
Riki tidak tahu lagi harus berbicara seperti apa pada Vanya.
Semua yang keluar dari mulutnya hanya membuat amarah Vanya semakin meninggi saja, dirinya benar-benar putus asa.
"Vanya, aku sangat merindukanmu. Apa kau mengerti?"
"Nggak! Bohong! Buktinya kau membeli ku dengan uang dan semua barang mahal itu, aku tidak butuh! Kalau cinta ya cinta saja, tidak usah membeli ku dengan benda dan uang!"
"Membeli?" Riki terperangah mendengar apa yang di katakan oleh Vanya.
Hingga akhirnya Vanya pun berbalik badan dan langsung mendongak menatap Riki penuh kemarahan.
"Ya sudah, mana semua barang-barang tadi. Berikan pada ku, kemudian tiduri aku seperti wanita yang kau temui di klub malam itu!"
"Vanya!" Riki pun meninggikan nada bicaranya, sungguh apa yang di katakan oleh Vanya begitu membuat amarahnya membuncah.
Bagaimana bisa wanita itu berpikir demikian, apakah tidak tampak cinta di matanya.
Vanya pun meneguk saliva masih dengan amarahnya meskipun matanya mulai berkaca-kaca karena bentakan keras Riki barusan.
Dirinya yang tidak terbiasa di bentak oleh orang-orang yang di sayanginya merasa sedikit kesal.
"Kalau aku mau, aku bisa. Tapi apa? Aku mengatakan pada mu untuk menikahi mu! Bukan meniduri mu tanpa pernikahan!" Papar Riki penuh ketegasan.
Kedua tangan Riki memegang lengan bagian atas Vanya menjelaskan semua hal yang mungkin membuat Vanya menjadi seperti saat ini.
Riki memahami Vanya adalah anak kecil yang masih labil sehingga menjelaskan dengan pasti agar mudah di mengerti.
Riki sudah dewasa tidak ada waktu untuknya bermain-main seperti berpacaran. Bahkan, sudah pernah menikah. Sehingga tidak akan mudah menjalani hubungan tanpa mengarah pada ranjang.
Sehingga saat merasa yakin akan perasaannya terhadap Vanya, Riki ingin menikahi dengan segera.
Memiliki dengan sepenuhnya mencintai dengan setulusnya. Hidup bersama mencapai mahligai rumah tangga penuh bahagia.
Tapi sepertinya Vanya tidak mengerti dengan sepenuhnya sehingga dengan mudah bibirnya berkata apa saja yang terlintas di otaknya.
Bahkan tanpa berpikir bahwa dirinya tidak bisa kehilangan wanita kurang ajar yang ada di hadapannya ini.
Tidak ada yang lain selain cinta yang menggebu, tidak ada yang tersisa selain penantian untuk hidup bersama.
"Ngomong apa sih!" Vanya pun menepis tangan Riki tak ingin mendengarkan apapun.
Apapun yang di katakan oleh Riki tidak membuat Vanya yakin sama sekali, mengapa demikian.
Cemburu!
Rasa cemburu yang tidak jelas arahnya membuatnya menjadi seorang wanita aneh dan tidak waras.
__ADS_1
Tidak mengutarakan, sehingga tidak mengetahui penjelasan.
Apakah penyebabnya?
Gengsi, yang hanya ingin di mengerti meskipun tanpa memberitahukan dengan pasti.
"Caelah, sok jual mahal banget deh," Ninda pun kembali dan melihat ketegangan antara Vanya dan juga Riki.
Ingin sekali Ninda mengacak-acak wajah Vanya, wanita itu sedang rindu tapi begitu sensitif terhadap apa saja yang keluar dari mulut Riki.
Ya ampun, bahkan Ninda ingin sekali muntah melihatnya.
Hingga kedua pasang bola mata yang sedang beradu pandang itu pun beralih menatap Ninda yang berdiri tidak jauh dari keduanya.
Entah sejak kapan Ninda ada di sana, bahkan keduanya tidak menyadari sama sekali.
"Nih, ya Om. Aku kasih tahu," Ninda pun menatap Vanya.
"Kalau nggak ada Om Riki, galau. Ponsel sampai di hancurkan, sudah ketemu juga masih marahan aja." Jelas Ninda meskipun belum dengan secara jelasnya.
"Maksudnya apa?" Tanya Vanya kesal.
Menurutnya Ninda terlalu sok tahu sehingga berbicara dengan semaunya saja dan menurutnya itu hanyalah sebuah omong kosong belaka.
Tapi bagaimana dengan Ninda? Perdulikah?
"Om, Vanya itu sedang cemburu buta. Dia kesal karena waktu itu mendengar suara perempuan sewaktu Om dan Vanya berbicara di telepon," Ninda tak perduli akan Vanya yang jelas dirinya hanya ingin menjadi perantara agar keduanya tak lagi berselisih paham.
Sebab tanpa di jelaskan lebih jauh pun Ninda sudah tahu Vanya sudah jatuh hati pada Riki ataupun Om duda lapuk yang di sebutnya sendiri.
"Kalau ngomong jangan asal!" Vanya pun menepis dengan cepat, tak ingin Riki percaya dengan apa yang di katakan oleh Ninda.
Sementara Ninda malah tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Vanya bahkan ingin rasanya berguling-guling saat ini juga karena terlalu lucu.
"Kangen sih, kangen aja nggak usah ngambek juga kali! Cepetan selesaikan masalahnya, sebentar lagi Ibu pulang, bisa ngamuk Ibu tahu ada laki-laki di sini!" Ninda pun kini melihat Riki.
"Om, jangan PHP kata Vanya, ngomong cintanya serius nggak? Itu isi hati Vanya Om," Ninda pun terkekeh kecil saat mengulangi kata yang pernah di ucapkan oleh Vanya tentang Riki saat itu padanya. Setelah itu langsung masuk ke dalam rumah, perutnya sudah sangat lapar tidak akan kenyang melihat dua orang itu, tetapi masih saja berteriak dari dalam sana.
"Jangan lupa makan, jatuh sakit tidak seindah jatuh cinta!"
Riki pun beralih menatap Vanya sedangkan Vanya ingin segera masuk ke dalam rumah.
Kesal bukan main pada Ninda yang berbicara dengan sesukanya, mungkin juga wanita itu harus di ketok otaknya agar bisa bekerja dengan normal kembali.
"Mau kemana?" Riki pun menarik Vanya hingga akhirnya wanita itu berakhir di pelukannya.
Rindu rasanya tak bertemu sekian lama, butuh sebuah pelukan hangat untuk melepas rindu yang menggunung itu. Begitu juga dengan Vanya yang terdiam saat Riki memeluknya.
__ADS_1
Seakan dekapan itu begitu mudah menenangkan dirinya, dada lebar itu terlalu nyaman hingga tak ingin di lepaskan lagi.
"Aku minta maaf, maaf kalau aku salah berbicara. Aku tidak bermaksud demikian, aku hanya ingin membuat mu merasa bahagia seperti selama ini," jelas Riki.
Bukankah biasanya Vanya hanya bahagia jika menyangkut soal uang dan barang-barang mahal.
Apakah salah Riki ingin membahagiakan wanita yang di cintainya dengan cara apa yang di ketahuinya selama ini?
"Dulu dan sekarang udah beda Om dulu aku nggak sayang sama Om. Jadi, butuh sogokan duit, kan kesal Om terus mikir gitu!"
"Dulu nggak sayang? Sekarang sayang berarti ya?" Tanya Riki.
Vanya pun terdiam menyadari apa yang di katakannya barusan. Tapi sudahlah, semua memang harus di ungkapkan oleh bibir agar tidak terus dalam ketegangan.
"Iya," jawab Vanya dengan malu-malu.
"Kenapa tidak bilang!" Riki pun menyentil dahi Vanya membuat wanitanya itu menjauh dan memegang wajah cemberut.
"Sakit tahu Om!"
"Hehe," Riki pun kembali menarik Vanya ke dalam pelukannya, sungguh rasanya kini sangatlah berbeda dari sebelumnya.
Begitu pun juga dengan Vanya yang membalas pelukan hangat Riki.
"Aku pulang dulu, sampai jumpa besok."
"Bye Om!" Seru Vanya dengan senyuman.
Riki memasuki mobilnya sambil tersenyum bahagia dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan hati yang penuh kebahagiaan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah bibir Riki terus saja tersenyum dengan bahagia, tetapi ada satu hal yang membuat Riki ingin tertawa.
"Om?"
Itulah panggilan Vanya yang terdengar lucu dan menggemaskan, padahal sudah sama-sama mengetahui saling memiliki perasaan.
Tapi tidak masalah, mungkin memang perbedaan tak selamanya memisahkan.
Melainkan menyatukan dengan rasa yang terus saling mengikat
Tapi percayalah, saat ini Riki juga menjelma menjadi ABG lagi, karena apa?
Karena Vanya yang mampu membuatnya menjadi begini terbang melayang sampai lupa jalan pulang.
"Ya ampun, wanita itu harus ku nikahi dengan cepat. Kenapa aku jadi begini," Riki menyadari dirinya malah berputar di daerah itu-itu saja.
Kurang ajar.
__ADS_1
Baiklah Riki tidak boleh begini, mencoba untuk fokus mengemudi agar tidak lupa jalan pulang.