Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Sama-sama aneh.


__ADS_3

"Umi," Rena langsung saja memeluk Reyna, lama tidak bertemu membuatnya merasakan rindu yang teramat berat.


"Anak Umi," Reyna juga memeluk Rena tidak kalah eratnya, sebab rindu akan putri kecilnya yang kini sudah dewasa bahkan sudah menikah juga.


"Aku kangen."


"Kangen? Memangnya masih ingat sama Umi setelah menikah? Bukannya udah sayang ke suami," goda Reyna.


"Umi apaan sih," kesal Rena.


"Rena, hati-hati jangan terlalu kuat peluk Umi Tante Reyna, nanti adik bayi di perut Tante Reyna kejepit," kata Vanya khawatir.


Vanya memang khawatir, tetapi Rena malah dibuat shock mendengarnya.


"Umi?" Tanya Rena tidak mengerti.


"Iya, kayaknya kalian bakalan lahiran barengan deh. Ish, gemes, aku juga pengen. Bunda, bikin adiknya sekalian ya, pas aku udah nikah nanti, terus kita lahiran sama-sama," kata Vanya dengan ide yang begitu cemerlangnya.


Cahaya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya barusan, memang adik iparnya itu sangat aneh.


Beruntung Riki mencintainya, jika tidak mungkin tidak akan ada yang mau dengan bocah gendeng itu.


Tapi sebenarnya Devan yang membatasi semua tentang Vanya, karena tidak ingin anaknya dewasa lebih awal.


Dan inilah hasilnya, malah sepertinya tidak akan pernah bisa menjadi dewasa.


"Umi hamil?" Tanya Rena berharap tidak benar apa yang dikatakan oleh Vanya barusan.


"Memangnya kamu mau?" Tanya Reyna kembali.


"Umi! Aku sedang hamil juga. Masa iya Umi hamil lagi?"


"Nggak apa-apa Rena, nanti adik dan anak kamu bisa main bareng," ujar Vanya.


"Vanya!" Kesal Rena.


Membuat Vanya pun tersentak seketika itu juga.


"Dasar Kakak ipar jahat," gumam Vanya merasa tersakiti.


"Umi, nggak hamil kan?" Rena masih sangat takut jika saja benar Reyna hamil lagi, bagaimana bisa hamil saat usianya sudah dewasa begini.


"Nggak, tadi Umi cuma bercanda aja," jelas Reyna diselingi tawa.


Membuat perasaan Rena pun menjadi lebih lega tentunya.


Itu sungguh mimpi buruk yang teramat sangat mengerikan sekali.


"Ya ampun Umi," ucap Rena pun setelahnya bernapas lega.


"Hehe, tapi Vanya di tunggu ya adik bayinya," Reyna malah kembali berbicara pada Vanya.


"Siap bos!" Kata Vanya dengan penuh semangat.


Nayla langsung menarik telinga Vanya hingga mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Bunda, ampun!"


"Kau ini suka sekali berbicara asal!" Nayla pun beralih menatap Reyna.


"Kau juga sudah mau jadi Oma, masih juga pecicilan!" Geram Nayla pada Reyna.


"Ahahahhaha," turun malah tertawa saat mendengar Nayla yang memarahi dirinya.


Tetapi memang apa yang dikatakan oleh Nayla benar adanya, dirinya memang tidak bisa untuk lebih baik karena sudah nyaman menjadi pencicilan.


"Semuanya, aku ke kamar ya," Cahaya pun berpamitan, kemudian masuk ke dalam kamarnya setelah Nayla dan Reyna tersenyum padanya.


"Aku, juga ya Bun, Umi," kata Vanya.


##########


"Ada-ada saja anak itu," Nayla lagi-lagi geleng-geleng kepala melihat keanehan putrinya tersebut.


"Sudahlah, justru anak seperti Vanya adalah anak yang baik. Dia akan berbicara apa yang dia rasakan, justru kita lebih waspada terhadap orang yang banyak diamnya."


"Taulah Reyna, duduk yuk."


Keduanya pun duduk sambil bercerita banyak hal.


Sementara di tempat lainnya Vanya sedang merasa khawatir pada Riki yang terus saja bersin-bersin.


Haaaaatchihhhhh....


"Kakanda nggak apa-apa kan, aduh kasihan," Vanya pun mengambil teh hangat yang dia letakan barusan pada meja dan memberikan pada Riki.


"Dingin?" Tanya Vanya dengan senyuman.


"Iya," Riki pun mengusap masing-masing lengannya, karena memang sangat dingin.


Kemudian Vanya pun melihat sekitarnya, setelah di rasa hanya mereka berdua saja Vanya pun kembali melihat Riki.


"Mau di peluk nggak?" Tanya Vanya dengan centilnya.


Riki benar-benar merasa lucu dengan ulah Vanya yang lucu, aneh dan menggemaskan itu.


Yang unik dan berbeda seperti Vanya memang sulit untuk di dapatkan.


"Mau sih, kalau Adinda mau meluk Kakanda," jawab Riki sambil tersenyum.


Rasanya ingin sekali Riki mencakar kursi karena gemas pada tingkah Vanya.


Hey, sejak kapan Riki jadi begini. Tampaknya semenjak jatuh hati pada Vanya hingga dirinya juga ikutan gila.


"Aduh," Vanya pun mengigit jarinya karena mendadak melayang ke awan.


"Coba pegang," Vanya pun bermaksud mengarahkan tangan Riki pada dadanya.


Namun malah Riki salah dalam menebak, yang ada tangannya memegang sebelah gundukan Vanya.


"Bukan di situ!" Vanya pun mencubit tangan Riki.

__ADS_1


"Di sini!" Vanya pun meletakkan tangan Riki dengan tepat.


"Oh, hehe. Kirain," Riki pun menahan malu, otaknya memang sangat kotor.


"Detak jantung aku terasakan?"


"Iya."


"Kan, karena ada di dekat Kakandaku," Vanya pun berloncat kegirangan karena terus saja merasa berbunga-bunga.


"Ehem-ehem!" Felix pun berpura-pura melewati ruang keluarga, kemudian berdehem melihat dua orang anak manusia yang tengah kasmaran.


"Kakak sakit tenggorokan? Minum steril! "Kata Vanya.


"Dasar gila!" Felix pun beralih menatap Riki.


"Betah sekali kau di sini, pulang saja. Jangan bilang kau lupa jalan pulang."


"Kak!"


"Kalian belum menikah, nggak usah aneh-aneh!" Kata Felix lagi.


"Baiklah," Riki pun bangkit dari duduknya, kemudian tersenyum pada Vanya.


"Adinda, Kakanda pulang dulu, sampai ketemu besok."


Vanya pun tersenyum sambil meremas kedua tangannya.


"Hati-hati ya Kakanda, jaga hati, jaga mata, jangan sampai ke lain hati, Adinda bisa terluka..."


"Basi!" Felix ingin sekali muntah mendengarnya, Vanya dan Riki memang sama-sama aneh.


"Apaan sih, sewot amat. Lagi datang bulan ya Kak?" Celetuk Vanya.


Felix pun tidak perduli, dirinya hanya menatap Riki dengan tatapan matanya yang tajam.


"Adinda, sampai ketemu besok. Bobo cantik dan sebut nama Kakanda," kata Riki yang sengaja membuat Felix menjadi kesal.


Dirinya tahu saat ini Felix ingin menelannya hidup-hidup, biarkan saja. Sekaligus hiburan juga.


"Hati-hati juga ya Kakandaku."


"Pulang nggak kamu sekarang!" Felix pun mengambil vas bunga mengarahkannya pada Riki.


Bukannya takut Riki malah tertawa karena melihat kekesalan Felix.


"Aku pulang dulu ya Kakak ipar, sampai bertemu besok," akhirnya Riki benar-benar pulang.


Sementara Felix malah bergidik ngeri saat Riki menyebutnya Kakak Ipar, awalnya memang Felix yang meminta Riki untuk memanggilnya Kakak berniat mengerjai.


Namun, sampai di sini malah dirinya yang ingin muntah mendengarnya.


"Kak Felix kenapa? Tanya Vanya bingung."


"Dasar!"

__ADS_1


__ADS_2