Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Cenat-cenut.


__ADS_3

Akhirnya pagi ini Nayla pun bersiap-siap untuk pergi ke sebuah butik langganannya, beruntung ada Reyna yang menemani karena Sela sedang kurang enak badan.


Apa lagi Nayla sudah tahu tentang penyakit yang di deritanya, membuatnya juga merasa kasihan.


Bahkan Sela mengatakan langsung menyerahkan semuanya pada Nayla, karena Sela sadar dirinya tidak bisa terlalu aktif dalam hal mempersiapkan pernikahan anaknya sendiri.


Meskipun sebenarnya dirinya juga ingin mempersiapkan semuanya, tetapi Sela lebih menyayangi dirinya dan kesehatannya. Karena, jika terlalu lelah maka, nantinya bisa drop. Bahkan, bisa membuat pernikahan anaknya menjadi rusak, Sela tidak mau membuat hari bahagia anaknya harus dilakukan dengan terburu-buru karena Riki memikirkannya yang sedang terbaring.


"Vanya, ikut nggak?" Tanya Reyna.


"Seharusnya ikut, Riki juga ikut. Karena, mereka yang akan memilih gaun pengantinnya nanti."


"Em, iya juga sih," Reyna mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nayla.


Sampai akhirnya saat Nayla dan Reyna sedang asik berbincang di ruang tamu mendengar ada suara yang terdengar.


"Pagi Bunda," sapa Riki yang masih berdiri di ambang pintu masuk.


Nayla pun tersenyum melihat kedatangan Riki.


"Pagi juga, ayo masuk. Kita ke butik ya hari ini."


Riki pun mengangguk dan mengikut saja, lagi pula yang terpenting bukannya kemana tapi menikahi Vanya.


"Wah, wajah calon pengantin ini berbinar sekali ya," goda Reyna.


Lagi-lagi Riki hanya tersenyum saja mendengar godaan dari Reyna.


"Vanya, ada Riki!" Nayla pun menaikan nada suaranya agar Vanya mendengarnya.


Benar saja, mendengar nama Riki di sebutkan wanita itu langsung saja muncul.


Muncul dengan segala keanehannya.


"Kakandaku!" Seru Vanya dengan penuh kebahagiaan sambil berjalan cepat kearah Riki.


Riki hanya membalas dengan senyuman saja, sebab ada calon ibu mertua di sana.

__ADS_1


Riki tahu dirinya sangat mencintai Vanya, tetapi dirinya masih bisa waras jika di sekelilingnya ada calon ibu mertuanya itu.


Selain menjaga kesopanan Riki juga tidak ingin berbuat lancang sebelum menikahi Vanya. Meskipun terkadang dirinya juga merasa sulit untuk mengendalikan diri sendiri karena Vanya yang tanpa sadar sering kali membuatnya terpancing.


"Ya ampun, senyumnya. Manis banget sih? Pakai gula ya, bikin nggak tahan aja," celetuk Vanya.


"Vanya!" Nayla pun menegur putrinya tersebut, dirinya kesal karena sikap pecicilan Vanya.


"Hehe," Vanya pun tersenyum kikuk karena menyadari kesalahannya.


Maklumlah sedang melepaskan, mungkin saja kedepannya bisa menjadi lebih baik.


Mungkin juga tidak.


Sementara Riki hanya tersenyum gemas melihat tingkah lucu calon istrinya itu, andai saja Nayla dan Reyna tidak di sana.


Mungkin sudah di peluk Riki hingga wanita itu berteriak minta dilepaskan.


Bisa juga di peluk sampai gepeng karena terlalu gemas.


"Ayo kita berangkat sekarang."


Sesampainya di butik Vanya pun di berikan pilihan gaun terbaik dari butik tersebut, sampai akhirnya Vanya pun menentukan pilihannya pada gaun berwarna putih yang begitu indah.


Sementara Riki hanya menurut saja pada pakaian yang dipilihkan oleh Nayla sendiri.


Lagi pula apa yang dipilihkan oleh Nayla begitu bagus.


"Bunda, kata Mas Riki boleh nggak ijin ke Mall buat nyari cincin nikah," kata Vanya meminta ijin pada Nayla.


"Boleh, tapi setelah menemukan cincin yang cocok langsung pulang ya. Soalnya, kamu mau menikah enam hari lagi. Nggak boleh berkeliaran!" Nayla pun menegaskannya pada anaknya, jika apa yang dikatanya memang tidak main-main.


"Iya Bunda," Vanya pun beralih melihat Reyna.


"Jalan dulu ya Umi," pamit Vanya.


"Hati-hati ya Riki."

__ADS_1


Riki pun mengangguk kemudian Vanya langsung saja melingkarkan tangannya pada lengan Riki.


"Ayo, Kakandaku.'


Vanya terus saja berjalan di samping Riki seperti anak kecil yang sedang bersama dengan Pamannya, tapi perduli apa? Yang penting keduanya sama-sama bahagia.


"Dasar anak itu, pecicilannya nggak ada berkurang, gimana nanti kalau udah nikah, Reyna?" Nayla sampai memijat kepalanya melihat Vanya yang sudah pergi bersama dengan Riki.


Usia muda, pikiran bocah. Bahkan, semuanya masih membutuhkan orang lain, lantas bagaimana nanti mengurus suaminya.


"Nayla, udahlah masa nggak paham. Namanya bocah sedang kasmaran," kata Reyna.


Menurut Reyna wajar saja di usia seperti sekarang ini Vanya bersikap demikian.


"Pusing banget aku Reyna, menurut aku menikahkan mereka jauh lebih baik. Aku rasa gatalnya itu udah cenat-cenut," kata Nayla lagi.


"Ahahahhaha, kamu itu ada-ada saja. Wajarlah cenat-cenut, artinya dia normal Nayla," Reyna sampai tidak bisa menahan tawa karena Nayla yang tampak begitu kesal pada sikap Vanya yang pencicilan.


Tapi meskipun demikian Reyna tahu Nayla sangat menyayangi Vanya.


"Kamu senang sekali ya? Wajar sih, kamu kan sama dengan Vanya!"


"Maksudnya?" Tanya Reyna menatap Nayla penuh kekesalan.


"Kamu juga pecicilan, gatel, dan cenat-cenutnya sama seperti Vanya!"


"Kamu ya, seperti nggak tahu aja rasanya gimana!"


"Dasar!" Nayla pun memukul kepala Reyna, kesal bukan main tentunya.


"Ahahahhaha, kau pikir aku tidak sering mendengarkan mu dan Devan dulunya yang sedang ah, uh, ah!" Kata Reyna lagi sambil cekikikan.


"Dasar gila!"


Nayla pun segera menuju mobil, karena akan segera mengurus keperluan lainnya mengingat waktu yang sudah dekat.


Lagi pula Nayla ingin pesta pernikahan dilaksanakan sesuai dengan keinginannya, sehingga semuanya dengan campur tangannya.

__ADS_1


"Kau pikir kau waras!" umpat Reyna kemudian menyusul Nayla yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.


__ADS_2