Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Figuran..


__ADS_3

Felix pun menjelma menjadi tukang sayur dadakan.


Demi apa?


Demi cincin nikah.


Perduli setan dengan gengsi, panas-panasan tak menggentarkan semangat yang telah menyala.


"Sayur!" Teriak Diman.


"Bos yang teriak!"


"Sayur!" Teriak Felix namun suaranya begitu pelan.


"Lebih kencang Bos!" Kata Diman.


"Ck," Felix pun berdecak kesal, sesaat kemudian ada mobil yang berhenti di dekatnya.


Cahaya pun turun dan menghampiri Felix. Semangat Felix semakin berkibar dengan semangat yang tiada duanya.


"Beli sayurnya, Aa," goda Cahaya.


"Berapa Neng?" Tanya Felix ikut dalam godaan Cahaya.


"Kangkung dua ikat," lanjut Cahaya.


"Ini Neng, lima ribu aja."


"Yakin lima ribu? Nggak di bayar tunai aja?" Celetuk Cahaya di iringi tawa yang menggoda Felix.


"Kau sekarang semakin pintar ya!" Felix pun mengetuk kepala Cahaya, merasa gemas dengan tingkah laku wanita kesayangannya tersebut.


Itulah cara Felix meluapkannya, sebab kali ini dirinya ingin menuruti keinginan Cahaya. Tidak menyentuh sebelum menikah, syarat menikah adalah mencari uang dengan keringat sendiri dan menjadi orang biasa.


"Ya ampun, kapan sayur saya laku kalau begini! Neng kalau nggak beli mending minggir!" Wanita pemilik gerobak sayur pun merasa kesal, awalnya berpikir Cahaya akan membeli ternyata hanya menggoda Felix.


"Maaf Bu," Cahaya tersenyum melihat wajah Felix yang berubah masam.


"Aku temenin?" tawar Cahaya.


"Serius?" Felix tersenyum sambil mengangguk setuju.


"Woy, ngobrol aja!"


"Maaf, Bu. Ibu duduk santai di mobil saya, biar kami yang berjualan," kata Cahaya.


"Wah, serius Neng?"


"Iya."


Tentu saja wanita itu setuju dengan tawaran Cahaya, kapan lagi pikirnya bisa merasakan mobil mewah.


"Yuk!"


"Belum nikah."


Cahaya pun memasang tatapan tajam, karena otak Felix yang menyeleweng.


"Bercanda, ayo lah. Demi kau dan calon si buah hati," Felix pun mendorong gerobak sayur.


Cahaya berteriak agar dagangan keduanya laku, sampai akhirnya ada yang memanggil mereka.


"Kang, sayur Kang!"


Felix pun tersenyum pada Cahaya, begitu pun. sebaliknya.


Dengan semangat keduanya berhenti, karena harus meladeni pembeli.


"Wah, Kang sayurnya tampan sekali," seru wanita gemuk tersebut, jangan lupakan kaca mata tebalnya.


Seketika itu menarik kedua pipi Felix dengan gemas. Felix pun berusaha untuk menahan kesal, lagi-lagi demi cincin nikah.


"Mmmmfffffpp," Cahaya hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah kekasihnya tersebut.

__ADS_1


"Kamu masih jomblo ya, atau mau sama aku aja," Wanita itu tampak tersenyum centil pada Felix, seakan menunjukkan body nya yang begitu seksi.


"Kalau kamu sama aku nanti aku belikan mobil, dan kamu nggak usah kerja panas-panasan lagi."


"Promosi Bos, beli satu dapat hadiah. Hebat wanita ini," seloroh Diman.


Cahaya tak kuasa menahan tawa, sedangkan Felix menunjukkan wajah masamnya.


"Nggak sekalian berhadiah kulkas dan mesin cuci Bu?" Tanya Cahaya.


"Cahaya!" Felix menatap Cahaya dengan kesal.


"Hehehe, bercanda," kata Cahaya tersenyum manis sambil mengkedipkan sebelah matanya.


Sial!


Sejak kapan Cahaya menjadi nakal begini, membuat Felix panas dingin seketika.


"Maaf, Bu. Saya sudah ada yang punya." Kata Felix dengan bangganya.


Wanita tersebut mendadak cemberut, merasa kesal pada Felix.


"Saya nggak jadi beli!"


Felix, Cahaya dan Diman melongo melihat wanita tersebut yang sudah pergi. Benar-benar tanpa membeli apapun.


"Hahahaha," Cahaya dan Diman tertawa terbahak-bahak melihat wajah Felix yang masam.


"Nggak beli akhirnya, dari tadi banyak bicara!" Umpat Felix.


Felix pun kembali mendorong gerobak, sedangkan Diman berjalan di belakang Felix dan Cahaya yang berteriak agar pembeli datang.


"Sayur!" Teriak Cahaya dengan kencangnya.


"Neng, beli sayur nya," kata seorang pria bertubuh besar dengan tato yang terlihat di beberapa bagian tubuhnya.


"Beli sayur apa Pak," Tanya Cahaya dengan bahagia.


"Iya Pak," Cahaya pun tersenyum ramah.


"Pagi tadi anak saya demam dan mengantarkan ke rumah sakit."


Cahaya pun mengangguk, banyaknya orang tua pasien yang di temuinya membuat Cahaya lupa akan wajah-wajah mereka. Namun, Cahaya akan sangat ramah jika ada yang menyapanya terlebih dahulu.


"Kenapa jualan sayur?" Tanya pria itu lagi, tampak penasaran pada Cahaya.


"Woy, mau beli nggak!" Felix tampak kesal, sebab tampaknya berbicara dengan Cahaya lebih menarik dari pada membeli sayur.


Sedangkan Felix pun tak suka ada laki-laki lain yang mencoba mendekati kekasihnya tersebut.


"Saya pembeli, jangan kurang ajar!" Pria tersebut tampak geram pada Felix.


Felix pun ingin menghajar pria tersebut, tetapi Diman menahannya.


"Bos, sabar. Demi Cincin nikah," kata Diman di telinga Felix.


Seketika itu emosi Felix pun mereda.


"Dia pacar Dokter?"


"Iya, dia calon suami saya," kata Cahaya menunjuk Felix.


"Tinggalkan saja, mending jadi istri ketiga saya. Masa Dokter cantik begini sama tukang sayur!" Pria tersebut tampak merendahkan Felix, merasa dirinya adalah lelaki paling tampan di dunia ini.


Emosi yang teredam seketika membuncah kembali, Felix pun mengambil sayuran di gerobak dan melempari pada pria tersebut.


"Felix, sudah!" Cahaya pun panik, karena sayur jualan mereka hampir saja habis untuk senjata melempari si pria calon pembeli itu.


"Dasar orang miskin kurang ajar, miskin, belagu juga!" Pria itu pun tak diam saja seketika mengambil buah tomat dan hendak melemparkan pada Felix.


Namun siapa sangka justru yang terkena malah orang lain.


Pria itu pun melarikan diri. Sedangkan Felix yang memegang tomat pun tertuduh.

__ADS_1


"Woy!" Teriak wanita tersebut.


Felix pun tersenyum pada Diman.


"Lari!" Teriak Felix dan Diman bersamaan.


Felix memegang tangan Cahaya, sedangkan sebelahnya lagi tanpa sadar memegang tangan Diman.


Hingga tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aaaaaaa!" Teriak ketiganya.


Citt!


Mobil pun berhenti mendadak.


Pemiliknya pun turun, kesal pada tiga orang yang tiba-tiba muncul di tengah jalan.


"Woy!"


Felix merasa lega, ternyata yang hampir menabrak mereka adalah Riki.


"Bos, saya masih normal!" Diman meminta Felix melepaskan tangannya.


Seketika mata Riki melihat tangan Felix yang memegang tangan Diman.


"Kurang ajar! Pantas saja aku merasa ada yang aneh!" Felix pun menghempaskan tangan Diman dengan kasar. Meluapkan kekesalannya.


Sesaat kemudian ketiganya tersadar, hingga akhirnya bersembunyi dengan secepat mungkin.


"Riki," Felix pun masuk ke dalam mobil Riki, begitu juga dengan Cahaya dan Diman.


"Ada apa ini?" Riki bingung melihat tiga orang yang mendadak menjadi aneh yang malah masuk ke dalam mobilnya.


Tak lama berselang seorang wanita dengan sirih di mulutnya pun menghampiri Riki.


"Mas, lihat tiga orang berlari ke sini?" Tanya orang itu.


Riki bingung harus menjawab apa, seketika mengintip ke dalam mobil dan melihat Felix menggelengkan kepalanya.


"Mereka lari ke sana!" Riki pun menunjuk asal.


"Terima kasih!"


Akhirnya wanita tersebut pun menghilang, mengejar tiga orang yang di anggapnya sudah melemparkan tomat pada wajahnya.


"Riki!" Felix menepuk pundak Riki.


"Kurang ajar!" Riki tersentak karena Felix menepuk pundaknya tiba-tiba.


"Maaf," Felix merasa tak enak hati, tetapi napasnya tampak tak beraturan karena terlalu lelah.


"Kalian kenapa?"


Felix dan Diman pun mendadak mengingat sesuatu.


"Gerobak!" Kata keduanya bersamaan.


Tersadar gerobak sayur tertinggal, dan apa yang hendak di jual karena sayur-sayuran sudah hancur tak mungkin bisa dijual lagi.


Felix pun merasa lemas, bukan uang yang di dapatnya melainkan kegilaan.


"Minum," Cahaya memberikan sebotol mineral.


Felix pun mengambilnya dan meneguknya.


Setelah itu Cahaya pun membersihkan keringat Felix dengan tangannya.


"Ehem! Diman, kita apa di sini?" Seloroh Riki.


"Figuran bos," kata Diman.


Cahaya dan Felix pun tersenyum, karena melihat Riki dan Diman kesal menyaksikan kemesraan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2