Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kau lupa punya janji?


__ADS_3

"Masih di sini?"


Vanya tentunya sangat terkejut melihat Riki melalui jendela kamar yang masih saja duduk di kursi yang tersedia di teras, padahal sudah tiga jam berlalu.


Bahkan Vanya sudah tidur dengan nyenyak di dalam sana.


Entah apa yang ada di pikiran duda lapuk itu, sehingga melakukan hal tersebut.


Vanya pun akhirnya keluar menghampiri Riki. Sekaligus ingin bertanya langsung alasan mengapa masih berada di rumahnya.


"Om!" Seru Vanya.


Riki pun menyadari bahwa ada Vanya di dekatnya, hingga matanya pun beralih pada sumber suara.


Wajah khas bangun tidur dengan rambut yang acak-acakan membuat Riki merasa semakin penasaran pada seorang Vanya yang selalu tampil cantik di matanya. Meskipun sebenarnya, hanyalah apa adanya tanpa polesan make up sama sekali seperti selama ini.


"Halo Om!" Vanya menyadari Riki hanya diam saja, tak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh pria duda tersebut.


Riki pun menarik napas, tetapi tidak berbicara sama sekali.


"Om!" Pekik Vanya yang kesal karena Riki hanya diam, sedangkan dirinya sudah bertanya sejak tadi.


"Om, ngapain masih di sini?"


Vanya pun melihat sekitarnya, hingga matanya tertuju pada sebuah mobil yang berada di luar gerbang.


Dengan panik Vanya pun menarik Riki untuk masuk ke dalam rumah.


"Ada apa?" Tanya Riki bingung sedangkan langkah kakinya terus saja berjalan seiring dengan tarikan pada tangannya.


"Masuk Om, sembunyi!" Vanya tak tahu harus menyembunyikan Riki ke mana, sampai akhirnya mengunci Riki di dalam lemari.


"Buka!" Riki pun menggedor-gedor pintu lemari, sebab dirinya sedang bingung dengan sikap Vanya.


"Om, diam di sana. Soalnya di luar ada Bun..." Vanya pun tersadar atas kata yang hampir saja keluar dari mulutnya.


"Maksudnya ada Ibu, aku bisa di cincang kalau ketahuan menerima tamu laki-laki, tolong bantu aku banget ya, Om. Buat kali ini aja," pinta Vanya dengan suara memohon.


Meskipun pintu lemari tertutup rapat, tetapi suara Vanya masih terdengar jelas di telinga Riki.


"Vanya," Terdengar suara seseorang dari luar sana, membuat Vanya semakin panik saja.


"Om, jangan berisik. Nggak lama!"


"Vanya!" Riki pun mengetuk pintu lemari berharap di bukakan pintu lemari tersebut.

__ADS_1


"Om, aku janji bakal nurut kalau Om bantuin aku sekali ini aja!" Pinta Vanya sebelum akhirnya benar-benar pergi menemui seseorang yang terus memanggil namanya di luar sana.


Riki merasa mengenali suara yang memanggil Vanya, tetapi siapa dirinya juga tak tahu pasti.


Namun, ada yang lebih membuatnya merasa bahagia.


Apa lagi kalau bukan Vanya yang akan menurut pada dirinya jika saja dirinya kali ini diam di sana.


Baiklah, semua ada bayarannya dan Riki akan diam saja meskipun kini berada di tempat yang begitu sempit dan juga begitu gelap.


Sedangkan Vanya merasa tidak baik-baik saja, sebab kedatangan Nayla yang tiba-tiba sungguh membuatnya shock.


"Bunda?" Sesekali Vanya melihat ke arah dalam, sambil berdoa semoga saja Riki tidak keluar dari lemari.


"Kamu kenapa?" Nayla memperhatikan sikap putrinya yang begitu aneh, terlihat panik dan juga napasnya yang terengah-engah seperti seorang yang baru saja di kejar oleh warga akibat ketahuani mencuri.


"Em, itu. Aku abis olahraga. Jadi, ngos-ngosan," kata Vanya memberikan alibi.


"Gitu?" Nayla pun percaya saja sebab putrinya tersebut memang tidak biasa berbohong.


"Bund, duduk dulu," Vanya pun menarik Nayla untuk duduk di kursi tepatnya hanya di teras tanpa mengajaknya masuk.


Untuk apa?


Tentunya untuk melindungi dirinya sendiri, Vanya tak mau menjadi sasaran amukan Nayla yang pastinya berpikir macam-macam saat melihat ada laki-laki yang bertamu. Di tambah lagi pria itu adalah seorang duda, sudah pasti dirinya akan di hajar habis-habisan.


"Bunda, kangen banget sama kamu. Gimana kalau hari ini kita pulang ke rumah? Bunda, pengen makan siang bareng kamu soalnya," Nayla sedang membujuk anaknya untuk kembali pulang ke rumah, dengan cara demikian.


Karena Nayla tahu Vanya belum mau pulang jika di ajak secara langsung.


Sedangkan Nayla sudah tidak ingin menghukum putrinya tersebut, apa lagi setahunya tidak ada lagi masalah yang dibuatnya.


Benar-benar terharu saat putrinya berubah begitu banyak, menurut Nayla tentunya.


Sedangkan Vanya sebenarnya sangat ingin untuk pulang, rindu pada kamarnya, ranjangnya dan semua yang ada di rumahnya.


Hanya saja dirinya masih terikat dengan Riki.


Bagaimana pun waktu yang tersisa hanya sedikit saja, Vanya tak mau karena sedikit menunggu tidak sabaran, malah membuat dirinya di pandang kembali sebagai anak pembuat onar oleh kedua orang tuanya.


Vanya juga ingin menjadi anak yang di banggakan dan inilah salah satu caranya.


Pergi dari rumah dengan penuh masalah sedangkan kembali dengan membawa banyak perubahan tentunya tanpa masalah.


"Bunda, nggak usah sekarang, ya. Kasihan Ninda, soalnya dia lagi demam," Vanya pun menutup matanya, berbohong adalah hal yang paling mengerikan dalam hidupnya.

__ADS_1


Tetapi bagaimana lagi, lagi-lagi untuk menyelamatkan diri dan inilah caranya


"Ninda sakit? Sudah ke Dokter? Atau, Bunda saja yang periksa," Nayla pun bangkit dari duduknya, kemudian berniat masuk untuk memeriksa keadaan Ninda.


Namun, dengan cepat Vanya pun menghadangnya, hingga membuat Nayla tak dapat masuk.


"Kenapa?" Tanya Nayla semakin bingung dengan sikap putrinya itu.


"Jadi, dari semalam itu Ninda nggak tidur Bunda. Terus tadi aku antar ke Dokter, setelah minum obat barulah Ninda tidur dengan susah payahnya. Jadi, kalau Bunda masuk takutnya malah Ninda kebangun, kan kasian Bun," Vanya pun tersenyum kecut, entah sudah berapa kali berbohong kepada Nayla.


Rasa bersalah kian menjadi-jadi, inilah ternyata alasan seseorang tak ingin berbohong. Sebab satu kebohongan maka akan menciptakan kebohongan lainnya.


"Bunda pulang dulu ya," sungguh Vanya tak ingin semakin berbohong lagi, sehingga menginginkan Nayla segera pulang saja.


"Ya sudah, kasihan juga Ninda kalau sampai kamu tinggal," Nayla pun mengerti dan memilih untuk segera pulang.


"Iya Bunda, hati-hati," Vanya pun membukakan pintu mobil untuk Nayla, kemudian mobil tersebut pun pergi membuat Vanya menarik napas dengan panjang. Sebab sejak tadi terus saja dalam ketegangan yang begitu luar biasa. Hingga akhirnya Vanya pun memutar badannya, tak di sangka ternyata Riki berada di sana.


Seketika menabrak pria tersebut.


"Om?" Wajah Vanya memerah takut Riki mengetahui jika dirinya adalah anak dari Nayla.


"Kenapa?" Riki pun bertanya kembali, melihat wajah Vanya yang panik.


"Sejak kapan Om di sini?"


"Baru saja, kau hampir membuat ku mati karena tidak bisa bernapas!"


"Baru?" Tanya Vanya menyakinkan.


"Iya. Ada apa?"


"CK!" Vanya pun mengusap wajahnya, rasanya begitu luar biasa.


Hingga akhirnya Vanya pun mendongkak menatap Riki yang jauh lebih tinggi darinya.


"Mendingan Om pergi deh, bikin masalah aja!" Vanya pun berniat pergi begitu saja. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya tertarik ke belakang.


Tentu saja, sebab Riki manarik kerah kemejanya dari belakang.


"Om!" Pekik Vanya.


"Kau lupa punya janji? Cepat ikut aku!"


"Eesssss!" Vanya pun berjalan dengan gerakan mundur, seiring dengan tarikan pada kerah kemejanya dari belakang.

__ADS_1


Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Riki.


__ADS_2