Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Di luar pikirannya.


__ADS_3

Sejenak merasa pintu terkunci tapi kenapa bisa terbuka.


Mata Cahaya pun menatap pintu yang terbuka, terlihat ada kunci di sana artinya Jessica mencari kunci cadangan. Tapi masalahnya sekarang bukan itu, Cahaya pun mengingat ada Felix di kamarnya. Tamat sudah riwayat hidupnya saat ini juga, Jessica pasti marah besar melihatnya bersama laki-laki di kamarnya. Tidak mungkin Jessica percaya bahwa Felix masuk sendiri. Pastinya siapapun akan berpikir jika Cahaya sendiri yang mengundang


"Kamu kenapa?" Jessica pun merasa bingung melihat Cahaya.


Wajah panik dan ketakutan tentu saja tidak bisa di bohongi.


"Kamu kenapa? Seperti dikejar setan saja!" Kata Jessica lagi.


Kebingungan melihat kelakuan aneh anaknya. Cahaya pun mulai melihat ke belakang, barusan Felix berada di sana. Tapi sekarang tidak ada, sehingga membuatnya benar-benar pening. Bukankah barusan Felix berada di sana juga ataukah dirinya yang sedang berhalusinasi? Tapi tidak, Cahaya merasa benar ada Felix. Dan pertanyaannya adalah kemana manusia itu? Cahaya sampai berjalan menuju kamar mandi mencari keberadaan Felix yang tidak juga terlihat. Tapi bukankah bagus, jika tidak ada Felix artinya tidak akan mendapatkan amarah dari Jessica?


"Aya!" Jessica menepuk pundak anaknya, benar-benar bingung dengan keanehan putrinya.


Cahaya bahkan tersentak saat Jessica menepuk pundaknya.


"Kamu terkejut?" Jessica kembali bertanya sambil melihat putrinya terus menerus.


"Aku sedang tidak enak badan Mom," cepat-cepat Cahaya naik ke atas ranjang kemudian menyelimuti seluruh tubuhnya.


Jessica pun kembali menghampiri Cahaya memegang dahi putrinya untuk memastikan.


"Tapi dahi kamu tidak hangat?"


"Mungkin aku kecapean Mom, aku tidur dulu ya Mom," Cahaya pun menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Oh begitu?" Jessica masih saja merasa bingung dengan sikap anaknya. Tetapi juga mengerti dengan putrinya yang memang akhir-akhir ini terlalu banyak pekerjaan.


"Baiklah, selamat tidur sayang. Karena besok hari pertama mu bekerja di rumah sakit," Jessica pun tersenyum dan segera keluar dari kamar putrinya.


Cahaya mengintip dari balik selimut, pintu pun kembali tertutup rapat. Cahaya benar-benar menarik napas lega, sebab hampir saja mati berdiri karena kedatangan Felix ke dalam kamarnya.


Tapi sekarang di mana pria gila itu?


Mengapa mendadak menjadi misterius, tapi lebih baik juga jika sudah pergi. Lebih bagus lagi tidak pernah kembali ataupun menampakkan wujudnya di depannya.


Tapi tunggu dulu, Cahaya merasa ada yang janggal. Seperti ada orang lain yang ikut berada di bawah selimut nya.

__ADS_1


Sesaat kemudian Cahaya menjerit histeris karena melihat Felix berada di dalam selimutnya.


"Aaaaaa!" Teriak Cahaya.


Felix pun cepat-cepat menutup mulut Cahaya agar tidak ada yang mendengarnya. Sesaat kemudian Cahaya pun menggigit tangan Felix yang menutup mulutnya.


"Sakit tolol!" Felix mengibas-ngibaskan tangannya bahkan bekas gigitan Cahaya terlihat jelas.


"Kamu ngapain ada di sini? Kenapa belum pergi?" Cahaya bertanya dengan suara yang nyaring, terlalu kesal pada Felix membuatnya kehilangan kendali.


Pinta pun kembali terbuka dengan gerakan cepat Cahaya mendorong wajah Felix agar kembali masuk ke dalam selimut.


"Aya, ada apa?" Jessica masuk dengan tergopoh-gopoh, panik mendengar jeritan putrinya.


Cahaya pun meneguk saliva, dirinya menarik guling dan meletakkan ke atas tubuh Felix yang bersembunyi di balik selimut yang di gunakannya.


"Nggak apa-apa Mom, aku hanya menonton film horor," Cahaya pun memberi alibi.


Jessica mengerutkan keningnya, kemudian melihat televisi yang tidak menyala dengan kebingungan.


"Handphone Mom," Cahaya menunjuk ponselnya, tapi ponsel itu mati, sepertinya kehabisan daya.


"Oh begitu?" Jessica tidak tahu mengapa putrinya mendadak aneh begitu.


Cahaya merasa ada yang aneh, tentu saja karena bibir Felix menempel pada pahanya.


"Dasar mesum!" Kata Cahaya dengan tidak sadar.


"Mesum?" Tanya Jessica lagi.


"Nggak Mom," Cahaya mengerakkan kedua tangannya berharap Jessica tidak membahasnya lagi.


"Boneka kamu di situ, tapi itu seperti..." Jessica sejenak bingung, sebab melihat boneka kesayangan Cahaya yang berukuran sebesar seperti tubuh putrinya itu berada di sofa. Biasanya boneka itu selalu berada di bawah selimut Cahaya, lantas siapa yang ada di balik selimut putrinya itu saat ini.


"Mom," Cahaya memegang tangan Jessica yang hendak menarik selimut.


Belum lagi menahan rasa aneh saat Felix menggigit pahanya di bawah sana.

__ADS_1


Cahaya benar-benar merasa di lecehkan, tetapi tidak berani mengatakan pada Jessica. Sebab, tidak mungkin Jessica percaya.


"Aku baru beli boneka baru tapi ini sebetulnya kado buat Mom. Tapi mau jadi surprise. Mom, keluar dulu dong, kalau mau lihat sekarang artinya tidak surprise," Cahaya sendiri tidak mengerti apa yang barusan di ucapkannya, yang terpenting dirinya selamat itu saja sudah lebih dari cukup.


"Benarkah? Mom jadi terharu?" Jessica pun tersenyum mendengar nya.


"Sekarang Mom, keluar dulu ya. Sebetulnya mau di rahasiakan tapi Mom udah keburu tau."


"Ya sudah, Mom keluar dulu. Mom tidak sabar menunggunya"


Jessica pun keluar dari kamar Cahaya dengan rasa yang begitu bahagia tanpa di ketahuinya jika putrinya tengah mengelabui.


"Cepat, pergi dari sini! Aku bisa mati berdiri bila ada kamu!" Cahaya meloncat dari atas ranjang, kemudian menarik Felix untuk turun dari ranjangnya.


"Baiklah," Felix pun turun dari ranjang sambil tersenyum-senyum pada Cahaya.


"Apa yang kau lakukan? Kau sudah melecehkan aku! Apa lagi yang di bawah selimut tadi!"


"Kalau kamu mau aku bisa bertanggung jawab," tawar Felix dengan santainya.


"Cepat, pergi dari sini!" Cahaya pun mendorong Felix untuk keluar melalui jendela.


Felix melambaikan tangannya seakan tidak ingin pergi.


"Pertimbangan keinginan ku untuk bertanggung jawab!"


"Ogah!" Ketus Cahaya.


Cahaya pun kembali menarik jendela dengan cepat karena tidak ingin sampai Felix kembali masuk. Lelaki gila itu benar-benar membuatnya hampir ikut gila juga.


"Aduh," Felix pun meringis kesakitan karena tangannya masih memegang jendela.


"Mampus!" Gerutu Cahaya.


Felix pun mengibas-ngibaskan tangannya merasakan sakit yang begitu terasa.


"Tapi tidak apa, demi dia," Felix pun tersenyum kemudian pergi dengan hati yang bahagia.

__ADS_1


Sedangkan Cahaya terus saja mengomel karena Felix bersikap di luar pikirannya.


__ADS_2