
"Selamat ya bestie," Reyna mengunjungi Rima yang barusan melahirkan dua orang putra.
Keduanya berada dalam rumah sakit yang sama, tanpa ada yang menduga keduanya bisa melahirkan di hari yang sama ini.
"Makasih, mana si ganteng Raka?" Tanya Rima dengan antusias.
"Sama Oma nya di kamar. Aku nggak nyangka kita bisa barengan lahiran nya," ujar Reyna tersenyum bahagia, walaupun duduk di atas kursi roda tidak lantas membuatnya menjadi murung.
"Iya bener, sih. Kayaknya kita buatnya juga waktunya barengan," kata Rima dengan suara yang sangat pelan agar hanya keduanya yang mendengar.
Reyna tersenyum dan mengangguk, ikut membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya.
"Hay," Nayla pun kembali muncul, dirinya bolak-balik luar kota hanya untuk melihat keadaan Rima.
Sesampainya Ana di rumah, Nayla pun kembali berangkat menuju Bali. Melihat keadaan Rima yang sudah melahirkan dua orang putra beberapa saat yang lalu.
"Nayla," seru Rima sambil merentangkan tangannya.
"Rima!" Nayla pun berjalan cepat dan memeluk Rima penuh bahagia.
"Aku?" Reyna menunjukkan wajah murung nya, sebab dirinya merasa diacuhkan.
"Kamu juga, kan tadi kamu udah ayang," ujar Nayla kemudian memeluk Reyna dengan cepat, agar sahabat nya itu tidak merasa diacuhkan.
"Aku juga sayang kamu ayang," kata Reyna dengan penuh kebahagiaan.
Ketiganya terus saja berbincang dengan asik nya, menceritakan tentang proses suka dukanya saat akan melahirkan. Sampai akhirnya mereka teringat akan Jessica.
"Kita video call Jessica yuk," kata Reyna memberi usulan.
"Boleh tuh," Nayla pun menyetujui, sedangkan Rima mengikut saja.
Reyna pun mengambil ponselnya dan menghubungi Alex, setelah panggilan terhubung tampaklah wajah Alex.
"Aku bukan mau melihat wajah mu yang jelek itu, aku mau bicara sama Kakak ipar. Di mana dia?" Tanya Reyna dengan ketus.
Alex pun segera memberikan ponselnya pada Jessica, hingga tampaklah wajah Jessica pada layar ponselnya Reyna.
"Hay," Reyna melambaikan tangannya seakan juga merindukan Kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Halo," Nayla pun ikut melambaikan tangan.
"Apa kabar?" Tanya Rima saat Reyna mengarahkan ponsel padanya.
Jessica tersenyum melihat perkumpulan yang lainnya, hanya dirinya yang berada di rumah sakit yang berbeda.
"Kalian ke Bali cuma untuk lahiran ya?" Celetuk Jessica.
"Iya, kayaknya anak aku pengen ke luar kota. Walaupun masih di dalam perut," kata Reyna di selingi tawa kecil.
"Kalau anak ku kesel pengen nonjok Reyna yang suka romatis-romantisan, sekarang juga mereka pengen cepat gede. Buat nonjok Reyna dan Nanda," seloroh Rima, mengingat rasa mulesnya terasa saat melihat kemesraan Nanda dan Reyna.
"Dasar!" Reyna kesal pada Rima dan melayangkan tatapan tajam.
"Abi, Umi terdzolimi!" Rengek Reyna pada Nanda.
"Heh, pengen di tonjok!" Rima mengepalkan tangannya dan mengarahkan pada Reyna.
"Ahahahha," Nayla melepaskan tawanya seketika itu juga, melihat Reyna yang memang begitu parah tingkat keromantisan nya mungkin saja baby Raka akan segera memiliki adik.
Jessica pun ikut tersenyum geli melihat kelucuan yang lainnya, walaupun hanya melihat lewat layar ponsel saja.
"Nano-nano Jes, tapi aku takut anak aku ileran," Rima pun menunjukkan wajah murungnya.
"Loh, kenapa begitu?" Jessica pun tampak memasang wajah serius.
"Soalnya tadi pas mau lahiran aku minta jatah ranjang, tapi nggak dikasih sama Mas," jelas Rima dengan bodohnya.
Semuanya seketika hening, beberapa detik kemudian melirik Aditya yang ternyata sedang mengusap wajahnya. Terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya barusan.
"Kenapa nggak di kasih?" Tanya Jessica sambil menahan tawa.
"Nggak tahu, padahal kan permintaan bumil harus di turuti ya?" Tanya Rima masih dengan mode bodohnya.
"Emang kamu mintanya dimana?" Kali ini Reyna yang bertanya karena terlalu penasaran.
"Di sini lah," jawab Rima lagi.
"Dulu juga pas malam pertama kalinya dia maksa aku, aku pingsan. Setelah sadar bukan di suruh istirahat eh, malah di gempur," ujar Rima.
__ADS_1
"Ahahahha," semuanya ikut tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Rima, sungguh Rima terlalu polos.
"Aku salah ya?" Rima pun bingung sambil menggaruk kepalanya.
Aditya pun menarik napas berat saat Nanda dan Devan menertawakan dirinya.
"Ingat, kita bertiga seperjuangan. Tertawalah sebelum dilarang, tapi kita harus berpuasa selama satu bulan lebih!" Kata Aditya yang membuat tawa Nanda dan Devan terhenti seketika.
"Abang nggak usah takut, ada tangan Adek seperti biasanya," ujar Reyna.
"Re...YYY...NAAA....." Teriak Nayla dan Rima dengan bersamaan.
Devan, Nanda, Aditya, Reyna pun menutup menutup telinga mereka karena suara Nayla dan Rima yang melenting.
Bahkan Jessica pun menjauhkan ponselnya karena suara nyaring tersebut.
"Hehe," sesaat kemudian Reyna pun menunjukkan gigi rapinya, karena bahagia bisa melihat Nayla dan Rima kesal saat ini.
"Kamu itu kalau ngomong suka sekali tanpa filter?" omel Nayla.
"Emang aku ngomong apa? Pakai tangan! Salahnya apa? Pakai tangan nyuapin Abi aku makan kalau sudah waktunya berbuka puasa, lah emang kalian mikir apa yang pakai tangan?" Kini Reyna membalikkan pertanyaan, ingin menyudutkan kedua sahabatnya itu.
"Tau ah!" Nayla memilih tidak melanjutkan cerita mereka, dari pada harus emosi terus-menerus karena Reyna.
"Dasar nggak jelas!" Rima pun ikut kesal pada Reyna.
"Hehehe," Reyna cengengesan sambil tersenyum pada Nanda.
"Abi, peluk kangen!"
"Lebih baik kalian berdua pergi dari sini!" Rima menunjukan arah pintu.
"Siapa yang mau lama-lama di sini, kami juga mau romatis-romantisan ya kan Abi?"
"Ya, Umi. Love you," kata Nanda.
"Love you too."
Rima pun melempar bantal, ke lantai kesal pada Reyna dan Nanda.
__ADS_1
"Ahahahha," Reyna dan Nanda pun segera kembali menuju kamar.