
Pagi hari ini Vanya merasa lebih baik, setelah istirahat kemarin hari benar-benar membuatnya menjadi lebih segar.
"Kamu udah sembuh?" Tanya Ninda yang membawakan secangkir teh hangat.
"Udah, Ninda. Bunda, nggak tahu kan kemarin aku sakit?"
"Tenang, aman," Ninda pun tersenyum menyakinkan Vanya.
Bahwa dirinya menuruti semua keinginan Vanya, sebab tahu Vanya masih harus bekerja untuk Riki dan kalau sampai pulang ke rumah tentunya Devan pun pasti tahu apa yang sudah di perbuat putri tercintanya hingga akhirnya harus menebus kesalahan.
"Makasih ya, kamu memang yang terbaik."
"Tidak masalah, minum dulu teh nya."
Vanya mengangguk dan menyeruput teh buatan Ninda yang pastinya sangat segar.
"Hari ini mau istirahat atau berangkat ke rumah Om Riki?"
"Berangkat aja, lebih cepat masalah ku selesaikan artinya aku bisa mendapatkan sebuah kebebasan yang sebenarnya"
"Ya udah, aku juga hari ini ada acara."
"Hayo, acara apaan?" Goda Vanya.
"Apaan sih!" Ninda pun tersenyum saat Vanya menggodanya.
"Cie......"
"Vanya, mending siap-siap. Ada Sandi tuh yang nungguin di luar!"
"Sandi?" Vanya langsung melompat dari atas ranjang, rasanya tak percaya bahwa orang yang di sukainya pagi-pagi sekali sudah datang menemuinya.
Dengan penuh semangat Vanya pun memasuki kamar mandi, setelah selesai mandi berlanjut memakai pakaiannya.
Tidak lupa lipstik tipis dan juga parfum yang membuatnya lebih percaya diri.
Sesaat kemudian Vanya pun menemui Sandi, ingin sekali Vanya bersorak sambil bergoyang-goyang karena Sandi.
Senyuman manis membuat Vanya meleleh seketika itu juga.
"Kamu jengukin aku? Aku udah sembuh kok," kata Vanya.
"Iya, abis aku semalam kepikiran kamu terus," kata Sandi pun.
"Ya ampun," Vanya sampai memeluk tembok karena tak kuasa mendengar kata manis yang di ucapkan oleh Sandi.
Tin... tin...
Suara klakson mobil dari luar pagar membuat keduanya melihat ke arah mobil tersebut. Tampak Riki yang berada di dalam mobil tersebut, Vanya mendesus sambil ingin muntah.
"San, aku berangkat dulu ya. Percaya deh, dia cuma majikan aku," Vanya mencoba untuk membuat Sandi tetap seperti ini padanya.
Jangan sampai berpikir jika dirinya memiliki hubungan dengan Om-om.
"Nanti aku bakalan ngomong sesuatu ke kamu," kata Sandi sambil tersenyum.
Sedangkan Vanya ingin sekali guling-guling di atas rerumputan, wajah tampan Sandi benar-benar membuatnya tidak karuan.
__ADS_1
Tin... tin...
Wajah Vanya pun kembali masam.
'Apaan sih itu duda lapuk!" Umpat Vanya, kemudian kembali tersenyum manis pada Sandi.
"San, aku berangkat dulu," Vanya pun melambaikan tangan pada Sandi.
Kemudian bersiap untuk berbalik, namun saat itu malah membentur sesuatu.
"Aduh!" Vanya tersadar ternyata Riki sudah berada di dekatnya.
Entah kapan laki-laki tersebut turun dari mobilnya, tetapi mendadak membuat jantung Vanya ingin terlepas dari tempatnya. Karena menahan kemarahan.
"Apaan sih Om!" Pekik Vanya.
Tak pernah ada kedamaian jika sudah menyangkut tentang Riki, seperti apapun Riki, tetap saja di mata Vanya tidak ada yang istimewa.
Berbeda halnya dengan Sandi yang terus mampu membuat jantungnya terpacu menahan sebuah gelora asmara.
Kurang ajar!
Inikah jatuh cinta?
Ah, Vanya senang bila jatuh cinta.
"Berhenti tersenyum!" Riki menyadari senyuman Vanya yang tertuju pada Sandi membuatnya memilih untuk menarik tangan Vanya lebih cepat.
"Sampai ketemu lagi!" Vanya tak perduli sama sekali, meskipun Riki terus menariknya tetapi tetap saja Vanya memberikan senyuman termanis pada Sandi.
Begitu juga dengan Sandi yang membalas senyuman Vanya.
Vanya pun masuk dan duduk dengan tidak senang sama sekali.
Hingga terus saja menunjukkan wajah masamnya saat Riki duduk di sampingnya.
Tersadar bahwa mereka tidak menuju rumah membuat Vanya bertanya-tanya kemana Riki akan membawanya.
"Om, ini bukan jalan menuju rumah kan?" Vanya pun akhirnya bertanya dari pada terus saja merasa penasaran.
Tetapi Riki hanya melirik sekilas saja, setelah itu kembali berfokus melihat jalanan tanpa perduli pada Vanya.
"Woy, kaleng roti!" Seru Vanya dengan suara kencangnya.
"Berisik!"
"Manusia ini bertanya? Apa mungkin Tante Sela ada di rumah sakit?" Tebak Vanya lagi.
Sebab dirinya bekerja untuk Sela, begitulah yang di katakan oleh Riki awalnya.
Tapi tidak.
Yang ada Riki membawanya ke kantor membuat Vanya kembali kebingungan.
"Om, ngapain aku di bawa ke sini?" Tanya Vanya lagi-lagi.
"Kau harus membantu pekerjaan ku! Karena, Mama sedang berada di luar kota bersama Papa, lagi pula kau punya tanggung jawab. Jangan banyak membantah!
__ADS_1
Vanya pun akhirnya diam, menurut saat Riki membawanya ke ruang kerjanya.
"Ternyata Om CEO," Vanya pun mengangguk setelah melihat nama Riki yang ada pada meja.
Dan melihat gelar yang di miliki oleh Riki tertulis dengan jelas, persis seperti Kakaknya Felix.
"Om, hebat juga ya. Bisa punya gelar banyak begini, sama seperti Ka..." Vanya pun terdiam sejenak setelah menyadari apa yang hampir keluar dari mulutnya.
"Seperti?" Tanya Riki.
"Seperti itu mau mu, tak mungkin aku bahagia!" Teriak Vanya sambil bernyanyi mengalihkan pembicaraan.
Agar Riki tidak banyak bertanya lagi, lagi pula mengapa bisa dirinya hampir keceplosan padahal itu adalah rahasia.
"Dasar, bocah aneh!" Gumam Riki sambil duduk di kursi kebesarannya.
Sesaat kemudian ponsel Riki pun berdering, tertulis nama Felix di sana dan langsung bergegas untuk menjawab.
"Halo Bro," jawab Riki.
"Aku sedang menuju ke kantor mu, ada yang harus aku bicarakan tentang proyek kita. Aku tidak mau menunggu mu lagi, kau suka sekali tidak datang!" Kesal Felix di seberang sana.
Sebab beberapa hari ini Riki terus saja sibuk dengan bocah mainan barunya, sehingga membuat Felix sering kali kecewa karena menunggu untuk rapat tetapi malah Riki tidak datang.
Hari ini Felix memutuskan untuk menepikan harga dirinya, biar dirinya yang menemui Riki. Mengingat mereka sudah layaknya saudara.
"Aku di kantor, satu kehormatan bisa di datangi oleh, Tuan Fe..." sambungan telepon terputus, padahal dirinya ingin menggoda Felix yang memilih untuk mendatanginya
Tetapi tampaknya Felix sedang serius, tidak ingin banyak basa basi karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
Sesaat kemudian Riki memilih untuk melihat Vanya yang sedang memperhatikan ruangannya, tampak Vanya mengamati satu persatu benda yang tertata di ruangannya tersebut.
"Om, untuk apa aku ke sini? aku butuh istirahat, karena masih sedikit lemas," keluh Vanya.
"Istirahat di sofa."
"Di rumah aja ya, Om," tawar Vanya berharap bisa luluh akan dirinya.
Sedangkan Riki tentu saja tidak akan mengijinkan, karena tahu Vanya pasti ingin bertemu lagi dengan pria ingusan yang bernama Sandi.
Tidak, Riki tidak akan mengijinkan sama sekali.
"Istirahat di sini, tidur di sofa. Kebetulan ada teman ku yang datang, jangan banyak membantah, jangan membuat ku malu!" Kata Riki memberikan sebuah peringatan.
Sedangkan Vanya lagi-lagi menunjukan wajah kesalnya.
Merasa dirinya tidak memiliki pekerjaan di kantor, tetapi mengapa malah Riki memaksanya untuk tetap berada di sana.
Baiklah tidak masalah, Vanya pun merebahkan dirinya di atas sofa.
Mungkin saja dengan demikian bisa membuatnya lebih baik.
"Om, pesan makan dan minuman dong, aku belum sarapan!"
Riki tidak menjawab tetapi mengirimkan pesan pada asistennya untuk membawakan makanan, hingga akhirnya Riki pun membuka laptopnya dan melihat pekerjaannya sambil menunggu kedatangan Felix yang sedang dalam perjalanan menuju kantornya.
Hingga akhirnya beberapa saat kemudian pintu pun perlahan di dorong, Riki pun langsung melihat ke arah pintu.
__ADS_1
Sudah pasti itu adalah Felix, hanya pria itu yang masuk sesukanya di ruangannya tersebut.