
Duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi, semua anggota keluarga sudah berada di sana. Bahkan Vanya pun yang akhirnya muncul dan menarik kursi meja makan untuk duduk.
Tetapi tatapan mata Devan terus saja tertuju padanya.
Membuat Vanya bingung hingga bertanya-tanya apakah yang salah dengan dirinya.
Merasa dirinya tidak memiliki kesalahan lagi, bahkan Vanya sudah menjadi anak penurut.
"Ada yang salah dari aku, Yah?" Tanya Vanya.
Devan hanya diam sambil terus menatap putrinya, sesaat kemudian memilih untuk melihat makanannya dan memulai sarapannya tanpa menjawab sama sekali.
Sarapan pagi ini bukan masakan Nayla, sebab istrinya belum sepenuhnya pulih setelah semalam dia mendadak jatuh pingsan.
Devan pun melarang istrinya untuk bergerak banyak seperti sebelum sebelum keadaannya benar-benar membaik.
Hingga terdengar suara Bik Ina yang mengatakan bahwa Riki ada di luar menunggu Vanya.
"Neng Vanya, di depan ada Tuan Riki."
Vanya pun menganggukkan kepalanya, kemudian meneguk mineral terlebih dahulu sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
"Vanya," Terdengar suara Devan yang dalam memanggil nama anaknya.
Sehingga sejenak Vanya pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Devan.
"Ya, Yah?" Jawab Vanya dengan wajahnya yang penuh dengan keceriaan seperti dulunya.
"Suruh Riki masuk kita akan sarapan bersama," titah Devan.
Sungguh aneh, tetapi itulah yang memang dikatakan oleh Devan barusan.
Bibir Vanya langsung tertarik pada masing-masing sudutnya, tidak menyangka jika Devan meminta Riki untuk sarapan bersama.
Sungguh ini adalah awalan yang sangat baik bagi hubungan mereka kedepanya.
Semoga saja semuanya penuh dengan kebaikan yang luar biasa.
"Siap Ayah," dengan segera Vanya pun melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Devan.
Dengan gerakan seperti robot segera menemui Riki.
Sementara Nayla pun yang mendengarnya juga ikut merasa lega, dirinya juga ingin keluarganya menjadi utuh kembali seperti semula.
Lantas bagaimana dengan Riki setelah mendengar apa yang dikatakan oleh calon istrinya.
"Mas, kata Ayah kita sarapan pagi dulu, oh bukan Mas. Tapi Kakanda ku," kata Vanya yang kini berada di teras menemui Riki yang menunggunya di sana.
Terserah saja pada Vanya yang ingin memanggilnya apa, karena justru ada yang aneh.
"Kamu serius?"
"Mas nggak mau?"
Riki pun sejenak menimbang, kemudian mengangguk. Sebagaimana lelaki sejati harus bisa berhadapan dengan calon mertuanya itu.
__ADS_1
"Yuk," Vanya pun memegang tangan Riki, kemudian berjalan menuju meja makan dimana keluarga yang lainnya juga berasa di sana.
Mata Felix langsung tertuju pada tangan Vanya yang memeluk lengan Riki.
Vanya yang menyadarinya langsung melepaskannya dengan segera.
"Ayah, ini ada Kakanda Riki," kata Vanya agar Devan melihatnya.
Devan pun mengangguk kemudian kembali melanjutkan sarapan paginya, tanpa kata.
"Riki, duduk. Kita sarapan bersama," Nayla menunjuk kursi untuk di duduki oleh Riki.
Namun Riki merasa sedikit tegang karena kursi yang tersisa adalah kursi milik Vanya yang berdekatan dengan Devan.
Apakah duduk atau tidak?
Ini sangat membuat Riki galau luar biasa.
"Riki?" Kata Felix yang juga mempersilahkan Riki untuk duduk bersama mereka.
Riki pun mengangguk kemudian segera duduk dengan perasaan yang tegang.
Tapi semuanya memang harus dihadapi lagi-lagi pada kekuatan yang sama.
"Ayo makan, Nak," Nayla pun bangkit dan mengisi piring Riki, dirinya tahu sepertinya Riki segan untuk mengisi piringnya.
Namun, lebih tidak mungkin Vanya yang mengisinya. Sebab, sudah pasti Devan akan marah besar, sebab mereka belum menikah.
"Terima kasih, Tante," kata Riki.
"Tidak, panggil Bunda," Nayla pun menolak untuk dipanggil Tante, memilih untuk dipanggil Bunda seperti yang lainnya.
"Kakanda, ayo duduk manis. Biar Adinda duduk di pangkuan Kakanda saja," celetuk Vanya.
Wajah Riki pun memerah seketika itu juga, bagaimana bisa Vanya mengatakan hal yang sangat konyol.
Bahkan yang lainnya juga ikut menatap Riki dengan tajam, tepatnya adalah Devan dan Felix. Sementara Nayla tidak ambil pusing, sebab putrinya memang suka sekali berbicara aneh.
Nayla tahu anaknya itu memang lucu dan berbeda.
"Hehehe, tegang amat. Bercanda, aku ambil kursi lainnya dulu."
Vanya pun mengambil kursi lainnya menunju dapur, kemudian kembali dengan membawa kursi dan duduk bersebelahan dengan Cahaya.
"Apa yang pernah kalian lakukan selama berpacaran?" Tanya Devan secara langsung.
Membuat Riki tidak mengerti, bahkan yang lainnya juga ikut bingung.
"Ayah tanya apaan sih," Nayla pun merasa suaminya sedang tidak jelas.
"Cahaya," Devan pun menyebutkan nama menantunya itu.
"Iya Ayah," jawab Cahaya dengan cepat.
"Apa benar yang hamil Rena?"
__ADS_1
"Iya Yah," jawab Cahaya dengan jelas dan yakin.
"Bukan Vanya?" Tanya Devan penuh intimidasi, berharap tidak ada kebohongan.
"Nggak Yah, aku berani sumpah kok," kata Cahaya dengan yakin.
Devan pun mengangguk dengan perasaan yang lebih baik.
"Ayah apaan sih, aku nggak hamil. Aku, belum nikah Yah!" Kesal Vanya yang langsung menimpali.
Devan pun beralih menatap putrinya tersebut, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Namun, tatapan Devan membuat Vanya kesal. Bahkan dirinya sepertinya harus meyakinkan Devan bahwa tidak ada yang terjadi dalam hubungan hanya dengan Riki. Agar Devan tidak ragu lagi.
"Ayah, aku nggak ngapa-ngapain sama Kakanda Riki, ya kan Kakanda ku?" Tanya Vanya pada Riki.
Apa yang bisa dijawab oleh Riki, selain diam dan hanya bisa menyaksikan saja.
Lagi pula ada-ada saja pertanyaan Vanya padanya saat ini.
"Ayah, aku sama Kakanda Riki cuma ciuman, pelukan tipis-tipis doang. Ada yang lebih sedikit, pas itu kalau nggak salah Kakanda Riki cium aku sambil tangannya bergerak kemana-mana," jelas Vanya meyakinkan semua orang, terutama Ayahnya.
Namun bagaimana dengan Devan yang mendengarnya?
Sementara Riki langsung tersedak seketika itu juga, pernyataan Vanya yang begitu jujur ini seakan membuatnya terhimpit oleh dinding yang begitu tinggi dan membuatnya sulit untuk bergerak.
Uhuk... Uhuk...
"Minum, Kakanda ku," kata Vanya masih dengan santainya, bahkan tidak mengerti dengan ketegangan yang ada.
Sementara Riki jangankan meneguk mineral yang diberikan oleh Vanya, meneguk saliva saja sudah tidak memiliki kekuatan sama sekali.
"Aku, permisi ya semuanya," Cahaya pun memilih bangkit dari duduknya kemudian pergi, karena tidak ingin melihat wajah Devan dan juga para lelaki yang tidak kalah tegang.
"Aku, juga ya semuanya. Kepala ku sedikit pusing," Rena pun memilih untuk pergi saja, menyusul Cahaya jauh lebih baik pikir keduanya.
"Kaka ipar 1 dan Kakan ipar 2, sarapannya belum dihabiskan!" Seru Vanya.
"Nanti saja," jawab Rena yang sudah berjalan jauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangan mata.
"Dasar aneh, mereka seperti orang kembar aja. Satu pergi yang lainnya juga pergi," umpat Vanya kemudian kembali melanjutkan sarapan paginya dengan santai.
Sementara yang lainnya sudah tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan sarapan pagi ini.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya seketika membuat nafsu makan yang lainnya rusak.
"Semuanya, kenapa diam? Ayo kita sarapan lagi," kata Vanya yang masih belum juga mengerti dengan keadaan setelah pernyataannya barusan.
Bahkan terkesan santai sambil mengunyah makanan.
"Ciuman?" Tanya Devan dengan jelas.
"Iya Ayah, nggak ada yang kayak pengantin baru itu kok. Ada waktu itu kami tidur bareng, tidur doang nggak ada macem-macem, Kakanda Riki baik Ayah, nggak pernah ngapa-ngapain aku" jelas Vanya dengan bangganya pada Devan, mengakui secara tidak langsung betapa baiknya Riki.
Kini yang lainnya beralih menatap Riki, sementara Riki menggosok dahinya dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Ya ampun, ada yang tegang tapi bukan pisang, Melainkan perasaan.
Ahahahhaha.