
Vanya masih berdiri di tempatnya menantikan perintah dari Sela maupun Riki akan pekerjaan yang harus di kerjakan.
Satu bulan ke depan.
Tidak masalah, asalkan masalah terselesaikan dengan baik tanpa membuat nya kehilangan keperawanan.
Lagi-lagi itulah alasan tepatnya, bayangkan juga jika dirinya harus masuk ke dalam penjara?
Sudah pasti Devan akan tahu dan pasti akan sangat kecewa atas perbuatannya yang selalu hanya bisa menyusahkan keluarga.
Tidak.
Vanya sudah membulatkan tekadnya untuk menjadi anak baik hingga Devan sendiri yang mengakui nya dengan penuh kebanggaan tanpa di minta oleh Vanya seperti selama ini.
"Vanya, temani Tante masak yuk" Sela begitu senang bisa memiliki teman. Hingga dirinya begitu antusias mengajak Vanya untuk masak bersama dengan nya. Vanya pun mengangguk dan membantu mendorong kursi roda Sela.
Sela yang masih menjalani kemoterapi pasca operasi kanker payudara kini harus menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan.
Tubuh nya yang mudah lelah cukup membuat nya kesulitan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, sehingga dirinya memang membutuhkan seseorang. Apalagi Vanya tampak ceria yang membuat nya lebih merasa memiliki teman bercerita sesama perempuan.
"Dapurnya dimana, Tante?"
"Disana"
Vanya pun mendorong kursi roda hingga akhirnya sampai di dapur.
"Kamu bisa masak tidak?"
__ADS_1
"Masak?" Vanya pun menggaruk kepalanya, jangankan masak nasi masak air saja dirinya tidak bisa.
Kebiasaan serba ada membuatnya menjadi malas untuk melakukan pekerjaan seorang wanita.
Tapi apakah mungkin dirinya mengatakan tidak bisa melakukan apapun?
Bagaimana jika Riki malah merasa tertipu, tidak. Vanya harus bisa.
"Iya, Tante" Vanya mendesus sambil berdoa semoga saja tidak diperintahkan memasak.
Hingga akhirnya Riki pun muncul.
"Buatkan kopi" perintah Riki dengan suara beratnya.
"Kopi?" Vanya malah kembali bertanya karena tidak tahu bagaimana caranya membuat kopi.
'Ayah' Vanya pun menjerit di dalam batinnya.
'Tapi tidak. Aku tidak bisa terus saja membuat masalah, kali ini harus bisa menyelesaikan masalah ku sendiri tanpa terkecuali' Vanya pun kembali membatin.
Membuat Riki bingung melihat makhluk aneh yang ada di hadapannya tersebut, karena tampak seperti tidak waras.
"Apa kamu gila?" tanya Riki penuh intimidasi.
"Tidak, Om"
"Jangan bilang kamu tidak tahu cara membuat kopi" tebak Riki.
__ADS_1
"Nggak kok, Om. Di rumah aku paling jago buat kopi, kata Ibu juga aku ahlinya, Om" kata Vanya dengan penuh percaya diri.
Rasanya Riki kurang yakin. Karena terlihat wanita di hadapannya bukan terlahir dari keluarga biasa.
Lihat saja pakaian bermerek di tubuhnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
"Kamu masih kuliah?"
"Masih, Om"
"Dimana kamu tinggal?"
"Di dalam rumah, Om"
Glek!!!
Riki malah di buat bingung dengan jawaban Vanya.
"Saya tahu, macan juga tinggal di dalam rumah, yang saya tanyakan dimana alamat rumah mu?" dengan kesal Riki pun menjelaskan maksud dari pertanyaan nya.
"Salah, Om. Macan tinggal di tengah hutan mereka tidak memiliki rumah kalaupun ada itu macan yang sudah di tangkap, itupun hanya kandang" jelas Vanya dengan polosnya.
Menurutnya itu adalah jawaban yang tepat, dirinya yang memang memiliki cita-cita menjadi guru di sekolah taman kanak-kanak, tentunya harus bisa menjawab sesuatu yang baik dan benar.
"Ampun," itulah yang dikatakan oleh Riki, kedua tangannya terkepal menahan emosi.
"Cepat buatkan kopi" Titah Riki yang tidak ingin banyak bertanya pada Vanya.
__ADS_1