Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Jangan gila! Adnan..


__ADS_3

Rena pun membuatkan secangkir kopi untuk Adnan.


Tak sulit untuk melakukan semua itu. Sebab, dirinya sudah terbiasa menyeduhnya kopi untuk Abi Nanda.


"Selesai," Rena tersenyum bangga menatap secangkir kopi buatannya.


Sesaat kemudian kembali ke ruangan Adnan, masih saja pria itu duduk di tempatnya tanpa berpindah sama sekali.


Perlahan Rena meletakkan pada meja kemudian duduk di sofa.


"Bagaimana?" Rena penasaran dengan komentar yang akan diberikan oleh Adnan tentang kopi buatannya, sebab itu adalah untuk yang pertama kalinya.


Ini sungguh luar biasa.


Adnan hanya menunjukkan wajah datarnya, sedangkan Rena benar-benar menunggu dengan penasaran.


"Kurang manis," kata Adnan.


Akhirnya setelah menunggu lama Rena mendengar komentar Adnan, merasa sedikit kecewa sebab berharap akan mendapatkan pujian.


"Masa sih?"


"Cobain"


Adnan memberikan cangkir di tangannya pada Rena, dengan rasa ragu menyeruput kopi tersebut. Hingga akhirnya tatapan bingung pun dilayangkan pada Adnan.


"Perasaan pas deh, nggak terlalu manis, nggak juga terlalu pahit," Rena pun bergumam dengan segala kebingungannya, kemudian kembali menyeruputnya untuk memastikan lagi.


"Kopinya memang kurang manis. Karena, manisnya kalah sama kamu!" Papar Adnan.


Byur!


Uhuk... Uhuk...


Rena mendadak terbatuk-batuk saat itu, kopi di mulutnya belum sempat di telannya dan akhirnya mengenai kemeja Adnan.


"Maaf?"


Rena yang panik pun mengambil tisu kemudian mencoba untuk membersihkan noda pada kemeja Adnan.


Sedangkan Adnan tampak santai saja, melihat Rena yang panik malah terlihat lucu di matanya.


"Maaf, aku tidak sengaja," lagi-lagi Rena terus meminta maaf kepada Adnan.


"Katakan saja kamu mau memegang suami mu ini," Adnan pun menggoda Rena hingga pergerakan tangan Rena pun mendadak terhenti seketika mendengarnya, mendongkak dan memberanikan diri untuk menatap manik mata elang Adnan secara langsung.


Namun Adnan malah tersenyum menggoda, membuat wajah Rena memerah seperti kepiting rebus.


"Apaan sih!" Rena melempar tisu di tangannya, tak ingin lagi membersikan kemeja Adnan.


Sebab malah dirinya yang merasa malu.


Sedangkan Adnan hanya tersenyum sambil terus menerus melihat Rena.


Tak ingin beralih sedikit pun, sedetik pun, sungguh memandangi wajah Rena adalah sebuah kebahagiaan baginya.


Siapa sangka kini bisa memiliki, sesuatu yang begitu menjadi impiannya.


"Adnan!" Rena pun mendadak salah tingkah, ingin sekali pergi dari tempat tersebut. Tapi ke mana? Rena sudah menikah, mereka sudah menjadi pasangan suami istri.


Kemana pun pergi harus dengan ijin suami, itulah yang diajarkan oleh Reyna padanya setelah sah menjadi istri Adnan.


"Bagaimana kalau kita selesaikan skripsi"

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Adnan barusan membuatnya bernapas lega, mengapa tidak dari tadi membahas tentang skripsi.


Mengapa harus di saat dirinya menegang begini?


Padahal dari tadi Rena sudah meminta Adnan untuk membahasnya, tidak apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


"Baiklah," dengan senyuman manis Rena pun mencoba untuk mengambil laptop di dalam tasnya.


Namun, mendadak terhenti karena Adnan yang tidak mengijinkannya.


"Kita cari tempat yang lebih santai saja, bagaimana?"


Rena menimbang sejenak, kemudian mengangguk setuju. Sebab, tempat tersebut memang terlalu tertutup membuatnya tak nyaman saat hanya berduaan saja di ruangan tertutup.


"Iya, kita ke mana? ke restoran? Atau ke mana?" Rena begitu bersemangat, hingga begitu terburu-buru untuk bangkit dari duduknya, tak lupa memakai tas miliknya. Adnan tersenyum samar, melihat semangat Rena yang begitu luar biasa.


"Adnan, apa lagi?" Rena pun melihat Adnan yang hanya masih diam pada tempatnya, tampak suaminya itu sedang memikirkan sesuatu.


Tetapi apa?


Rena tidak tahu dan tidak juga mau tahu, sebab dirinya terlalu menginginkan wisuda dengan secepat mungkin.


Kemudian setelahnya mulai mencari pekerjaan, setelah itu mendapat gaji dari hasil kerja kerasnya sendiri.


Itu adalah impian Rena sejak kecil, menikmati uang dari hasil keria kerasnya. Tanpa ada campur tangan dari kedua orang tuanya sama sekali.


Walaupun sebenarnya Rena melupakan kini dan dulunya sudah sangat berbeda, sebab ada Adnan yang kini berhak penuh atas dirinya.


Bahkan Rena sendiri pun tidak berhak untuk menolak apapun nanti yang akan Adnan putuskan terhadap hidupnya.


"Adnan!"


Adnan pun perlahan bangkit, kemudian menyambar kunci mobilnya.


Bahkan membukakan pintu mobil untuknya, sesuatu yang sederhana namun begitu bermakna bukan?


Tentu, Rena sangat bahagia sekali. Terkadang kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dengan benda yang berharga mahal.


Sampai akhirnya Adnan pun memarkirkan mobilnya, membuat Rena bingung dan bertanya-tanya.


"Bukannya kita ke restoran?"


"Di lantai atas juga pemandangannya tidak kalah bagus," Adnan turun dari mobilnya.


Setelahnya membuka pintu untuk Rena.


Dengan ragu Rena pun turun dari mobil, kemudian mengikuti langkah kaki Adnan membawanya masuk ke dalam lift.


Kemudian keluar setelah sampai di lantai atas, Rena sendiri yang masih bingung tak tahu itu lantai berapa.


Hingga akhirnya memasuki sebuah unit apartemen.


"Kok ke sini? Ini apartemen siapa?"


"Milik mu."


"Aku?" Tanya Rena kebingungan.


"Iya!"


Adnan pun memilih duduk santai dan menyalakan televisi.


"Katanya mau menyelesaikan tugas ku!"

__ADS_1


"Ya, memang. Tapi, aku sukanya di sini. Lebih santai!"


"Santai apanya?"


Tampaknya Rena tidak sepakat dengan kata santai yang dikatakan oleh Adnan, apa yang dibayangkannya benar-benar tidak sesuai dengan apa yang terjadi.


"Duduk!" Adnan menarik lengan Rena untuk duduk di sampingnya, lagi pula dirinya bukan hanya ingin menolong tapi ada hal yang lainnya juga.


Dengan terpaksa Rena pun menurut, duduk di samping Adnan dengan terpaksa.


"Ya ampun, istri Mas. Cantik banget sih, tambah cemberut tambah cantik," goda Adnan.


"Apaan sih! Nggak jelas banget deh!" Rena berusaha keras untuk tetap tenang, walaupun denyut jantung kian terpacu karena godaan Adnan yang terus menerus membuatnya kehilangan udara untuk bernapas.


"Ketus banget."


"Kamu mau bantuin aku nggak sih?" Rena yang tak tahan akan godaan Adnan pun akhirnya marah, meninggikan nada bicaranya agar Adnan mau fokus pada tujuan awal mereka.


Tetapi, Adnan memilih diam. Tak ingin melakukan apapun.


Membuat Rena merasa bersalah.


"Mas....... Maaf," Rena pun menurunkan nadanya agar Adnan tak lagi marah.


Adnan adalah harapannya, hanya suaminya itu yang dapat menolongnya.


"Kamu mau aku bantu?"


"Iya," Rena mengangguk cepat sambil cengengesan.


"Kalau begitu temani aku tidur siang!" Adnan pun menarik lengan Rena hingga tertarik dan menariknya pada ranjang.


"Adnan!" Rena terkejut saat menyadari ke mana Adnan membawanya saat ini.


Seketika itu otaknya mulai berpikir akan hal yang lainnya.


Tidak!


Rena belum siap.


Rena yang tidak pernah berpelukan erat begini merasa mulai menegang.


"Mau aku bantu tidak?"


"Iya, tapi......"


"Bayangkan jika kamu cepat wisuda, indah bukan?"


"Iya, tapi....."


"Mau aku aku bantu atau tidak?"


"Mau."


"Kiss!"


"Apa?"


"Kiss"


"Jangan gila! Adnan, tangan mu! ini pelecehan!"


"Ahahahha!"

__ADS_1


__ADS_2