
"Om," Vanya pun melingkarkan tangannya pada tengkuk Riki menikmati sesuatu yang tengah menusuknya dengan penuh kebahagiaan.
Rasanya begitu indah dan nikmat tanpa ada yang bisa menandinginya.
Hingga mendadak ada yang aneh, saat merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
Lamunan gila Riki pun mendadak buyar karena seorang wanita sedang menggoda dirinya.
Saat ini Riki sedang berada di club malam seperti malam-malam sebelumnya, hanya saja bedanya Riki tidak ingin di temani wanita.
Dirinya hanya memikirkan Vanya seorang tanpa sama sekali ada yang bisa menggantikan.
"Menyingkir!" Riki pun memilih untuk pergi, tidak ingin di sentuh sama sekali kecuali wanita yang bernama Vanya.
Riki pun meninggalkan club malam kemudian menuju rumah Vanya.
Rumah sederhana yang di pikirannya benar-benar tempat Vanya di besarkan. Tidak ada yang aneh, semuanya tampak biasa saja.
Suasana begitu hening karena semua orang sedang beristirahat, kecuali tidak dengan dirinya.
Hingga akhirnya Riki pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
#########
"Pagi Tante," pagi ini Vanya merasa lebih baik daripada pagi kemarin.
Tidurnya malam ini begitu pulas, sehingga membuatnya benar-benar jauh lebih segar.
"Kamu sudah sembuh?" Sela terlihat begitu bahagia melihat kedatangan Vanya kembali ke rumahnya.
Karena baru satu hari saja Vanya tidak datang membuat rumahnya terasa sepi.
"Udah, Tante. Kemarin juga aku udah pergi sama Om Riki ke kantor," kata Vanya.
Uhuk... Uhuk...
Mendadak Riki terbatuk-batuk saat mendengar apa yang yang di katakan oleh Vanya barusan.
Menurut orang lain pasti tidak ada yang aneh, tetapi tidak dengan Riki. Karena dirinya berbohong pada Vanya tentang kemarin hari yang mengatakan bahwa Sela sedang ke luar kota.
Padahal pada kenyataannya Riki sedang memiliki banyak pekerjaan, tetapi tidak bisa fokus karena memikirkan Vanya terus-menerus.
Hingga akhirnya Riki pun membuat ide gila mengatakan bahwa Sela sedang pergi dan berhasil membawa Vanya menemaninya selama bekerja di kantor bahkan pekerjaannya juga terselesaikan dengan baik.
Sedangkan lain lagi saat bertemu dengan Sela, Riki mengatakan Vanya masih sakit dan butuh istirahat.
Sela tentunya sangat memaklumi, namun pada hari ini malah semuanya terungkap. Ternyata ada sedikit kecurangan yang di lakukan oleh Riki.
Lantas bagaimana dengan hari ini saat Sela tahu akan kebohongan tersebut, ini sungguh sangat memalukan.
Memalukan bagi seorang Riki, meskipun wajahnya terlihat tenang tapi tidak dengan hatinya.
__ADS_1
"Kemarin kamu ke kantor?" Sela bingung dan kembali bertanya, sebab dirinya belum bisa mengerti sama sekali.
"Iya, kata Om Riki. Tante pergi ke luar kota, bahkan Om Riki yang jemput aku ke rumah terus cuma nemenin kerja doang di kantor. Kata Om Riki juga aku harus tetap bekerja membayar yang waktu itu," jelas Vanya dengan polosnya. Bahkan tanpa mengetahui kini ada yang sedang tidak nyaman. Siapa lagi kalau bukan Riki yang mendadak menjadi salah tingkah, tepatnya seperti seorang maling yang takut ketahuan oleh warga. Meskipun Vanya tidak mengetahuinya sama sekali.
"Tante ke luar kota ya?" Sela pun mangguk-mangguk mengejek Riki.
Tampaknya Sela tahu ada yang salah dengan putranya tersebut ataupun ada yang berbeda.
"He'um," Vanya pun mengangguk, kemudian melihat banyak makanan di meja makan.
"Ayo sarapan dulu, kamu sepertinya belum sarapan," tawar Sela.
Vanya pun tersenyum, kemudian mengangguk. Sesaat setelah itu duduk tepat berada di samping Riki.
"Maaf ya Tante, soalnya aku nggak bisa nolak sarapan paginya. Hehe," Vanya pun cengengesan sambil tangannya mengambil makanan, menikmati sarapan pagi di kediaman keluarga Sela untuk yang pertama kalinya.
Sesaat kemudian Sela kembali melihat Riki yang tampak tidak nyaman.
"Jadi, kemarin Mama ke luar kota ya, Riki?" Tanya Sela bermaksud untuk mengejek putranya tersebut.
Riki mengusap wajahnya berharap Vanya tidak mengetahuinya.
"Iya. Tante. Kata Om Riki sama, Om." kata Vanya sambil terus mengunyah makanannya, sedangkan Om yang pergi bersama Sela yang di maksud Vanya adalah Andika.
"Begitu?" Sela pun tersenyum mengejek, kemudian melihat suaminya.
"Pa, kita kemarin ke luar kota kan?" Kali ini Sela bertanya pada suaminya.
Walaupun sebenarnya dirinya hanya sedang mengejek putranya saja.
Riki pun meneguk mineral agar sedikit membuat perasaannya lebih tenang.
"Om, hari ini aku nggak perlu nemenin Om lagi kan? Tante Sela udah balik soalnya dari luar kota," pinta Vanya.
Vanya sedang tidak ingin bersama dengan Riki terus menerus, lebih baik bersama dengan Sela.
"Tentu, dia kan tidak suka pada bocah," kata Sela lagi menyindir Riki.
Itulah kata yang di ucapkan oleh Riki saat Sela mencoba menjodohkan Riki dengan Vanya.
Namun apa?
Sekarang kenyataannya adalah Riki sendiri yang mulai tertarik pada seorang bocah ingusan yang di sebutnya sendiri.
Tertarik?
Benarkah demikian?
Jika tidak mengapa harus repot-repot untuk berbohong?
"Aku ke kantor dulu," Riki pun bangkit dari duduknya, ingin pergi sebelum lebih lama di permalukan oleh kedua orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Nggak sekalian tungguin Vanya dulu? Mana tahu mau di bawa lagi, ataupun mendadak Mama ke luar kota," Sela masih saja menyindir Riki meskipun anaknya tersebut sedang dalam keadaan berdiri dan ingin berlalu pergi.
Riki pun berusaha untuk tetap tenang, andai saja bocah ingusan itu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saat ini Riki akan di tertawai habis-habisan, sungguh ini sangatlah memalukan.
"Vanya, makannya cepat sedikit. Tante, mau ke luar kota juga hari ini. Jadi, kamu ikut lagi sama Om Riki ya," pinta Sela sambil melihat Riki walaupun bibirnya berbicara pada Vanya.
Vanya ingin sekali menolak tetapi tidak dirinya lebih memilih ikut dengan Riki yang akhirnya bisa mengurangi waktunya untuk terus berada dalam desakan dari Riki.
Vanya sudah bosan dan ingin segera bebas, apa lagi dirinya ingin sekali bertemu dengan Sandi.
"Siap Tante," jawab Vanya dengan bersemangat.
Riki langsung saja pergi, tidak perduli pada Sela yang terus saja menyindir halus dirinya.
"Sekarang kamu susul Om Riki, jangan lupa bilang sama Om Riki kalau Tante dan Om menginap di luar kota, jadi Om Riki tidak perlu berbohong lagi," pinta Sela.
"Iya Tante," dengan polosnya Vanya pun langsung menyusul Riki yang sudah menaiki mobilnya.
Sesaat kemudian Vanya juga ikut masuk ke dalam mobil.
"Om, kata Tante Sela. Dia menginap di luar kota, jadi Om tidak perlu lagi untuk berbohong," Vanya hanya menyampaikan apa yang di minta.
Meskipun tanpa tahu yang di sampaikannya justru begitu membuat Riki sulit untuk bernapas.
"Sekarang katakan pada Tante Sela mau cucu berapa. Setelah itu kembali ke sini!" Riki pun kesal dan memilih untuk membalas agar tidak kalah karena Sela.
"Aku harus turun lagi dong Om? Nggak ah, capek!" Tolak Vanya.
"Ini!" Riki pun memberikan uang pada Vanya, tentunya mata Vanya langsung membiru.
"Siap Om!" Dengan segera Vanya pun turun dan menemui Sela yang masih duduk di meja makan.
"Vanya, ada apa?" Sebelum Vanya berbicara malah Sela yang bertanya karena melihat Vanya kembali menemuinya.
Bukankah seharusnya sudah pergi bersama dengan Riki.
"Mau pergi Tante, cuma kata Om Riki. Tante mau punya cucu berapa?" Akhirnya Vanya hanya menyampaikan kata itu saja tapi sudah mendapatkan uang.
Uang yang mungkin tidak terlalu banyak baginya, karena Vanya sudah terbiasa dengan uang banyak.
Tetapi cukup berarti untuknya sekarang membeli beberapa barang miliknya yang sudah mulai minta di ganti.
Uhuk... Uhuk...
Sela tersedak saat mendengar apa yang di sampaikan oleh Vanya hingga akhirnya Vanya pun memberikan mineral.
Sesaat kemudian Sela mengambil ponselnya dan menghubungi Riki.
Riki tersenyum melihat ponselnya yang berdering, tertulis nama Mama tercinta dengan emoticon love.
Riki tahu jika Sela sedang kesal padanya setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh Vanya barusan pastinya.
__ADS_1
Saat itu bertepatan dengan Vanya yang kembali masuk ke dalam mobil.
Riki terdiam menatap wajah Vanya penuh kekaguman, tidak di pungkiri bahwa mainan barunya tersebut cukup membuatnya menjadi lebih baik.