Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Semua pasti ada jalan keluarnya.


__ADS_3

Ninda pun mengedarkannya pandangnya, melihat kamar Vanya yang benar-benar berantakan.


Bahkan melebihi kapal pecah sekalipun, terserah saja. Menurut Ninda orang kaya bebas melakukan apa saja tanpa terkecuali sama sekali.


Namun, sesaat kemudian Vanya pun memeluknya erat. Menangis kencang di pelukan Ninda.


"Ninda, aku nggak tahu lagi harus gimana. Aku nggak mau pisah sama Om Riki," kata Vanya sambil terus menangis tanpa hentinya.


Jika malam tadi Ninda hanya mendengarkan curhatan Vanya melalui sambungan telepon, maka tidak dengan kali ini.


Sebab kali ini Vanya ada di depan matanya, memeluknya erat-erat dan bercerita dengan panjang lebar.


"Kenapa sih nasib percintaan aku harus begini? Aku nggak sanggup lagi Ninda. Apa orang tua aku nggak ngerti kalau aku mencintai Om Riki?"


"Vanya sebenarnya..."


"Ninda, kamu ngerti, kan perasaan aku sekarang? Aku sayang banget sama Om Riki, kenapa semuanya seakan menentang hubungan kami? Sampai kapan Ninda? Kapan kami bisa mendapatkan restu," Vanya terus saja bertanya tanpa hentinya, meskipun Ninda tidak akan memberikan solusi apapun, sebab Ninda tidak tahu harus bagaimana dan mengatakan apa.


Semua tidak ada kuasanya, sehingga selain mendengarkan saja Ninda tidak bisa berbuat apa-apa.


Saat ini dirinya hanya ingin melakukan apa yang diperintahkan oleh Riki.


Tapi bagaimana?


Sebab, mulut Vanya terus saja berbicara tanpa hentinya


"Vanya..."


"Ninda, kalau kamu jadi aku apa yang bakalan kamu lakuin?"


"Aku....." Belum juga Ninda mengutarakan sesuatu yang cukup penting pastinya pada Vanya, tetapi lagi-lagi Vanya memotong perkataanya.


Hingga akhirnya Ninda pun terdiam, mendengarkan apapun yang ingin dikatakan oleh Vanya pada dirinya.


Mungkin setelah Vanya selesai berbicara nanti dirinya bisa berbicara, jadi saat ini Ninda hanya mendengarkan saja.


"Aku nggak tahu kenapa, tapi aku nggak bisa lupain dia, aku sayang banget. Kamu tahu?"


"Nggak"


"Ya ampun makanya dengarkan aku!"

__ADS_1


"Iya," Ninda pun diam dan kembali mendengar apa yang hendak di katakan oleh Vanya.


Tisu sudah berserakan di lantai, itu semua untuk menghapus air mata dan juga ingus yang keluar dari lubang hidung Vanya tanpa hentinya.


"Ninda, kamu dengar aku nggak sih?" Vanya malah merasa kesal, berpikir saat ini Ninda sedang mengacuhkannya dirinya.


Padahal saat ini Ninda ingin memberikan waktu bagi Vanya berbicara, sampai akhirnya dirinya memiliki waktu untuk berbicara.


"Aku dengar."


"Kenapa diam?"


"Apa kamu udah selesai bicara?"


"Apaan sih? Kamu nggak mau ya, dengerin aku lagi sedih? Ayah mau mengirim ku ke luar Negeri kalau masih ada hubungan dengan Om Riki. Aku pusing Ninda! Aku nggak mau"


Terus saja Vanya menjerit keras, dirinya masih kesal dan tidak ingin lagi hubungannya dan Riki dihalangi, tapi bagaimana caranya?


Vanya sendiri tidak menemukan solusi untuk masalahnya ini.


"Aku harus gimana, Ninda?"


"Ini kiriman Om Riki," Ninda mengambil sebuah benda dari dalam tasnya, kemudian memberikan pada Vanya.


"Om Riki."


"Om Riki?" Pekik Vanya terkejut.


Ninda pun menutup mulut Vanya dengan secepat mungkin, karena dirinya tidak mau ada yang mendengar.


"Suara kamu, aku bisa dibunuh sama Tuan Devan dan Tuan Felix ataupun Tuan Adnan," kata Ninda dengan suara pelan.


Vanya pun mengerti kemudian mengecilkan volume suaranya.


"Ini apa?"


"Ponsel, katanya kangen sama kamu."


Vanya pun segera membukanya hingga matanya melihat ponsel dengan layar yang menampakkan gambar dirinya dan Riki.


Rasanya begitu indah sekali, meskipun masih belum bisa bahagia sepenuhnya.

__ADS_1


Paling tidak sampai disini Riki masih saja memperjuangkan cinta mereka.


Dengan segera Vanya pun menghubungi Riki, rasanya begitu rindu dan ingin mendengarkan suara sang pujaan hati dari sebrang sana.


"Halo," jawab Riki setelah menerima panggilan telepon tersebut.


Vanya tersenyum bahagia, baru mendengar suara Riki saja hatinya sudah sangat berbunga.


"Om, Mas, ini aku," kata Vanya begitu mendengar suara Riki.


Saat mendengar suara Vanya, Riki pun menepikan pekerjaannya sejenak.


Awalnya dirinya memang tidak melihat layar ponselnya, sebab memang suasana hati yang begitu rumit.


Namun, semuanya berubah setelah mendengarkan suara Vanya.


"Sayang, Mas kangen banget," jawab Riki dengan rasa bahagia.


"Hehe," Vanya hanya bisa tersenyum, rasanya hanya mendengarkan suara Riki saja sudah membuatnya cukup membaik.


"Kamu sabar ya, Mas akan memperjuangkan cinta kita," kata Riki meyakinkan Vanya.


"Mas, udah dulu ya. Takutnya tiba-tiba Ayah muncul," Vanya pun memutuskan sambungan telepon seluler.


Karena dirinya tidak ingin dikirim ke luar Negeri seperti apa yang dikatakan oleh Devan sebelumnya.


Lebih baik di sini sambil berusaha mendapatkan restu dari Devan untuk menikah dengan Riki, sementara jika dirinya di luar Negeri maka semuanya akan menjadi lebih sulit lagi.


Setelah itu Vanya langsung memeluk Ninda, merasa bahagia setelah Ninda memberikan ponsel tersebut.


"Makasih ya, kamu terbaik deh," tidak hentinya ucapan terima kasih keluar dari mulut Vanya.


Bahkan sampai membuat Ninda tercekik hingga sulit untuk bernapas.


"Vanya aku nggak bisa napas."


"Maaf, tapi aku makasih banget, kamu memang sahabat terbaik aku."


"Jangan sedih lagi ya, semua pasti ada jalan keluarnya."


"Nggak tahu lah Nin, aku tahu gimana kerasnya Ayah dan juga Kak Felix, sulit sekali untuk bisa mendapatkan apa yang aku inginkan untuk kali ini"

__ADS_1


Vanya benar-benar merasa tidak ada jalan keluarnya, semuanya seakan buntu tanpa ada sebuah jalan yang bisa membawanya bersatu dengan Riki.


__ADS_2