
Sudah dua jam lebih Dua detik berada di rumah kedua orang tuanya, dan ini sudah kali yang ke seratus mungkin Reyna melihat jam tangannya, tetapi sampai saat ini pun Nanda tidak menyusulnya sama sekali.
Mengambil ponselnya dari dalam tas, berharap ada panggilan masuk dari Nanda. Wajah kesal Reyna semakin terlihat, tidak ada sama sekali panggilan telepon dari suaminya tersebut.
"Atau dia lagi mesra-mesraan sama wanita itu di rumah! Awas saja kalau iya!" Reyna pun memegang erat ponselnya dan ingin melempar.
Tetapi teringat wajah Nanda, itu adalah ponsel yang dibeli oleh Nanda.
Akhirnya Reyna pun mengurungkan niatnya, memilih memeluk ponselnya. Tapi hanya sebentar saja, meletakan ponselnya pada ranjang dan segera menuju dapur.
Duduk di kursi meja makan sambil memanggil seorang Art.
"Bik, aku mau nasi putih. Telur mata sapi lima pakai kecap manis!"
Sesaat kemudian makanan pun sampai, tapi merasa kesal karena telurnya tidak sesuai dengan keinginan nya.
"Kok cuma empat! aku bilang lima!"
"Itu lima Neng," Art tersebut pun menghitungnya, agar Reyna tahu.
"CK!" Ada apa dengan mata Reyna, karena terlalu cemburu malah membuatnya salah dalam menghitung telur saja.
Baiklah, makan pun dimulai. Reyna memilih melepaskan kekesalannya dengan makan sebanyak-banyaknya.
Setelah makanannya habis, berlanjut dengan meneguk mineral. Kemudian bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar, melewati ruang keluarga.
Tidak disangka ada Nanda di sana, Reyna merasa sedikit lebih baik. Artinya suaminya tersebut tidak sedang bermesraan dengan Aliya, seperti yang dipikirkan nya.
Dan entah sejak kapan Nanda datang.
Reyna pun masih dalam mode marah, walaupun hanya pura-pura saja. Sungguh saat melihat wajah Nanda seketika amarahnya menghilang begitu saja.
Aneh sekali.
Karena sebenarnya tidak sanggup untuk tidak dipeluk oleh Nanda.
Reyna membuang pandangannya, kemudian terus berjalan berpura-pura tidak perduli pada Nanda.
"Reyna!" Panggil Pian, Reyna pun berhenti sejenak, kemudian melihat Pian.
"Buatkan kopi untuk suami mu!" Titah Pian.
Beralih melihat Nanda yang duduk tidak jauh dari Pian.
Dalam hati berpikir mengapa suaminya itu sangat tampan dan bisa membuatnya rindu tanpa jeda.
"Ogah!" Reyna pun kembali melanjutkan langkah kakinya, tapi lagi-lagi ada suara yang menghentikan langkah kakinya.
"Reyna, aku ingin bicara. Sebentar saja," pinta Nanda.
Reyna pun tersenyum samar, tapi kesal masih ada. Kenapa Nanda tidak memeluknya dengan segera.
CK.
__ADS_1
"Selesaikan masalah kalian!" Pian pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah Reyna dan berbisik di telinga putrinya tersebut.
"Caelah bocil cemburu," goda Pian.
Reyna pun shock mendengarnya, dengan refleks menatap wajah Pian dengan kesal.
Pian tersenyum menggoda dan menaik turunkan kedua alis matanya.
"Papa!" Reyna pun mengepalkan tangannya.
"Hehehe," Pian terkekeh melihat tingkah anaknya yang sudah besar tapi masih saja kekanak-kanakan, ketika Pian berlalu begitu saja.
Setelah itu Reyna beralih menatap Nanda yang masih duduk di sofa. Karena merasa malu Reyna pun memilih segera masuk ke dalam kamar, Reyna tersenyum sambil berdiri di ambang pintu, dirinya menyadari sikapnya yang terlalu berlebihan.
Padahal sudah jelas Nanda bukan lelaki yang suka bermain wanita.
Akhirnya otaknya yang miring kembali membaik lagi sehingga bisa berpikir lebih jernih dan mungkin setelah melihat Nanda yang datang menyusulnya.
"Adek," tiba-tiba Nanda memeluknya dari belakang.
Reyna pun tersentak, sibuk berkhayal membuatnya tidak menyadari kedatangan Nanda yang ikut menyusulnya ke dalam kamar.
Gengsi masih bertahta, Reyna pun memilih diam dengan bibir yang mengerucut.
Nanda menutup pintu kamar dan memutar tubuh Reyna.
"Tadi itu cuma ketemu, itu pun tidak sengaja," jelas Nanda tidak ingin Reyna salah mengerti.
"Nggak mau! Kamu bohong!"
"Buktinya kamu baru ke sini sekarang! Dari tadi kemana aja? Kamu ketemu dia lagi!" Tebak Reyna, melepaskan diri dari pelukan Nanda dan segera duduk di sisi ranjang, memunggungi Nanda dengan kesal.
Nanda pun ikut duduk di ranjang, mencoba mengajak Reyna untuk berdamai.
"Tadi itu ada sedikit pekerjaan di kantor, aku juga mau kasih kamu waktu sendiri dulu. Biar emosi kamu mereda."
"Kan, kamu lebih mentingin kerjaan dari pada aku! Kapan aku bisa jadi nomor satu?"
Nanda pun terdiam sambil menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Reyna bingung.
"Kamu mau di kejar sama aku?" Tanya Nanda sambil mencolek dagu Reyna.
Wajah Reyna memerah seketika, sesaat kemudian kembali memunggungi Nanda.
"Mana ada!" Elak Reyna dengan cepat.
"Oh," Nanda pun bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan ke arah pintu.
"Mau ke mana?" Tanya Reyna panik.
"Katanya kamu nggak perlu aku," ujar Nanda tersenyum sambil menatap istrinya yang sedang dalam mode ngambek.
__ADS_1
"Siapa bilang!"
Nanda kembali berjalan ke arah Reyna, kembali duduk di sisi ranjang.
"Aku nggak tahu persis kenapa kamu marah, tapi mungkin karena aku bertemu Aliya. Aku serius dan nggak bohong, kami tidak sengaja bertemu, semua tuduhan mu barusan salah besar. Lagi pula dia juga sudah menikah"
"Kenapa nggak bilang dari tadi?"
Huuuufff.
Nanda menarik napas dengan berat, benar-benar istrinya itu sangat menjengkelkan. Beruntung Nanda mencintainya, sehingga tidak bisa marah.
"Kamu masih mau marah?" Tanya Nanda.
Reyna pun diam tanpa bicara, ingin dipeluk tapi ingin Nanda yang duluan memeluknya.
"Lebih cantik dia atau aku?"
Nanda ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Reyna.
"Jawab!" Reyna masih kesal jika Nanda belum juga menjawabnya.
"Cantikan kamu!"
Reyna pun menahan senyum dengan menggigit bibir bawahnya.
"CK! Kamu nggak peka banget sih jadi suami!" Kesal Reyna saat Nanda tidak juga memeluknya.
"Apa?" Tanya Nanda tidak mengerti sama sekali.
"Ish! Kamu pergi dari sini sekarang! Nggak usah balik lagi!"
"Ahahahhaha," Nanda pun tertawa kecil melihat tingkah laku istrinya, kemudian memeluk Reyna dengan eratnya.
"CK! Dari tadi kek," kata Reyna tanpa sadar. Nanda pun melepaskan pelukannya, kemudian melihat wajah Reyna.
"Hehe," Reyna terkekeh geli menyadari apa yang dikatakannya barusan,
"Keceplosan."
"Ahahahhaha," Nanda kembali memeluk Reyna, merasa gemas pada sikap istrinya tersebut
"Jangan ngejek, malu tau," rengek Reyna.
"Kamu kalau cemburu nggak kira-kira ya, selalu kabur dari rumah mau nya," ujar Nanda sambil terus tertawa kecil.
"Nanda, udah! Aku kan malu!" Reyna pun menutup wajahnya, dirinya benar-benar malu sekali.
"Kok ditutupi, jangan dong. Rugi sekali aku tidak bisa melihat pemandangan yang sangat indah," Nanda pun melepaskan tangan Reyna yang menutupi wajahnya.
Reyna tersipu malu mendapatkan satu pujian yang membuatnya terbang ke awan.
Nanda pun mencium bibir Reyna yang merah merekah tersebut, dengan perlahan Reyna pun membalasnya.
__ADS_1
Melihat Reyna yang juga menginginkan, tangan Nanda pun mulai menelusup masuk ke dalam dress berwarna coklat tua Reyna.
Meraih gunung kembar dan memainkannya dengan penuh damba.