
"Semangat Kakandaku tercinta, kamu pasti bisa."
Vanya terus berseru memberikan semangat pada Riki yang sedang menguras kolam dengan menggunakan gayung.
Jas dengan kemejanya kini tidak lagi terpakai ditubuh, hanya ada baju kaos dan celana yang dilipat setengahnya.
Itupun sudah basah karena terkena air, perjuangan masih panjang.
Bahkan air pada kolam renang pun belum tampak berkurang sedikitpun.
Membuat Riki semakin menarik napas dengan beratnya, meratapi nasib yang dialaminya saat ini.
Tubuh atletisnya terlihat jelas, rasanya ketampanan Riki pun semakin terpancar.
Namun, saat ini dirinya sedang berjuang untuk menguras kolam renang dengan perasaan yang sangat melelahkan.
Namun, saat melihat Vanya rasanya membuat semangatnya semakin bertambah.
Meskipun bocah itu sangat polos dan suka berbicara apa adanya tapi tidak mengurangi sedikit pun cintanya, bahkan hal yang aneh itu membuat Riki merasa jika Vanya berbeda dari wanita lainnya.
Hingga akhirnya Felix pun muncul dengan secangkir kopi di tangannya, kemudian duduk di kursi, dengan tangannya yang perlahan meletakan secangkir kopi pada meja.
Menyaksikan seperti apa wajah Riki saat ini, sesekali menyeruput kopinya seakan begitu menikmati pemandangan yang ada.
"Bagaimana adik ipar, apa kau lelah?" Tanya Felix dengan mengejek.
Riki pun sejenak menghentikan pekerjaannya, kemudian melihat wajah Felix yang cukup menjengkelkan itu.
Bukan cukup menjengkelkan, tetapi sangat menjengkelkan sekali.
"Santai saja, itu namanya usaha," tambah Felix lagi sambil terkekeh melihat raut wajah Riki yang kian semakin masam.
Tampaknya melihat wajah Riki tersiksa jauh lebih baik dari pada berangkat bekerja, lihat saja. Bahkan, saat ini Felix memilih untuk tidak bekerja hanya karena ingin melihat Riki yang sedang bekerja keras.
Sesaat kemudian Adnan pun muncul, dirinya duduk bersebelahan dengan Felix.
Tampaknya Adnan pun sama saja, sama-sama ingin menjadi penonton.
__ADS_1
"Hay, adik ipar," seloroh Adnan.
"Calon! Kalau dia lulus ujian ini, kalau tidak ya bukan!" kata Felix memperingatkan Adnan, namun sebenarnya mengejek Riki.
Adnan pun tersenyum melihat Riki.
"Ayo semangat, semua orang butuh perjuangan untuk bisa memiliki wanita yang dicintainya, kami juga dulu berjuang demi mendapat wanita kami, tidak ada yang instan, saat ini kau juga demikian!" Kata Adnan tersenyum pada Riki.
"Tapi, tidak menguras kolam juga!" Jawab Riki ketus.
"Jadi kau mau menghitung jumlah dedaunan yang ada di rumah ini satu persatu!" Kata Adnan.
Glek!
Riki pun meneguk saliva, kedua hukuman ini tidak ada yang benar. Semuanya tetap saja memberatkan.
Bahkan lebih tidak masuk akal lagi menghitung dedaunan yang ada di rumah tersebut.
Hingga Riki pun kembali menguras kolam renang tanpa memperdulikan Felix dan Adnan lagi.
"Semangat Kakandaku tercinta!" Seru Vanya dengan segala kehebohannya.
"Vanya!"
"Ya, Kak."
"Buatkan Ayam kecap untuk makan siang calon suamimu ini!"
"Siap Kak!" Vanya pun tersenyum kemudian melihat Riki.
"Kakandaku, tunggu di sini. Adinda buatkan makanan dulu untuk Kakandaku tercinta," setelah berpamitan Vanya pun memutuskan untuk segera menuju dapur, memasak makanan untuk Riki.
Lihat saja betapa menggemaskannya bocah ingusan itu, bagaimana bisa Riki tidak tergila-gila.
Itulah namanya bocah limited edition.
"Kau tahu, masakan calon istrimu itu sangat lezat," kata Felix dengan senyuman manis, tapi percayalah itu senyuman yang horor.
__ADS_1
Karena sudah pasti akan ada keanehan nantinya dari masakan Vanya.
Kita tunggu saja nantinya seperti apa rasa aneh yang harus dicicipi oleh calon suaminya tersebut.
"Kau tega sekali padaku, padahal dulu aku selalu membantumu. Bahkan, dengan senang hati!" Gerutu Riki.
"O, kau tidak ikhlas?"
"Sudahlah, tidak usah di bahas!"
"Baiklah, aku bisa mengatakan pada Ayah untuk membatalkan pernikahan kalian untuk yang satu minggu lagi!"
"Kau mengancam ku!" Tantang Riki.
"Kau menantang ku" Kata Felix yang tidak mau kalah.
Adnan pun tersenyum melihat dua orang yang sedang bersitegang.
"Hey, tenang. Kita akan menjadi keluarga, jangan ada pertengkaran. Terutama kau!" Adnan pun menunjuk Riki.
"Kau itu masih uji coba, cepat kerjakan. Jangan sampai karena kesalahan sedikit kau kehilangan restu, ingat perjuangan mu!" Adnan pun memberikan peringatan.
"Mau restu hilang!" Tambah Felix.
"CK!" Riki pun kembali berfokus pada pekerjaan nya.
Meskipun sebenarnya kesal pada Felix dan Adnan.
"Sedikit-sedikit mengancam, lihat saja jika aku sudah menikahi adikmu," gerutu Riki sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.
Hingga sesaat kemudian Vanya pun datang dengan membawa masakannya.
Masakan yang seperti apa nantinya tetapi sepertinya membuat orang-orang merinding.
"Tara!" Vanya tersenyum dengan bahagia setelah berhasil membuatkan makanan untuk kekasih hatinya.
"Apa masakannya sudah jadi?" Tanya Felix dengan senyuman.
__ADS_1