
"Kenapa kau banyak bergerak?" Riki kesal sekali karena Vanya merusak kenyamanannya padahal baru saja Riki merasa nyaman sudah terusik oleh pergerakan Vanya.
"Maaf Om, tapi kaki aku pegel. Om lama banget tidurnya sampai dua jam," kata Vanya sambil menunjuk jam dingin.
"Dua jam?" Riki pun segera bangkit dari tempatnya kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Benar saja ternyata dirinya sudah tertidur dengan cukup lama
Riki pun merasa bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, entah mengapa merasa nyaman hingga terlelap dalam tidur dengan mudahnya bahkan di hari yang terbilang cukup pagi ini.
"Pegel banget Om," keluh Vanya menunjukan kakinya.
Riki hanya bisa diam sambil terus berada dalam kebingungannya, hal yang sulit di mengerti oleh pikirannya.
"Om, mana uangnya. Aku mau ke salon" Vanya pun menadahkan tangannya meminta lembaran rupiah yang di janjikan oleh Riki sebelumnya.
Vanya rasa jasa yang di berikannya sudah sangat bagus, pijatannya bahkan sampai membuat Riki terlelap.
Riki pun mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikan pada Vanya.
"Om?" Mata Vanya berbinar seketika, tak menyangka jika Riki memberikannya sebuah benda berharga.
Berharap Riki tidak sedang mengajaknya bercanda karena sangat tidak lucu. Mengingat dirinya sudah sangat bahagia.
"Pakai semau mu, nanti temani aku tidur! Papar Riki.
"Siap!" Vanya yang polos langsung menyetujuinya, menemani tidur tentunya sangatlah mudah.
"Cepat kembali."
"Siap komandan!" Vanya pun memberikan hormat kemudian keluar dari ruangan Riki membawa senyuman yang begitu indah.
Hari ini benar-benar tidak terduga karena setelah sekian lama tidak mengunjungi salon membuat tubuhnya ingin di manja.
__ADS_1
Akhirnya Vanya pun kembali menjadi dirinya yang royal.
Riki hanya tersenyum saat tahu untuk apa saja Vanya menggunakan kartu kreditnya, lagi-lagi Riki hanya menilai jika semua wanita sama saja.
Lihat saja saat dirinya meminta untuk ditemani tidur tanpa penolakan Vanya langsung saja setuju
Sampai akhirnya pada sore harinya Vanya pun kembali ke kantor langsung menuju ruangan Riki dengan penuh kegembiraan.
Beberapa paperbag berada di tangannya hasil dari berbelanja di Mall.
"Makasih Om," Vanya mengembalikan kartu kredit milik Riki, meletakkan pada meja sebab itu memang bukan miliknya.
Riki menatap kartu kredit tersebut kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya.
Sejenak Riki terdiam melihat Vanya setelah kembali dan membandingkan saat sebelum pergi.
Kukunya tampak begitu indah dengan rambut yang terurai panjang, wajah wanita tersebut terlihat lebih segar dari sebelumnya,
"Sepertinya kamu bahagia sekali hari ini"
Riki pun melihatnya dengan baik, kaki Vanya yang begitu mulus membuatnya menjadi penasaran di bagian lainnya juga.
"Ini sepatu model terbaru Om, aku suka banget," jelas Vanya.
"Sepatu?" Tanya Riki.
Sebab Riki bukan melihat sepatu, melainkan melihat kaki mulus Vanya.
"Iya, sepatu terbaru. Bagus dong Om," kata Vanya lagi dengan polosnya, tidak mengerti tatapan Riki pada yang lainnya dengan pikirannya yang sudah menerawang jauh.
Riki pun mengangguk jika menurut Vanya sepatunya sangat bagus maka di mata Riki kaki Vanya jauh lebih bagus lagi.
"Aku juga beliin Om sesuatu loh," Vanya mencari sesuatu di dalam paperbag yang dibelinya kemudian tersenyum saat sudah menemukannya.
__ADS_1
"Tara," Vanya semakin bahagia menunjukan sebuah dasi dengan warna pink.
"Bagus kan Om?"
"Bagus dari mana?" Gumam Riki, tetapi Riki mengakui selera Vanya yang begitu tinggi.
Buktinya dari semua barang yang di bawa oleh Vanya semuanya terbilang cukup mahal bahkan dasi saja bisa mencapai dua puluh juta rupiah.
"Ayo dong Om, cobain dulu!" Vanya pun menaiki meja kemudian melingkarkan dasi pada leher Riki.
Mendadak Riki mematung tak menyangka Vanya bisa melakukan hal tersebut. Hingga akhirnya dasi pun terpasang dengan sempurna, sesaat kemudian Vanya pun menjauh.
"Jadi deh," Vanya lagi-lagi tersenyum bangga karena berhasil memasangkan dasi pada Riki.
Sedangkan Riki mendadak kehilangan kata-kata, karena berdekatan dengan Vanya membuat jantungnya malah berdetak kencang tanpa bisa di kondisikan.
Apa lagi setelah pulang dari salon, seakan kecantikan yang tersimpan seketika terpancar dengan sempurna.
"Om," Vanya pun turun dari atas meja.
"Kenapa diam aja, suka ya sama dasinya!" Tebak Vanya.
Sudah pasti apa yang di katakannya benar adanya, jika tidak mengapa Riki hanya diam saja. Bahkan tidak menolak sama sekali, seakan menerima dengan baik.
"Om, aku lapar. Kita makan yuk!"
Riki masih saja diam memandangi Vanya, memuji kecantikan Vanya tanpa sadar.
Sampai akhirnya Vanya pun kembali mendekati Riki dan menarik lengannya.
"Om, ayo!"
Riki pun meneguk saliva, kemudian mengikuti langkah kaki Vanya.
__ADS_1
Kemana pun Vanya membawanya Riki terlihat menurut saja tanpa ada penolakan sama sekali, sekalipun hanya bantahan seperti biasanya pun tampak tidak terdengar.