
Felix pun berdiri di atas anak tangga terakhir tatapannya lurus ke depan. Menyaksikan banyaknya tamu yang sedang berdansa. Bola mata elangnya terus mencari seseorang. Seorang wanita yang bernama Cahaya, bukan Rena yang padahal sudah menjadi tunangannya sendiri. Sampai akhirnya menemukan yang di carinya, Cahaya berdansa bersama dengan Adnan.
"Apakah calon suamiku ini ingin berdansa dengan ku?" Goda Rena.
Rena tersenyum bahagia puas melihat wajah Felix yang menahan kemarahan. Tentu saja Felix sangatlah kesal, dan Rena tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal dan harus menahan emosi.
"Ahahahha," Rena pun semakin tertawa melihat Felix yang menatapnya dengan tajam.
Dari sana Cahaya pun tiba-tiba melihat Felix, Cahaya menjulurkan lidah nya seakan kesal saat melihat wajah Felix saja. Cahaya tengah bahagia karena setelah ini tidak akan mungkin lagi di ganggu oleh Felix.
Menurutnya begitu!
Lantas bagaimana dengan Felix?
Bisakah Felix tanpa Cahaya?
Sulit!
"Ayo berdansa dengan ku, calon istri ku!" Felix pun mengulurkan tangannya pada Rena.
"Oh tentu, calon suami ku!" Rena pun menerima uluran tangan Felix.
Sesaat kemudian keduanya pun bergabung berdansa seperti yang lainnya tapi setelah itu pembawa acara pun mengatakan untuk berhenti sejenak.
Seiring dengan alunan musik yang di hentikan sesaat.
"Pada para tamu undangan yang sangat spesial, ternyata dua orang sedang berbahagia juga sudah ikut berdansa. Mari kita berikan tepuk tangan untuk Felix dan Rena."
Semuanya pun bertepuk tangan seakan ikut larut dalam kebahagiaan dua insan yang bertunangan. Walaupun tanpa di ketahui sebenarnya keduanya tidak ada yang menginginkan pertunangan tersebut.
"Baiklah, agar suasana lebih meriah pesta dansa pun kita lanjutkan kembali. Tapi, dengan bertukar pasangan secara acak," pinta pembawa acara.
__ADS_1
"Lampu akan di matikan, kemudian bergerak lah untuk mendapatkan pasangan dansa."
Lampu pun segera di matikan semuanya bergerak dengan perlahan untuk menemukan pasangan dansa.
"Dalam hitungan ketiga lampu akan kembali di nyalakan, dan juga semua harus sudah memiliki pasangan dansanya" kata pembawa acara yang terus saja memberikan arahan, agar suasana lebih bahagia merayakan pertunangan Felix dan Rena.
"Satu... Dua... Tiga!"
Lampu pun kembali menyala.
Riki terkejut melihat pasangannya adalah Devan.
"Ya ampun Om, saya memang duda. Tapi saya tidak suka pisang juga," kata Riki sambil melepaskan diri.
"Dasar bocah gendeng, siapa yang mau sama kamu! Istri ku jauh lebih cantik!" Devan pun mencari keberadaan istrinya.
Nayla berdiri tidak jauh darinya tersenyum melihat suaminya yang berpegangan tangan dengan Riki.
"Ahahahha," Nayla terus tertawa melihat wajah Devan yang masih berbalut kesal.
"Puas sekali kamu menertawakan aku!" Devan pun mengangkat tubuh Nayla dengan cepat, sudah tidak nyaman lagi berada di pesta.
Saat memegang tangan Riki sungguh membuat mood nya menjadi rusak seketika, belum lagi Nayla yang terus menerus menertawakan dirinya.
"Aku pikir Mas udah berubah haluan, tapi kalau Mas mau dengan sahabat Felix yang bernama Riki itu. Aku siap di madu Mas bahkan aku jadi saksinya langsung," ujar Nayla sambil terus tertawa terbahak-bahak melihat wajah suaminya.
"Diam kau! Lebih baik kita buat adik saja untuk anak-anak kita," kata Devan sambil menurunkan Nayla tepat berada di depan pintu kamar mereka.
"Adik?" Seru Vanya yang tidak sengaja mendengarnya dirinya baru selesai memperbaiki dandanan nya di dalam kamar. Tapi saat keluar malah mendengar hal yang membuatnya kesal.
"Kata Ayah begitu," Nayla pun menunjuk Devan, dirinya tidak ingin ikut-ikutan dalam masalah Ayah dan anak itu.
__ADS_1
Apalagi Devan sangat menyayangi Vanya mungkin Vanya jauh lebih menyeramkan di bandingkan Nayla di mata Devan.
"Tidak, kamu salah mendengar," Devan pun tidak ingin terkena pukulan dari putri tercintanya sehingga memilih untuk mengelak.
"Jadi Ayah pikir aku salah dengar, telinga aku salah mendengar?" Vanya pun bertanya dengan suara penuh kemarahan.
Devan pun menarik napas dengan berat kemudian melihat ke arah lainnya.
"Wah itu black card Ayah, kenapa jatuh!"
Vanya yang sangat suka dengan benda itu pun segera melihatnya, sebab black card nya di sita oleh Devan karena terlalu boros. Devan tidak mendidik anak-anaknya untuk boros. Sehingga ingin merubah Vanya menjadi wanita yang lebih baik tapi itu memang sangat sulit. Dan kesempatan itu di gunakan Devan untuk melarikan diri. Tidak sendirian, Devan menarik Nayla untuk masuk ke dalam kamar.
"Kok, nggak ada?" Tanya Vanya kemudian kembali melihat ke depan.
Tidak ada Devan dan Nayla membuatnya merasa di bohongi.
"Ayah!!!" Seru Vanya di depan daun pintu kamar yang tertutup rapat.
"Awas ya, kalau buat Adek!" Vanya pun memberikan peringatan.
"Boleh buat Adek, tapi tidak boleh jadi," kata Vanya lagi.
Kemudian Vanya pun menggaruk kepalanya dirinya juga bingung dengan apa yang di ucapkannya sendiri.
"Maksudnya gimana sih? Ah, bodo amat, mending dansa aja!" Vanya memilih kembali ke acara pesta. Di mana pesta dansa sudah di mulai daripada pusing memikirkan kedua orang tuanya
"Tapi aku dansa dengan siapa?" Vanya bingung untuk itu.
"Dengan Om Nanda aja kali ya," Vanya pun tersenyum bahagia.
Nanda dan Vanya sudah seperti Ayah dan anak, apapun yang terjadi mereka adalah keluarga. Devan yang mengajarkan itu semua dan Devan hanya mengijinkan jika Vanya dan Nanda berdekatan. Begitu pun juga dengan Nanda dan Reyna yang sudah menganggap Vanya seperti anak kandungnya sendiri. Karena Nanda sudah seperti saudara kandung bagi Nayla, Devan tidak pernah lupa kebaikan-kebaikan Nanda pada Nayla di masa lalu.
__ADS_1