Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Minggat!


__ADS_3

"Kamu mau beli apa? Abang mau beli minuman," kata Nanda.


Nanda menepikan mobilnya di depan sebuah supermarket, kemudian melirik Reyna.


"Adek mau pilih sendiri aja."


"Kamu disini saja, nanti kecapean. Barusan juga kebanyakan tertawa."


"Ya udah, minuman dingin aja."


Nanda pun segera turun dan memasuki supermarket, kemudian mencari beberapa barang termasuk makanan dan minuman pesanan Reyna.


Saat Nanda sedang memilih beberapa benda, terasa ada yang menepuk pundaknya.


Nanda pun menoleh dengan sedikit terkejut.


"Apa kabar?" Tanya wanita tersebut.


"I... iya, baik," Nanda sedikit gelagapan, sedikit tidak nyaman.


"Kamu kenapa? Kayaknya shock banget?" Tanya Aliya lagi.


"Nggak apa-apa, kamu apa kabar?" Tanya Nanda kembali bertanya hanya untuk berbasa-basi


"Aku beli susu hamil, aku udah nikah. Nanti kapan-kapan kita ketemuan dan aku akan mengenalkan suamiku."


"Iya," Nanda pun mengangguk, tidak tahu harus mengatakan apa.


Sebab buru-buru karena takut Reyna marah, karena terlalu lama menunggu.


Sedangkan Reyna yang tidak sabar pun memutuskan untuk menemui Nanda, berbelanja bersama jauh lebih baik daripada menunggu. Sungguh menunggu adalah hal yang sangat membosankan baginya.


Menyusuri dan mencari keberadaan Nanda, sampai akhirnya matanya melihat Nanda yang tengah berbicara dengan seorang wanita.


Reyna merasa pernah melihat wanita tersebut, tapi siapa?


Ah iya!


Itu Aliya, dulu Nanda pernah menyukainya dan Nayla mengatakan bahwa mereka pernah bercumbu mesra.


Amarah pun seketika memuncak, merasa tertipu.


Barusan Nanda melarangnya untuk turun dan ikut berbelanja ternyata untuk kebebasan bertemu dengan Aliya.


"Abang!" Seru Reyna.


Nanda dan Aliya pun melihat Reyna.


Nanda pun panik dan meletakkan belanjaan ditangannya, kemudian berjalan ke arah istrinya.


Sayangnya Reyna yang kesal memilih segera pergi, tidak perduli jika Nanda terus memanggilnya.

__ADS_1


"Reyna!" Panggil Nanda.


Reyna menaiki taksi dan memilih pergi, kesal rasanya melihat Nanda tampak akrab dengan Aliya.


Reyna sampai mengusap air matanya, kekesalannya belum bisa mereda sama sekali. Sedangkan di belakang taksi yang ditumpanginya terlihat mobil Nanda yang menyusul.


"Lebih kencang Pak!"


Sampai di rumah Reyna pun segera turun, meminta supir taksi untuk menunggunya sebentar.


Memasuki rumah dengan terburu-buru kemudian memasuki kamar, mengambil koper dan memasukkan baju-baju dengan cepat.


"Reyna!" Nanda yang menyusul masuk melihat apa yang dilakukan oleh Reyna


Memasukan pakaiannya kedalam koper dengan terburu-buru.


"Minggir!" Reyna terus memasukkan pakaiannya, tidak ingin terganggu sama sekali oleh Nanda.


"Reyna!"


"CK!" Reyna berdecak kesal dan menarik kopernya setelah selesai memasukan pakaiannya.


"Kamu cemburu?"


Degh!


Reyna pun menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik dan menatap Nanda.


"Pantesan kamu nggak ngijinin aku ikut ke supermarket itu, ternyata kamu mau bertemu dengan dia. Atau mungkin kalian udah janjian! Biar nggak ketahuan seolah bertemunya karena tidak sengaja!" Tebak Reyna.


Tapi jika didiamkan maka akan lebih menjadi-jadi, sehingga Nanda lebih memilih berbicara dan berusaha untuk menjelaskan.


"Kamu bohong! Sebenarnya bahagia bisa bertemu, atau selama ini kalian selalu bertemu?"


"Reyna, itu tidak benar! Kenapa kamu semakin menjadi-jadi. Makin kesini tuduhan kamu semakin tidak jelas!"


"Oh, sekarang kamu nyalahin aku, kamu bentak aku!"


"Bukan begitu?"


Ya ampun.


Tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Reyna, tapi emosi istrinya benar benar membuncah karena terbakar api kecemburuan yang begitu luar biasa.


Serena pun kembali menarik kopernya.


"Kamu mau kemana?"


"Mau pulang ke rumah orang tua ku! Kamu juga tega sama aku!"


Reyna pun segera menaiki taksi, sesaat kemudian melirik Nanda sejenak.

__ADS_1


Nanda terdiam melihat istrinya, mungkin saat ini Reyna butuh ketenangan.


Istrinya itu memang sedikit berlebihan, tak lama berselang ponselnya pun berdering, bersamaan dengan taksi yang ditumpangi Reyna mulai melaju.


Nanda hanya menarik napas panjang, dengan tangan yang terangkat di udara.


Ingin memanggil Reyna, tapi ponselnya pun terus berdering dan segera menjawabnya.


Tugas Negara adalah utama, tanpa terkecuali dalam keadaan apapun.


Sedangkan Reyna akhirnya sampai di rumah kedua orang tuanya, menarik kopernya masuk dengan kekesalan yang luar biasa.


"Tante kenapa?" Tanya Cahaya yang sedang duduk di teras, sambil bermain masak-masak bersama dengan Puput dan Pian.


Cahaya tidak ikut bersama kedua orang tuanya ke luar negeri, dirinya tinggal bersama sang Oma agar pikiran Alex tidak bercabang dua saat sedang mengurus Jessica yang sedang dirawat.


"Reyna, kamu bawa koper. Kenapa?" kali ini Puput pun bertanya sambil bangkit dari duduknya


"Mama mau marah? Marah aja! Nggak apa-apa. Emang Mama lebih sayang anak orang dari pada anak sendiri! Marah aja!" Seru Reyna sambil mengusap air matanya beberapa kali.


Dirinya kesal sekali karena Nanda tidak menyusulnya sama sekali, artinya apa yang dipikirkan benar adanya.


Nanda ada sesuatu dengan Aliya.


"Kamu..."


Pian menahan istrinya untuk tidak memarahi Reyna, hingga membuat Puput terdiam seketika.


"Sekarang kamu masuk, dan tenangkan diri," kata Pian.


Reyna pun segera menuju kamar lamanya yang sudah lama tidak ditempatinya.


"Papa kok malah mendukung anak tidak sopan begitu?" Tanya Puput dengan kesal.


"Sudahlah Ma, ayo duduk," Pian menarik Puput untuk kembali duduk di teras dan kembali bermain dengan cucu nya.


"Mama masih kesal!"


"Mama, dia itu sama seperti Mama waktu hamil Reyna. Cemburuan, gampang marah, pengen dibujuk terus. Mama tidak mengerti saja, namanya juga wanita hamil, biarkan saja."


Pian tersenyum pada Puput, mengingatkan jika itu adalah sikap Puput dulu saat sedang mengandung Reyna.


Sedikit ada masalah langsung minggat dari rumah. Puput pun akhirnya diam setelah menyadarinya.


"Oma sama Opa kok pacaran sih?" Tanya Cahaya merasa tidak dihiraukan.


Puput dan Pian pun beralih menatap cucunya, kemudian tersenyum.


"Aduh, Oma sampai lupa."


"Mom kapan sembuh ya Oma? Aya udah kangen main sama Mom dan Dad," kata Cahaya dengan wajah lesu.

__ADS_1


"Sabar ya, tidak lama lagi Mom dan Dad akan pulang," Puput pun memeluk cucunya, membuatnya sedikit tenang.


Kasihan juga melihat Cahaya yang kini harus terpisah sementara waktu dari kedua orang tuanya.


__ADS_2