Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Teror!


__ADS_3

Rena menghela napas panjang, ternyata masalah yang dia buat masih berlarut-larut sampai saat ini pun.


Bahkan Nanda marah besar saat mengetahui bahwa dirinya mabuk-mabukkan bersama dengan Vanya saat malam itu.


Hari ini Rena mendapatkan amukan kemarahan dari kedua orang tuanya, belum lagi teror yang beberapa hari ini terus saja menghantuinya.


Rena benar-benar tidak mengerti, tentang asal usul teror tersebut.


Malam-malamnya terasa tidak nyaman bahkan untuk beristirahat saja begitu sulit.


Rena ingin memberitahukan kepada kedua orang tuanya, sayangnya baik Nanda maupun Reyna tidak mau mendengarnya berbicara. Sebab, terlalu kecewa padanya.


Malam ini Rena di rumah, kedua orang tuanya pergi ke luar kota. Menghadiri beberapa acara di sana, untuk beberapa hari ke depan. Rena tidak bisa ikut, sebab dirinya sedang masa hukuman. Sehingga di rumah hanya bersama beberapa Art dan satpam yang tinggal di rumah.


Ting!


Ponsel Rena pun berbunyi, kemudian melihatnya. Lagi-lagi pesan teror masuk membuatnya menjadi ketakutan.


( Kau tidak akan selamat )


Begitulah isi pesan nya dan itu bukan yang pertama kalinya.


Sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu, Rena berjalan menuju pintu dan membukanya. Tidak ada siapa-siapa, sampai akhirnya menutup kembali. Tetapi ketukan pintu kembali terdengar, membuat Rena merasa horor.


Tetapi dirinya tetap yakin, jika itu adalah ART. Namun tidak, nyatanya pintu terbuka dan tidak ada siapapun.


Tetapi mata Rena menatap sebuah kotak di depan pintu, membuatnya penasaran dan segera mengambilnya. Membuang rasa takut Rena pun membuka, namun tiba-tiba kotak tersebut terjatuh dari tangan nya.


Rena melihat bangkai ayam yang berlumur darah dengan pisau yang mungkin di gunakan untuk menghabisi ayam tersebut.


Kemudian Rena melihat ada sebuah kertas yang terbuang asal, perlahan Rena pun mengambilnya dan membacanya dengan penuh ketegangan.


"Kau akan bernasib seperti dia," Rena melempar kertas di tangannya, kemudian menatap sekitarnya. Sesaat kemudian listrik pun padam, semua gelap seketika itu juga.


Rena mencoba meraba, mencari ponselnya untuk menyalakan senter. Sesaat kemudian ponsel pun berhasil di dapatkan, kemudian dirinya merasa lebih baik. Namun, tiba-tiba saja Rena melihat sesuatu yang mengerikan.


"Aaa!" Teriak Rena dengan suara keras, kemudian berlari sekencang mungkin.


Buk!


Rena pun menabrak sesuatu, dirinya semakin ketakutan.


"Neng Rena, kenapa?" Tanya Eni saat Rena menabraknya.


Rena pun bernapas lega, tangannya memegang dada merasa lebih baik setelah menyadari siapa orang yang di tabraknya.


"Eni, serius ini kamu?" Rena pun mencoba memegang pundak Art tersebut.

__ADS_1


"Iya, saya," Eni terlihat bingung dengan membawa lilin di tangannya.


Sesaat kemudian lampu pun menyala.


"Huuuufff!" Rena benar-benar merasa lega dan lebih baik.


"Eni, ikut aku," Reni pun menarik Eni menuju kamarnya. Ingin menunjukkan sesuatu yang mengerikan yang barusan di alaminya.


"Lihat itu," Rena menunjukan tempat di mana dirinya melempar kotak mengerikan berlumur darah.


Eni pun melihat arah yang di tunjuk oleh Rena, tetapi malah kebingungan karena tidak melihat apa-apa.


"Apa Neng?" Tanya Eni.


"Kamu buta atau apa sih!" Rena pun melihat Eni yang kebingungan, kemudian dia pun mencoba melihat arah yang di tunjukkannya.


Tidak ada apa-apa, bahkan semua tampak baik-baik saja.


Rena pun mencoba melangkah masuk, melihat tidak ada tanda-tanda sama sekali. Semua tampak mulus.


"Neng sedang sakit?"


Rena pun memegang dahinya, kemudian menggeleng.


"Saya tidur dulu ya, Neng. Saya sudah mengantuk," kemudian Eni pun pergi setelah Rena mengangguk.


Perlahan Rena duduk di sisi ranjang, kemudian menatap sekitarnya.


Akhirnya setelah larut malam dan kelelahan Rena pun tertidur pulas..


##########


"Neng," Eni membangunkan Rena, namun malah Rena terkejut hingga ingin memukul Eni.


Beruntung Eni segera bersuara, hingga tidak sampai terkena pukulan kayu yang memang sudah di pegang Rena. Untuk melindungi dirinya dari peneror.


"Ini Eni, Neng."


"Nani, maaf," Rena pun meletakan kayu di tangannya, kayu tersebut memang sudah di sediakan untuk memukul seseorang misterius yang terus saja mengganggu dirinya.


"Sebetulnya Neng kenapa, aku perhatikan sepertinya gelisah sekali.".


"Aku tidak mengerti, tapi akhir-akhir ini ada yang meneror ku. Mengikuti kemanapun aku pergi," Rena menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangan nya membuatnya semakin merasa tertekan.


"Ya ampun, mungkin itu perasaan Neng Rena saja. Karena, pusing memikirkan skripsi," ujar Eni.


"Semoga saja," Rena pun mengangguk. Kemudian segera bersiap-siap, setelah itu langsung berangkat menuju kampus.

__ADS_1


Tidak di sangka Adnan sudah menunggunya di depan gerbang, entah sudah berapa lama.


"Kamu di sini?" Tanya Rena dari jendela mobil yang setengah di buka oleh Kenan.


"Masuk yuk."


Rena pun mengangguk, kemudian keduanya berangkat ke kampus bersama-sama.


Sepanjang perjalanan menuju kampus Rena hanya diam tanpa bicara, dirinya sebenarnya ingin bercerita pada Adnan. Tetapi, merasa malu.


Namun, tampaknya Adnan dapat melihat raut wajah Rena sedang menyimpan masalah.


"Kamu kenapa?" Adnan pun mencoba untuk bertanya, mungkin saja Rena sedang gusar memikirkan skripsinya. Pikir Adnan. Lagi pula Adnan akan membantu dengan senang hati.


Rena sejenak menimbang, apakah bercerita pada Adnan tentang masalah nya ataupun hanya diam saja.


Melihat wajah Rena yang bingung Adnan pun menepikan mobil nya, menatap wajah Rena dengan serius.


"Ada apa?" Tanya Adnan lagi.


Rena menggeleng sambil menahan air mata. Tidak ingin merepotkan bahkan membuat orang lain terjebak dalam keanehan yang terjadi akhir-akhir ini dalam hidupnya.


"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, jangan sungkan untuk bercerita tentang apapun itu," kembali lagi Adnan meyakinkan bahwa dirinya akan siap membantu segala keadaan Rena.


Rena pun menangis kencang, setelah menahan akhirnya kini lepas juga. Membuat Adnan memeluk Rena, berusaha untuk membuat perasaan wanita itu sedikit lebih baik. Rena pun memeluk Adnan dengan eratnya, membuat tangisan Rena semakin keras.


Hingga akhirnya Rena pun mencoba untuk berhenti menangis dan menjauhi Adnan.


"Kamu cerita ke aku," Adnan terus berusaha membuat Rena berbicara padanya, sebab sampai di sini Rena semakin membuat nya penasaran.


Ting!


Ponsel Rena berdering.


Rena pun membuka pesan dan cepat-cepat melempar ponsel nya kesembarang arah.


Hingga Adnan penasaran dan mengambil nya, melihat seekor kucing yang mati dengan pisau yang berlumuran darah.


Adnan pun kini menyimpulkan bahwa sesuatu tersebut adalah bagian dari ketakutan Rena.


"Aku takut Adnan, akhir-akhir ini aku terus di teror. Abi dan Umi juga nggak mau berbicara dengan aku, mereka kecewa waktu aku mabuk di malam itu," jelas Rena dengan air mata yang terus saja mengalir.


Adnan tahu seperti apa takutnya Rena, lagi pula teror itu memang cukup mengerikan.


"Kamu punya musuh?"


Rena pun mencoba untuk mengingat, tetapi merasa dirinya selama ini tidak pernah memiliki musuh.

__ADS_1


"Aku nggak pernah punya musuh, aku nggak pernah bermusuhan dengan siapa pun," jelas Rena.


Adnan pun kembali memeluk Rena berusaha untuk menenangkan.


__ADS_2