Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Andai saja tahu dari awal!


__ADS_3

"Mommy," Cahaya bersorak gembira melihat kepulangan kedua tangannya.


Beberapa hari tidak bertemu tentu membuat kerinduan yang begitu mendalam.


Jessica pun memeluk putrinya dengan erat, menciumi pipi, hidung, kening dan bibir putrinya dengan penuh kerinduan.


"Aya kangen."


"Mommy, juga kangen banget."


Kemudian Cahaya beralih memeluk Alex.


"Daddy nggak kangen Aya?" Alex pun tersenyum melihat putrinya, kemudian mengangkat Cahaya.


"Kangen sekali," kata Alex dan menciumi wajah putrinya.


"Bagaimana?" Tanya Puput yang juga menyambut kepulangan Jessica dan Alex pagi ini.


Jessica hanya bisa menunduk dengan wajah pucatnya. Tidak ada yang perlu dijelaskan oleh bibirnya, semua masih saja sama. Dirinya sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi kedepannya.


Puput pun mengerti dengan perasaan Jessica, mengusap punggung Jessica dengan penuh kasih sayang mungkin bisa meringankan sedikit beban menantunya tersebut.


"Daddy, ke kamar dulu ya. Daddy mau istirahat," pamit Alex setelah menurunkan Cahaya dari gendongannya.


"Iya, Daddy capek ya? Tapi abis istirahat, kita main ya Dad?"


"Iya, sayang," Alex mengusap wajah Cahaya dengan lembutnya. Kemudian segera menuju kamar.


Jessica pun menatap dengan nanar, sudah berulangkali Alex memintanya untuk mengangkat janin tersebut. Sebab Dokter di luar negeri pun mengatakan tidak ada jalan lain, selain mengangkat janin serta rahim Jessica sekaligus.


Jessica setuju untuk mengangkat rahimnya, tapi setelah anak nya dilahirkan.

__ADS_1


Sebab, Jessica tidak mau membunuh anaknya demi mementingkan keselamatan dirinya. Jessica tidak mau mengorbankan hidup calon anaknya lalu, dirinya bisa melanjutkan hidup.


"Ma, aku istirahat dulu."


Puput pun mengangguk.


Setelah itu barulah Jessica segera menuju kamar menyusul Alex yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar.


Perlahan membuka pintu, kemudian menutupinya kembali.


Jessica sejenak terdiam menatap Alex yang berdiri didepan jendela kaca, sambil menatap keluar sana. Memunggungi Jessica yang masih berdiri di depan daun pintu yang tertutup rapat.


"Alex."


"Angkat janin itu Jessica!" Jessica menggeleng tidak menginginkan sama sekali.


Alex pun berjalan menuju Jessica, memegang kedua lengan bagian atas istrinya. Menatap manik mata nanar Jessica yang akan segera menitihkan air mata. Menggeleng dengan lemah, menolak untuk melakukan nya.


Alex pun keluar dari kamar, menutup pintu kembali dengan membantingnya.


"Mommy kenapa?" Tanya Cahaya.


Jessica pun mendadak mematung, setelah mendengar suara Cahaya.


Mengusap wajah kemudian melihat putrinya dari pantulan cermin di hadapannya, ternyata Cahaya berdiri di sampingnya


"Aya udah lama masuk?" Jessica pun bergeser dan melihat putrinya dengan jelas.


Kenapa bisa dirinya tidak menyadari putrinya sudah berada di sampingnya.


Kenapa bisa putrinya melihatnya saat sedang menangis.

__ADS_1


"Udah dari tadi, Mom kenapa?" Tanya Cahaya bingung.


"Dari tadi?" Jessica semakin merasa bodoh, sungguh tidak menyadari kedatangan Cahaya.


"Mom nggak suka Aya ke sini? Aya kan masih kangen Mom."


Jessica pun tersenyum dan memeluk Cahaya dengan eratnya, memang mereka sudah tidak bersama beberapa hari ini. Jessica juga sadar jika akhir-akhir ini perhatiannya sangat berkurang, padahal Cahaya masih sangat membutuhkan dirinya.


"Aya, nggak boleh ngomong gitu. Mom juga kangen sama Aya, mau tidur sama Mom tidak? Mom peluk deh, walaupun cuma tidur siang."


Cahaya pun mengangguk setuju, tentunya tidak akan menolak sama sekali.


Jessica dan Cahaya pun naik ke atas ranjang, berbaring di sana saling berpelukan.


Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus, menandakan jika Cahaya sudah terlelap. Jessica pun perlahan turun dari ranjang, mencari keberadaan Alex. Sampai akhirnya menemukan, ternyata Alex sedang berada di kolam ikan. Duduk diam sambil menabur makan ikan-ikan.


Jessica pun memeluk Alex dari samping, menyadarkan ternyata ada Jessica disampingnya.


"Kamu masih marah sama aku?"


"Aku nggak pernah marah sama kamu, aku cuma tidak suka pada sikap keras kepala mu itu!"


Jessica terdiam dan membenarkan apa yang dikatakan Alex, tetapi perasaannya saat ini tidak akan pernah dirasakan oleh Alex.


Sebab seorang Ibu pasti akan berjuang keras demi anaknya, namun Jessica pun mengerti tentang Alex yang takut kehilangannya.


"Aku nggak akan kenapa-kenapa, kamu harus yakin."


Alex beralih menatap Jessica, entah bagaimana caranya agar Jessica mau menurut dengan apa yang sudah dikatakan oleh Dokter yang menanganinya.


Andai saja Alex tau dari awal, tidak akan menukar pil KB saat itu dengan pil penyubur kandungan. Alex sangat menyesali perbuatannya, namun kini semua tidak akan bisa dirubah kembali.

__ADS_1


"Alex, kita lihat bayi Nayla yuk. Katanya dia sudah dibawa pulang." Jessica pun mencari topik pembahasan lain agar Alex tidak terus memikirkan resiko kehamilannya.


"Ya" Alex mengangguk setuju.


__ADS_2