Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Jurus gila!


__ADS_3

Buk!


Buk!


Alex menghajar Felix dengan kuatnya, bahkan tanpa hentinya.


Devan hanya diam, duduk di sofa menyaksikan sebagai penonton.


Apa yang bisa di lakukannya saat ini?


Membiarkan putranya sampai babak belur.


Di mata Devan yang benar tetaplah benar, sedangkan yang salah akan tetap salah sekalipun itu adalah anaknya sendiri.


Tak terkecuali Felix, apa yang di lakukan oleh Felix memang sangat keterlaluan.


Saat seseorang yang bertugas mengawasi setiap gerak-gerik Cahaya pun melaporkan pada Alex tentang Felix dan Cahaya berada di dalam kamar Hotel saat ini.


Bahkan mengatakan ada pertengkaran yang terjadi, sebelum akhirnya Felix dan Cahaya memasuki kamar.


Setelah sampai dan masuk ke dalam kamar, tak perlu lagi menjelaskan semuanya.


Saat Cahaya hanya berbalut selimut dan Felix yang sudah mengenakan celana sudah menjelaskan segalanya.


Belum lagi ada bercak darah pada ranjang.


Devan adalah Dokter ahli kandungan, begitu pun dengan Alex. Mungkin dengan kasat mata pun sudah tahu apa yang sudah terjadi pada Felix dan Cahaya.


Bahkan Cahaya pun menyaksikan saat-saat Felix di hajar oleh Alex. Cahaya hanya diam dengan sejuta kekecewaan atas perlakuan Felix padanya.


"Cukup!" Jessica memegang dadanya, perasaannya menjadi tidak karuan saat ini.


Kecewa, sedih dan terluka.


"Mommy," Cahaya memegangi Jessica dengan cepat, memberikan mineral dan membantu untuk duduk di sofa.


Cahaya selalu takut jika Jessica menyaksikan hal seperti ini.


Alex pun menghentikan aksinya, kemudian mengepalkan tangannya. Menahan amarah yang belum juga usai.


"Cukup Alex, percuma saja. Jika pun kamu membunuhnya, anak mu tidak akan kembali suci lagi," kata Jessica.


Alex terdiam dengan kepala tertunduk, menurutnya Felix masih perlu di hukum atas apa yang di lakukan terhadap Cahaya.


"Dia, sudah melecehkan putri kita," jawab Alex.


"Cukup Alex, mungkin inilah dulu yang terjadi pada mu saat puluhan tahun silam," papar Jessica.


Cahaya bingung dan langsung menatap Jessica dengan penuh tanya. Begitu pun dengan Felix yang terkapar di lantai, ingin sekali mendengar lebih lanjut. Tapi apa daya dirinya tidak memiliki keberanian untuk bertanya. Sehingga hanya diam dalam rasa penasaran, mengusap di sudut bibirnya yang mengeluarkan bercak darah.


Sedangkan Nayla dan Devan hanya diam saja, keduanya hanya menerima apapun keputusan yang di tetapkan oleh Jessica dan Alex pada putranya yang memang bersalah.


"Sudahlah, nikahkan saja mereka. Felix pun melakukan itu karena terlalu mencintai Cahaya," pinta Jessica.

__ADS_1


Jessica yang duduk di sofa dengan Cahaya yang duduk di sampingnya.


"Aya, nggak mau! Dia jahat!" Kata Cahaya menolak dengan keras.


"Cahaya, sudahlah. Bukankah kamu juga mencintai Felix?" Tanya Jessica.


Cahaya menatap Felix yang kini sudah mencoba untuk berdiri, menimbang pertanyaannya Jessica.


"Lagi pula dia harus bertanggung jawab bukan?" Tanya Jessica lagi-lagi.


"Nggak perlu. Aya nggak akan kenapa-kenapa juga," kata Cahaya dengan yakin.


Jessica pun menarik napas dengan berat, sedangkan Alex tidak berani berbicara sedikitpun.


Sebab dirinya takut terbakar amarah dan malah membuat istri tercintanya terkena serangan jantung.


Sejenak saja menahannya, mungkin saat Jessica tidak ada dirinya akan memberikan pelajaran berharga pada Felix.


"Cahaya," Jessica menggenggam tangan putrinya, meyakinkan bahwa apa yang di katakannya adalah sebuah keputusan yang tak bisa ditolak.


"Kamu melihat dari segi kejamnya Felix, tapi di sini kamu juga tidak boleh menutup mata akan alasan Felix melakukan hal ini. Jika pun kamu mendapatkan laki-laki lain di luar sana, belum tentu mencintai mu seperti cinta Felix terhadap mu."


Mata Cahaya berkaca-kaca, sesaat kemudian cairan bening pun menetes begitu saja.


"Nggak mau, Felix kasar," jelas Cahaya dengan suara bergetar.


Sesaat kemudian Nayla pun mengusap punggung Cahaya.


Hingga akhirnya Cahaya memeluk Nayla dengan eratnya.


Jessica tidak perduli akan penolakan yang di lontarkan oleh Cahaya. Lagi pula Jessica pun tahu jelas perasaan Cahaya pada Felix dan menyimpulkan saat ini putrinya hanya sedang kecewa dan belum bisa menerima apa yang di lakukan Felix. Sedangkan dari sisi lainnya, Jessica menyimpulkan bahwa, Felix pun tak bisa tanpa Cahaya.


Jessica pun tak ingin ada drama lebih panjang. Padahal jelas keduanya sudah saling mencintai, di tambah lagi usia keduanya sudah cukup matang untuk berumah tangga.


"Felix, apa kau siap bertanggung jawab?" Kali ini Devan bertanya dengan suara beratnya.


Dari tadi hanya diam saja, namun menurutnya yang di katakan oleh Jessica memanglah sangat benar.


"Iya, aku pasti menikahi Cahaya," jawab Felix dengan pasti.


"Bunda, Aya nggak mau," kata Cahaya yang masih menangis sambil terus memeluk Nayla.


Nayla menarik napas dengan beratnya, baginya Cahaya sama seperti Vanya yang tak lain adalah putri kesayangannya. Apa lagi sejak kecil keduanya sudah memiliki kedekatan.


"Kamu nggak mau jadi anak Bunda?" Tanya Nayla.


"Bukan gitu," Cahaya tidak tahu harus mengatakan apa, tapi dirinya merasa tidak ingin menikah dengan Felix.


"Lalu?" Nayla masih menunggu alasan yang akan disampaikan oleh Cahaya.


"Felix, kasar Bunda," Cahaya pun tak tahu harus menjelaskan seperti apa, tetapi dirinya masih sangatlah kecewa pada apa yang di lakukan oleh Felix padanya.


"Begini saja, kamu minta sama Felix di buatkan klinik. Anggap saja sebagai penebus maafnya," Nayla pun memberikan sebuah usulan.

__ADS_1


Cahaya terdiam sejenak menimbang apa yang di katakan oleh Nayla.


Tentunya Nayla tahu jika impian Cahaya adalah memilki klinik.


"Bagaimana?" Tanya Nayla lagi.


"Nggak mau! Aku nggak bisa dibeli dengan uang," Cahaya akan berubah menjadi anak kecil jika sudah bersama dengan Nayla.


Hingga Nayla pun tersenyum mendengar jawaban Cahaya.


"Bukan sayang, itu hanya penebus maaf. Sisanya anak nakal itu juga mencintai kamu," kata Nayla meyakinkan Cahaya. Bahkan diselingi tawa kecil agar Cahaya tak lagi bersedih.


Nayla merasa kasihan pada apa yang menimpa Cahaya, sebab dirinya juga dulu pernah mengalami hal sama.


Bedanya dirinya dan Devan dua orang yang tak pernah dekat, apa lagi saling mencintai.


"Begini saja, kamu minta di buatkan rumah sakit," kata Devan memberikan saran.


"Aya, dengarkan Mom. Mom, mau kamu dan Felix menikah. Tolong, demi Mom," pinta Jessica.


Cahaya pun hanya bisa diam menimbang keinginan Jessica.


Sebab Jessica adalah wanita yang paling di cintainya.


"Felix, nikahi Cahaya. Berjanjilah untuk tidak menyakitinya," pinta Jessica kini menatap Felix.


Felix pun mengangguk setuju, menikahi Cahaya bukan hanya sekedar untuk tanggung jawab. Melainkan karena ada cinta yang begitu besar, ingin memiliki dengan sepenuhnya.


"Kalian bicara baik-baik saja, kami keluar dulu," Nayla pun bangun dari duduknya.


Jessica pun ikut berdiri, berjalan beriringan dengan Nayla.


Tersisa Alex dan Devan yang menatap Felix.


"Berdiri!" Titah Devan.


Felix pun berdiri.


Buk!


Devan meninju perut Felix.


"Semoga apa yang terjadi ini cukup sampai kau saja, jangan ada generasi lagi" papar Devan kemudian berlalu pergi.


"Berdiri!" Kali ini Alex yang meminta Felix untuk berdiri.


Felix pun berdiri menatap calon mertuanya tersebut.


Sesaat kemudian tendangan Alex pun membuat Felix terkapar kembali.


"Dasar kurang ajar, siapa yang mengajari mu jurus gila ini?" tanya Alex tanpa ingin mendengarkan jawaban dari Felix.


Alex pun berlalu pergi, dirinya merasa malu saat mengetahui apa yang di lakukan Felix, sebab dulu juga sama melakukan itu pada Jessica. Keputusan tepat adalah menikahkan keduanya secepatnya.

__ADS_1


'Felix yang melakukan itu tapi aku yang malu,' Alex pun membatin.


__ADS_2