
"Tidak sama sekali, ini bukan menantang. Hanya sedang mengatakan sebuah kebenaran."
Tidak ada rasa takut sama sekali yang ada Riki hanya berusaha untuk tetap menghargai orang tua Vanya.
Sebab, seperti apapun kerasnya Devan, Riki tidak akan bisa menikahi Vanya jika tidak dengan restu.
Riki di besarkan oleh seorang wanita hebat, menghargai adalah sebuah keharusan.
Contohnya seperti saat ini, apakah Riki tega membawa pergi Vanya padahal orang yang melahirkan dan membesarkan Vanya tidak mengijinkannya?
Tidak, Riki tidak akan mau merebut dengan paksa, meskipun tahu Vanya tidak akan menolak jika di ajak pergi dengannya.
"Kau menantang ku pria kurang ajar!"
Buk!
Devan pun langsung melayangkan bogem mentah, dirinya masih sangat berapi-api saat melihat Vanya kembali bersama Riki di malam yang larut ini.
Lantas bagaimana dengan Riki setelah mendapatkan sedikit buah tangan dari Devan?
Diam tanpa perlawanan sama sekali, apa yang bisa dilakukannya saat ini selain menerima saja.
Tujuannya hanya satu, mendapatkan restu dan bisa memiliki Vanya dengan sepenuhnya.
Dengan apapun caranya, asalkan pada akhirnya bisa bersama tidak menjadi masalah baginya.
"Kenapa kau hanya diam?" Tanya Devan yang menantikan Riki untuk membalasnya.
Tetapi tidak, tampaknya Riki lebih memilih diam, masih saja pada pendirian awal. Menerima demi mendapatkan restu meskipun dirinya harus berlumuran darah.
Riki hanya tersenyum melihat Devan, bukan mengejek melainkan menertawakan dirinya sendiri.
Menertawakan karena mencintai anak Devan sedalam ini dan rela melakukan apa saja, tentu. Ini memang gila.
"Aku tidak pernah segila ini dalam mencintai wanita, tapi untuk kali ini aku juga bingung sepertinya aku tidak masalah jika pun harus bertaruh segalanya," Riki menyadarkan tubuhnya pada mobil, rasanya semuanya begitu rumit dan membuatnya bingung harus melakukan apa.
"Tinggalkan anak ku!"
"Aku mencintainya, Om."
"Kau ingin mati ditanganku!"
Hingga akhirnya Riki mengeluarkan senjata api dari balik kemejanya, Devan pun terkejut melihatnya.
Tetapi bukan berarti Devan pun tidak memilikinya, bersamaan dengan itu Felix pun kembali dan melihat apa yang terjadi.
"Riki!" Felix melihat saat Riki mengarahkan senjata api pada Devan, seakan semua begitu menegang.
__ADS_1
Tetapi sesaat kemudian Vanya pun melihatnya dari jendela kamar, wajahnya pun berubah panik.
Awalnya mengira Riki sudah pergi, tetapi ternyata tidak.
Namun ternyata Riki memberikan senjatanya pada Devan, membuat Devan pun tercengang menyaksikannya.
"Sekarang, semuanya terserah pada Om saja. Aku sangat mencintai Vanya, seperti apapun keputusan om aku terima," kata Riki.
"Kau ingin mengujiku?" Tanya Devan.
Riki pun mengeleng, tidak ada niatnya untuk mengejek Devan.
Saat ini dirinya hanya sedang bingung bagaimana cara untuk mendapat restu dari Devan.
"Baiklah, aku tidak takut sama sekali," Devan pun mengarahkan senjata api pada Riki.
Jika dengan melenyapkan pria itu dapat menghilang dari hidup putrinya mengapa tidak? lebih baik melenyapkan dari saat ini dari pada suatu hari anaknya tersakiti.
"Ayah?" Setelah berlari untuk menuruni anak tangga dan kembali ke luar, Vanya pun semakin panik saat melihat Devan mengarahkan senjata api pada Riki.
Membuat yang lainnya juga ikut melihat Vanya, menyadari kehadiran Vanya yang entah sejak kapan berada di sana.
Jika tidak bersuara bahkan Devan tidak menyadari sama sekali.
Bahkan kini Vanya berdiri di hadapan Riki seakan menjadi pelindung untuk kekasihnya itu.
"Kalau Ayah bunuh dia, bunuh aku dulu. Kalau kami tidak bisa hidup bersama, paling tidak kami bisa mati bersama!" Papar Vanya.
Degh!
Apa yang Vanya katakan benar-benar diluar akal sehat, Devan dan Felix sampai tercengang mendengarnya.
Sejak kapan Vanya bisa berpikir demikian, bahkan berkata dengan suara lantangnya.
Vanya benar-benar berbeda dengan begitu mudahnya.
Bahkan Riki sendiri bingung mengapa bisa Vanya berbicara demikian, tidak pernah dirinya mengajarkan hal itu, apakah cinta Vanya benar-benar sedalam itu pada dirinya.
Lagi-lagi Riki merasa malu akan dirinya yang sempat menghilang tanpa kabar, padahal ada wanita yang juga sedang berjuang untuk bersama dengan dirinya.
"Vanya, menyingkir," Riki pun mencoba untuk membuat Vanya pergi dari hadapannya, tidak ingin membuat wanita yang dicintainya itu terluka walaupun hanya seujung kuku saja.
Tapi bagaimana dengan Vanya?
Vanya bahkan sama sekali tidak ingin pergi dari sana, keputusannya benar-benar sudah bulat untuk menjadi pelindung Riki dari Ayahnya yang ingin menghabisi nyawa pria yang dicintainya itu.
"Vanya!" Devan merasa semakin tidak terkendali, melihat Vanya melakukan ini seakan menginjak-injak harga dirinya di hadapan Riki.
__ADS_1
Namun, saat ini bukan harga diri yang menjadi taruhannya, melainkan harga cinta yang harus diperjuangkan agar bisa hidup bersama.
"Ayah," Felix pun menurunkan tangan Devan, karena dirinya tidak ingin Adiknya malah menjadi korban.
Bahkan pastinya nanti Devan pun akan sangat menyesal setelah sadar membuat putrinya berlumuran darah.
Setelah Devan menurunkan tangannya, Felix pun meminta Vanya untuk masuk ke dalam rumah.
Tidak ingin semakin membuat keadaan menjadi lebih rumit.
"Vanya, masuk!"
"Tapi Kak....."
"Masuk!"
Vanya pun melihat wajah Riki sejenak, kemudian dengan berat hati masuk ke dalam rumah.
Meskipun hatinya sebenarnya masih tidak bisa tenang, takut Riki dihabisi setelah dirinya pergi.
Hingga akhirnya setelah memastikan Vanya masuk ke dalam rumah, Felix pun meminta Ayahnya untuk masuk.
"Ayah, juga sebaiknya masuk."
Devan tidak ingin berpindah dari tempatnya, dirinya masih ingin menghabisi Riki agar tidak bisa berhubungan lagi dengan Vanya.
Sampai akhirnya Felix menunjukkan arah balkon, dimana ada Nayla yang sedang melihatnya di sana.
Entahlah, Devan seakan begitu lemah saat melihat Nayla.
Meskipun hanya di terangi oleh sinar lampu, tetapi Devan tahu istrinya itu sedang menangis ketakutan.
Takut dirinya menjadi seorang pembunuh, hingga akhirnya Devan pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Kalian juga silahkan pergi," Felix meminta para pengawal untuk membubarkan diri.
Sesaat kemudian Felix pun melihat Riki yang masih berdiri di tempatnya.
Tidak ada kata yang terucap dari bibir Felix untuk Riki, perlahan Felix pun ikut masuk ke dalam rumah.
Hanya Riki yang kini berada di sana, terdiam tanpa tahu harus bagaimana. Hingga akhirnya suara petir pun saling bersahutan-sahutan.
Hujan pun turun dengan derasnya, Riki masih di sana.
Bagaimana dia bisa pergi dengan hatinya yang sudah separuhnya berada pada wanita yang bernama Vanya.
Semuanya benar-benar sangat menyakitkan, Riki tidak tahu caranya untuk bisa bahagia. Masa lalu yang kelam adalah alasan dari segalanya, Riki tidak tahu apakah harus menyesali masa lalu itu atau tidak.
__ADS_1
Sebab, saat itu dirinya hanya mencoba untuk tetap hidup hingga tidak tahu ternyata malah membuat kedepannya menjadi rumit.