
Riki duduk di kursi dengan menatap masakan di hadapannya, pikirannya benar-benar tidak baik-baik saja.
Bahkan terkesan tidak bersemangat sama sekali, apa lagi nantinya akan mendengarkan sesuatu yang akan dikatakan oleh Devan.
Riki sudah dapat menebak apa yang akan di bahas, sungguh membuatnya tidak bersemangat sama sekali.
"Makan," kata Nayla.
Lagi-lagi Nayla mengisi piring Riki, tidak ingin terus merasa tidak enak.
Nayla masih mengerti dengan Riki yang masih butuh waktu untuk lebih dekat dengan keluarnya.
"Nayla!" Kata Devan.
Devan melihat istrinya sedang mengisi piring Riki lagi-lagi seperti sebelumnya. Membuat Nayla pun sejenak terdiam dan beralih melirik Devan penuh tanya.
"Ya Mas?"
"Biarkan saja dia yang mengisi piringnya, dia juga harus menyesuaikan diri dengan keluarga kita," jelas Devan.
Nayla pun tersenyum bingung, kemudian kembali melihat Riki. Sesaat kemudian beralih melihat Devan.
"Nggak apa-apa Mas, mungkin Riki masih segan, ," kata Nayla lagi.
Lagi-lagi berusaha untuk tetap membuat keadaan lebih baik.
Di satu sisi ingin membuat suaminya mengerti, sementara di sisi yang lain ingin membuat Riki lebih dekat dengan mereka semuanya.
"Duduk!" Devan memegang tangan Nayla, meminta istrinya itu untuk duduk di kursi seperti sebelumnya. Sebab dirinya ingin Riki yang melakukannya sendiri.
Akhirnya dengan terpaksa Nayla pun duduk, dirinya hanya sedang berusaha untuk menghindari sebuah pertengkaran.
Sangat mengerti seperti apa keras kepalanya suaminya itu.
"Semuanya, ayo makan," kata Devan menatap wajah-wajah yang lainnya, hingga akhirnya tatapan matanya tertuju pada Riki.
"Apa sudah selesai melakukan apa yang aku perintahkan?"
Riki pun terdiam, akhirnya Devan berbicara hal itu juga.
Hingga beberapa detik kemudian Riki pun bersuara.
"Belum Om."
"Tidak masalah, bagiku kau sudah sangat bersungguh-sungguh dalam hal ini," jawab Devan dengan tenang.
Riki pun menatap bingung, begitu juga dengan yang lainya yang menantikan kata-kata yang keluar dari mulut Devan selanjutnya.
"Syaratnya aku ganti, kau boleh menikah dengan putri ku dalam waktu dekat ini. Asalkan kau tinggal di rumah ini," papar Devan.
Riki pun terkejut mendengarnya, rasanya ini sangat mengejutkan sekali bagi dirinya.
__ADS_1
Ingin mengatakan pada Devan untuk mengulangi sekali lagi ucapannya namun Riki tidak memiliki keberanian.
Tapi Riki pun yakin apa yang didengarnya tidak salah.
"Kau bersungguh-sungguh ingin menikahi Vanya?" Tanya Devan kembali.
Riki pun mengangguk cepat sambil menatap Devan dengan wajah berbinar.
"Ya Om," jawab Riki penuh keyakinan.
"Om? Dasar, calon menantu tidak tahu diri!" Devan pun tersenyum miring.
Hingga Nayla pun segera menimpali pembicaraan.
"Riki, mulai hari ini kamu adalah anggota keluarga kami. Panggil saya Bunda, dan Ayah," Nayla memegang lengan Devan. Bermaksud untuk menunjuk suami tercintanya tersebut.
Riki pun mengangguk mengerti, rasanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Seketika membuat semangatnya yang hampir hilang bangkit kembali.
"Kenapa tidak kau selesaikan saja pekerjaanmu menguras kolam?" Kata Felix bermaksud untuk membuat keadaan memanas.
"Paling tidak, kau bisa membuktikannya dengan baik. Meskipun tidak sesuai dengan waktu yang di tentukan," tambah Felix lagi.
Glek!
Riki pun meneguk saliva, dalam hati berkata bahwa Felix adalah sahabat yang durhaka karena selalu membuatnya tersiksa.
Ya ampun, semoga saja tidak sampai terjadi.
Riki pun semakin kesal saja, seakan Felix menarik ulur keadaan ini.
Karena lagi-lagi hanya membuat jantungnya terus penuh dengan was-was.
"Felix, sudahlah. Jangan begitu, kasihan Riki," Nayla tidak ingin Felix membuat Riki menjadi tersudut, lagi pula mungkin Riki belum mengerti akan keluarga mereka yang memang sangat suka saling melempar candaan.
"Hay semuanya," Vanya pun bergabung di meja makan setelah diperintahkan oleh Nayla mengantarkan makanan untuk Rena.
Tapi semua mata kini tertuju pada dirinya, membuatnya merasa bingung saja.
"Ada yang salah dengan aku?" Tanya Vanya sambil melihat dirinya.
Tidak ada yang perduli dengan pertanyaan Vanya sama sekali.
"Minggu depan kalian akan menikah, Ayah tidak mau sampai ada yang terjadi sebelum itu!" kata Devan memberikan peringatan.
"Nikah?" Tanya Vanya bingung.
"Iya, Ayah sudah bosan dengan mu. Makanya kau dinikahkan secepat mungkin!" Tambah Felix.
Wajah Vanya pun menatap Devan penuh tanya,
"Ayah nikahin aku karena bosan sama aku?"
__ADS_1
"Felix!" Devan pun menegur putra sulungnya yang sangat suka menggoda adiknya.
"Dasar! Mana ada, Ayah sayang aku kok" kata Vanya dengan yakin.
Felix pun tersenyum miring.
"Vanya, kamu akan menikah dengan Riki. Belajarlah dari sekarang untuk menjadi istri yang baik!" Tegas Devan.
"Ayah serius?" Tanya Vanya dengan hati yang berbunga-bunga.
Rasanya tidak percayalah saat Devan sendiri yang menerimanya restu.
"Apa kamu mau Ayah menarik ucapkan Ayah?"
"Jangan dong Yah," Vanya pun tersenyum kemudian menatap Riki.
"Oh, Kakanda," Vanya ingin memeluk Riki.
Tetapi dengan cepat Riki pun bangkit dari duduknya, karena tidak ingin dipeluk oleh Vanya saat ini.
Sebenarnya Riki sangat kasihan pada Vanya, tetapi saat ini Riki tidak ingin kehilangan restu Devan.
"Vanya!" Devan pun menegur Vanya.
"Hehe," Vanya pun cengengesan sambil menahan malu.
"Dasar!" Kata Felix kesal pada adiknya.
Vanya pun menatap Riki dengan tajam seakan mengibarkan bendera perang, setelah dirinya dipermalukan.
"Mas, sengaja mau bikin aku malu? Biasanya Mas yang nyo....." Riki langsung menutup mulut Vanya, karena tidak mau Vanya mengatakan suatu hal yang membuat restu menghilang.
"Sayang, jangan bicara apa-apa. Atau Ayah akan mencabut restunya," bisik Riki.
Vanya pun mengangguk mengerti, kemudian Riki pun melepas dirinya.
"Maaf Om, maksudnya Ayah," Riki merasa tidak enak hari setelah memegang Vanya di hadapan Devan, tetapi itu terpaksa dilakukan.
"Hehe, maaf Ayah. Aku juga salah," Vanya pun tersenyum kikuk, berharap Devan tidak marah pada dirinya.
"Sudahlah, ayo makan!" Kesal Devan.
Bagaimana bisa tidak menikahkan keduanya yang sudah begitu dekat, rasanya Devan juga tidak ingin anaknya melakukan hal diluar batas sebelum menikah.
"Kakanda, makan pakai apa?" Tanya Vanya.
"Pakai tangan lah, nggak mungkin pakai serok!" Ketus Felix.
"Dasar!" Vanya pun kesal pada Felix yang mengejek dirinya.
Tapi tidak masalah juga, karena hati sedang bahagia.
__ADS_1