebat banget!
"Vanya!" Vanya pun tersenyum penuh kebanggaan, membanggakan dirinya sendiri hingga akhirnya keduanya pun tertawa bersama-sama dengan begitu riangnya.
############
Uhuk... Uhuk...
Riki malah tersedak saat sedang menikmati makan malamnya.
"Minum dulu," kata Sela.
Riki pun meneguk mineral kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Lama Riki terdiam di depan jendela kaca yang menghadap langsung ke kolam renang.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba muncul bayangan saat-saat sedang berenang bersamanya, entah mengapa tiba-tiba bayangan wajah Vanya melintas begitu saja. Tetapi Riki memilih untuk menepisnya, sebab itu sama sekali tidak penting baginya.
Vanya hanya wanita ceroboh yang tidak harus di pikirkan oleh otaknya yang terlalu berat memikirkan banyaknya pekerjaan yang jauh lebih penting. Sampai akhirnya Riki pun memutuskan untuk mencari hiburan seperti biasanya. Apa lagi yang di lakukannya selain mencari sedikit ketenangan.