
"Tidur pun tidak nyenyak kalau gini," Reyna pun bergegas bangkit dan memilih keluar dari kamar. Mungkin sejenak berjalan-jalan bisa menyegarkan pikiran. Sekelilingnya terlihat mewah, sangat megah dengan desain yang begitu memanjakan mata.
"Kayaknya kok mules ya, lapar juga iya," Reyna memegang perutnya yang sudah sangat membuncit. Kemudian melihat sekelilingnya, dirinya membutuhkan makanan. Kalau tidak isinya bisa berdemo. Reyna pun mencari restoran, kemudian duduk di salah satu meja.
Setelah memesan makanan, matanya pun kembali mengedar melihat sekitarnya.
Sampai akhirnya Reyna melihat Nanda duduk di kursi lainnya, bersama dengan beberapa pria dan juga ada satu orang wanita.
"Nanda, makan bareng dan aku nggak di ajak?" Reyna mengacak rambutnya kesal sekali pada Nanda yang tidak mengajaknya ikut makan bersama.
Tiba-tiba mata Nanda tertuju padanya, Reyna pun membuang tatapannya pada arah lainnya.
Setelah makanan datang, Reyna langsung memakannya. Menikmati dengan penuh kenikmatan, bahkan kembali memesan makanan karena merasa belum cukup.
Reyna sudah terbiasa meluapkan kekesalannya dengan makan, begitupun dengan saat ini.
"Aku nggak bawa dompet kayaknya," Reyna pun melupakan dompetnya yang tertinggal.
"Mohon maaf Ibu, ini tagihannya"
"Ah iya," Reyna pun tersenyum kecut.
"Mbak saya ke kamar sebentar. Saya mau mengambil dompet," kata Reyna.
Karyawan tersebut melihat penampilan Reyna, daster murah dan terlihat tidak berkualitas sama sekali.
"Kalau tidak punya uang kenapa makan di sini!" Kesal wanita itu, yang mungkin sedang memikirkan masalah pribadi tapi melampiaskan pada Reyna.
"Hey, kalau ngomong hati-hati!" Reyna pun bangkit dari duduknya karena ingin marah.
"Irna sini," seorang karyawan lainnya menarik karyawan yang bernama Irna tersebut, menjauh dari Reyna.
"Dia istri Pak Nanda, Big Bos," bisiknya.
"Kamu jangan ngawur!" Wanita tersebut masih belum percaya jika wanita dengan pakaian daster murah itu adalah istri dari pemilik gedung megah tersebut.
"Ishhh, kamu ya di bilangin nggak percaya"
"Kamu serius?" Irna pun bertanya saat melihat Nanda menatapnya tajam dari kursi lainnya, sedangkan Reyna memunggungi Nanda sehingga tidak mengetahui apapun.
"Iya."
Irna pun mendekati Reyna, memegang tangan Reyna memohon maaf.
"Maaf Bu, saya minta maaf. Tolong maafkan saya."
Reyna pun kebingungan melihat reaksi Irna saat ini, kepalanya terasa semakin pusing.
"Saya yang salah..."
"Nggak Bu, Ibu nggak salah. Ibu mau saya pijat?"
Reyna pun merasa tertarik, memang tubuhnya sedang sedikit letih.
"Boleh, tapi gratis kan?"
Ya ampun, di saat seperti ini Irna merasa Reyna masih tempat melawak, padahal jantung Irna sudah deg-degan takut dipecat.
"Gratis Bu," Irna pun segera memijat tangan Reyna.
__ADS_1
"Jangan pecat saya ya Bu, tadi saya cuma menjalankan pekerjaan saya,"
"Pecat?" Reyna tidak mengerti sama sekali.
"Apa aku sudah gila karena memikirkan tagihan selama di sini," gumam Reyna.
"Bu, bagaimana dengan pijitan saya?"
"Kanan, kiri!" Kata Reyna, dalam hati bahagia karena bisa mendapatkan pijitan gratis.
"Selamat malam Pak," Irna pun menundukkan kepalanya saat melihat Nanda yang tiba-tiba muncul.
Nanda menggerakkan tangan meminta Irna pergi, seketika Nanda memijat Reyna.
Reyna yang menutup mata pun masih menikmati bahkan tidak tahu jika yang memijatnya kini adalah Nanda.
"Kok tangan kamu persis rasanya seperti tangan suami saya?" Reyna masih menutup mata, merasakan tangan yang memijat dirinya.
Seketika Reyna membuka matanya dan ternyata Nanda yang kini memijatnya.
"Kok kamu sih?" Wajah Reyna terlihat kecewa.
"Kenapa sih, cemberut aja?" Nanda pun duduk di kursi bersebelahan dengan Reyna.
"Kamu makan di sini, bareng siapa lah itu. Nah aku? Aku kelaparan!"
"Apa tidak ada yang mengantar makanan ke kamar?"
"Entahlah, aku hanya ingin makan dengan suami ku. Tapi ternyata dia sudah makan dengan yang lainnya!"
"Aku sedang rapat," jelas Nanda sambil tersenyum pada istrinya. Marah saja Reyna terlihat cantik, apa lagi saat tersenyum.
"Rapat tentang adanya yang korupsi di sini!"
"Terus apa hubungannya dengan kamu?"
"Aku pemiliknya!"
Uhuk... Uhuk...
Reyna pun terbatuk-batuk karena terkejut mendengarnya.
"Tidak usah aneh-aneh! Jangan gila!"
"Hey, kesini!" Nanda menunjuk manager hotel, dan memintanya untuk berbicara pada Reyna.
Setelah itu barulah Reyna percaya, kemudian Nanda kembali membawa istrinya ke lobi.
Disana ada foto dirinya, Arni dan juga mendiang sang Ayah.
"Ini milik Papa, aku hanya meneruskan sampai anak kita lahir, kemudian setelah dia mampu memimpin semua usaha Papa, aku akan menyerahkan semuanya pada anak-anak ku nanti?" Terang Nanda.
Reyna pun memegang dadanya, dirinya begitu terkejut mengetahui bahwa suaminya bukan orang sembarangan.
"Reyna," Nanda panik melihat Reyna yang hampir terjatuh, beruntung Nanda segera menahan tubuh istrinya.
"Nanda, aku butuh oksigen! Napas buatan? Pinta Reyna.
Nanda pun langsung memberikan napas buatan pada Reyna, semua orang di sana melihatnya dan Reyna pun tersadar.
__ADS_1
"Nanda udah," Reyna pun berdiri tegak, mengusap rambutnya yang berlumuran keringat.
"Wah, Big Bos romantis sekali," ujar beberapa karyawan yang melihatnya. Reyna pun tersenyum malu, merutuki kebohongan barusan.
"Sudah baikan?" Tanya Nanda.
"Udah, tapi kamu emang bikin aku shock. Kenapa tidak bilang kamu banyak uang. Kalau begitu aku bisa berbelanja tanpa harus berhemat seperti saat ini!"
"Kamu berhemat?" Nanda pun terkejut mendengarnya.
"He'um, buat biaya lahiran!"
Nanda pun tersenyum mendengar pernyataan istrinya yang cerewet dan mengemaskan.
"Abi, kok perut Umi mules ya, aduh," Reyna pun memegang perutnya.
"Jangan-jangan kamu mau lahiran," seketika itu satu hotel dibuat heboh, Nanda pun takut istrinya kenapa-kenapa.
"Aduh, sakit banget," keluh Reyna.
"Hey, kamu tidak lihat istri ku kesakitan" Nanda yang panik memarahi siapapun yang hanya menjadi penonton.
"Nanda, tidak begitu juga," kata Reyna.
"Hey telepon pemadam!" Titah Nanda pada manager hotel.
"Siap Bos!"
Tiga mobil pemadam pun datang dengan suara nyarinya.
"Nanda bukan pemadam tapi ambulance," Reyna duduk di sofa sambil memegangi perutnya yang sudah sangat terasa sakit.
"Benar juga ya," kata Nanda.
"Hey, ambulance. Kenapa pemadam!" Nanda malah melampiaskan pada sang manager.
"Iya juga ya," manager hotel tersebut pun menyadari nya.
"Saya telepon ambulance sekarang ya Bos?"
Nanda menatap dengan mata tajam.
"Besok! atau lusa juga tidak masalah!" geram Nanda.
Reyna memijat kepalanya yang pusing karena ulah Nanda, sungguh sakitnya menjadi double. Pertama di perut, kedua di kepala
"Sekarang lah!" Kata Nanda lagi.
"Iya Bos, siap," dengan cepat menager itu menghubungi ambulance.
"Nanda, kamu tenang dulu," Reyna pun meminta Nanda untuk tenang, meminum mineral agar suaminya itu tidak panik.
"Kenapa aku yang minum, seharusnya kan kamu?" Tanya Nanda setelah tersadar.
"Nggak apa-apa, soalnya kamu panik banget.
"Ayo minum biar tenang"
Karyawan hotel merasa aneh, sebab bukan yang akan melahirkan yang mendapatkan perhatian. Malah Nanda karena panik.
__ADS_1