
"Kalau kamu tidak mau, tidak masalah! Tidak usah menikah dengan aku! Biar aku cari laki-laki lain saja, yang benar-benar tulus pada ku. Aku tidak perduli mau dari kalangan bawah sekalipun asalkan bisa mencintai ku dengan tulus!"
Perduli setan dengan cinta yang ada, saat ini Cahaya hanya ingin menguji seberapa besar cinta Felix padanya.
Sebab, Cahaya ragu untuk menikah dengan Felix karena perlakuan kasar yang di terimanya.
Felix pun terdiam tanpa kata, apa lagi saat Cahaya mengatakan untuk mencari laki-laki lain.
Seketika wajahnya menjadi panik.
Lihat saja jika benar itu terjadi, Felix tidak akan pernah diam saja. Selama masih bernapas maka tidak akan ada yang bisa memiliki Cahaya selain dirinya.
"Baiklah, aku akan menuruti keinginan mu!" Jawab Felix dengan cepat, tanpa ingin berpikir panjang.
Cahaya menatap Felix dengan penuh intimidasi, meyakinkan dirinya apakah Felix sedang serius atau sedang berpikir keras cara mengelabuinya.
Mengingat Felix adalah tuan arrogant yang licik dan mempunyai seribu satu cara untuk membuat tujuannya tercapai dengan mudah.
"Kamu tidak percaya pada ku?" Felix tahu Cahaya masih ragu pada apa yang di ucapkannya, tetapi Felix tidak.
Felix serius menuruti syarat yang di inginkan oleh Cahaya.
Menjadi seorang rakyat biasa, tanpa kekayaan keluarga, jabatan tinggi maupun lainnya. Felix benar-benar menjadi pria yang hidup di kalangan biasa.
"Kamu nggak lagi memikirkan rencana licik kan?"
"Nggak, asal kita menikah apa saja akan aku lakukan," kata Felix dengan yakin.
"Awas kalau bohong, aku tidak akan mau menikah dengan mu. Aku tidak main-main!" Ancam Cahaya.
Ancaman tersebut benar adanya, Cahaya tidak pernah main-main dengan ucapan-ucapannya.
"Iya, sayang. Demi kamu apa saja," kata Felix tidak ingin lagi berada dalam ketegangan.
Sial.
Cahaya tidak bisa marah jika panggilan tersebut terdengar di telinganya. Terdengar aneh, namun memang begitu adanya. Cahaya memang mencintai Felix, sekalipun kesal tetapi rasa cinta itu tak pernah berubah.
"Aya, kamu nggak lihat, aku babak belur begini," Felix pun lagi-lagi mengusap sudut bibirnya, menunjukan bercak darah yang tampak terlihat.
Cahaya pun memperhatikannya, tubuh Felix tampak babak belur karena Alex dan juga Devan.
Tetapi tidak sama sekali membuatnya kasihan.
"Ya terus?" Tanya Cahaya dengan santai, lagi pula itu adalah hukuman sebab sudah membuatnya tak lagi menjadi gadis perawan.
"Kamu nggak kasihan?"
Cahaya pun berdecak, wajahnya tampak masam. Sekalipun demikian Cahaya tetap mengambil tas miliknya.
Perlengkapan seorang Dokter tak pernah tertinggal, kemana saja pergi selalu membawanya.
Apa lagi dalam acara hari ini.
Dengan kesal Cahaya mengobati Felix. Jika tanya apakah dia terpaksa, jawabannya tentu iya.
"Aduh," Felix meringis menahan sakit, saat kapas yang di tekan dengan sengaja oleh Cahaya begitu kuat.
"Dasar cengeng!" Cahaya pun kembali menekan dengan kuat.
"Aduh, Aya!" Seru Felix dengan suara keras.
"Makanya jangan aneh-aneh!" Omel Cahaya.
Mulutnya terus saja mengomel, tetapi tidak juga berhenti mengobati Felix.
Felix tersenyum melihat wajah Cahaya dari jarak yang begitu dekat, jantungnya terus saja dibuat berdetak kencang jika sudah berdekatan begini.
__ADS_1
Menyadari tatapan Felix yang tidak terputus-putus, Cahaya pun kembali menekankan kapas di tangannya hingga Felix kembali meringis kesakitan.
"Aduh......"
"Kamu dengar aku nggak? Aku ngomong dari tadi."
"Iya, aku dengar." Felix mengkedipkan sebelah alis matanya, menggoda Cahaya.
"Ish, genit banget sih!" Cahaya melemparkan kapas di tangan pada wajah Felix.
Sekalipun sebenarnya hatinya berdebar kencang tanpa hentinya.
"Kenapa? Sama calon istri sendiri," goda Felix lagi.
"Felix!"
"Iya, aku diam."
"Felix!"
"Aku cuma liatin kamu."
Cahaya pun kembali mengobati Felix, tetapi Felix terus menatap Cahaya tanpa jeda.
"Aku nggak nyaman di lihatin gitu!"
"Kenapa?"
"Kamu banyak tanya!"
"Jawab dulu kenapa?"
"Nggak apa-apa!"
"Cahaya," Jessica pun muncul kembali. Pintu kamar yang terbuka setengahnya membuat siapa saja dapat masuk. Tak terkecuali Jessica. Dan Nayla yang berdiri tidak jauh dari Jessica.
"Mom, pulang duluan ya. Kepala Mom pusing," pamit Jessica.
Cahaya pun menghampiri Jessica, memeluk dengan eratnya.
"Mom, jangan stres ya. Maaf kalau Aya bikin Mom kecewa, Aya bakalan nurut deh janji," Cahaya begitu takut jika terjadi hal buruk pada Jessica, apa lagi untuk kali ini. Dirinya yang menyebabkan Jessica sakit, walaupun tidak sepenuhnya.
"Tidak, Mom baik-baik saja. Jaga diri ya" Jessica pun tersenyum dan mencium dahi Cahaya, dirinya sadar jika Cahaya tidak bersalah, melainkan Felix yang tersangka sebenarnya.
Hanya saja Jessica tahu alasan Felix melakukan semua itu, tak lain karena cinta yang begitu besar.
"Felix, jaga Cahaya ya. Tante percaya sama kamu, tolong jangan kecewakan Tante," kata Jessica.
Felix pun bangkit dari duduknya dan mengangguk.
"Iya Tante," Felix mengangguk mengerti.
Jessica pun merasa lega, sebab yakin Felix adalah lelaki yang tepat untuk putri kesayangannya.
"Mommy pergi dulu."
"Hati-hati Mom," kata Cahaya.
Setelah Jessica selesai berpamitan, Nayla pun menghampiri Cahaya.
"Bunda, pulang duluan. Cepat kembali ya," kata Nayla.
"Ya Bunda." Cahaya memeluk Nayla. Setelah itu Nayla melihat Felix.
"Kalian belum menikah, sudah diberikan kebebasan dan kepercayaan jangan menyalah gunakan!" Nayla memberikan peringatan dengan keras, dirinya tak suka dengan seseorang yang melakukan hal di luar batas tanpa hubungan pernikahan.
Felix pun mengangguk, dirinya juga tidak ingin melakukan lagi sebelum menikahi Cahaya.
__ADS_1
"Cahaya, jika dia nakal," Nayla pun meletakkan gunting di telapak tangan Cahaya.
"Potong saja senjata nakainya itu biar kapok!"
Felix pun meneguk saliva, kemudian memegang bagian tengahnya dengan refleks.
Setelah itu Nayla pun berlalu pergi, sedangkan Cahaya menatap gunting di tangannya. Kemudian melihat wajah Felix yang pucat.
"Bunda sudah memberikan kepercayaan kepada ku, jangan lah aku mengecewakannya!" Cahaya memainkan gunting di tangannya.
"Kalau hanya memegang gunting aku ahlinya," imbuh Cahaya lagi.
"Cahaya, aku tidak akan melakukannya lagi sebelum kita menikah," Felix pun menyakinkan Cahaya dengan cepat, dirinya benar-benar merasa horor melihat Cahaya.
"Bagus!" Cahaya pun tersenyum penuh kemenangan, kapan lagi bisa melihat wajah Felix dengan rasa ketakutan yang begitu luar biasa.
"Ampun," Felix mendadak menjadi seekor kelinci yang menggemaskan di mata Cahaya.
Tidak ada Felix yang dingin, arrogant, lelaki kejam tanpa perasaan.
Percayalah jika orang-orang di luar sana melihat ini pasti akan tertawa terbahak-bahak, sebab selama ini mereka begitu segan pada Felix.
"Makanya, jangan main-main!" Ancam Cahaya.
Glek!
Felix bergidik mengeri, membayangkan jika benar senjata ampuhnya berakhir di tangan Cahaya.
"Tapi, pikirkan juga nasib mu."
"Aku?" Cahaya bingung dan tidak mengerti.
"Iya, karena mainan mu setelah menikah akan hilang," Felix pun tertawa terbahak-bahak melihat wajah Cahaya yang mendadak memerah.
"FELIX"
"Ahahahha"
"Felix"
"Sabar sayang, aku akan menjaganya untuk mu!"
Cahaya pun mendekati Felix ingin memukulnya.
Dengan cepat Felix meloncati sofa, demi menghindari Cahaya. Lagi pula Cahaya masih cukup kesulitan untuk bergerak bebas, sehingga tidak terlalu sulit untuk Felix melarikan diri.
"Felix!" Seru Cahaya kesal karena tak dapat menangkap Felix.
"I love you!"
Cahaya yang sudah tidak kuasa menahan godaan Felix pun akhirnya menangis kencang, tapi di mata Felix, Cahaya tetap saja cantik tanpa ada yang berubah.
"Aku nggak dengar!"
"Aku cinta pada mu!"
"Aku nggak dengar!"
"Iya sayang, iya!"
"BUNDA NAYLA!" Teriak Cahaya yang benar-benar tak kuasa mendengar godaan Felix.
"Ahahahha......."
"Ish!"
"Ahahahha."
__ADS_1