Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Membantu Nenek-nenek...


__ADS_3

Bukannya hasil yang di dapatkan setelah bekerja hari ini, yang ada hanya kerugian untuk membayar biaya kerugian pada penjual sayur. Bukan hanya sayurnya yang rusak, namun gerobaknya juga.


Kini Felix, Cahaya dan Diman duduk di sisi jalanan. Persis seperti seorang yang biasa hidup sederhana. Tapi jujur saja, Cahaya begitu bahagia dengan apa yang dilakukan oleh Felix.


Selama hidupnya terbiasa hidup bebas dengan bergelimang harta kini malah bersedia memenuhi sebuah persyaratan yang di ajukannya. Menurut Cahaya persyaratan tersebut tentulah tidak mudah untuk Felix. Tapi di sini Cahaya hanya ingin menguji cintanya seorang Felix padanya.


"Kamu kok liatin aku begitu? Aku memang tampan " goda Felix saat melihat Cahaya terus saja menatapnya.


Cahaya pun kini beralih menatap ke depan, di mana banyak sepeda motor yang berlalu lalang.


"Memangnya nggak boleh ngeliatin wajah calon suami sendiri?" Tanya Cahaya.


Felix pun tersenyum dan mengangguk kemudian menyenggol lengan Cahaya.


"Kalau begitu aku ingin berdoa," Felix pun mengangkat kedua tangannya, menutup mata agar doanya cepat di kabulkan.


Namun siapa sangka ternyata ada yang malah menjatuhkan beberapa uang receh padanya. Felix pun membuka matanya, terkejut melihat beberapa orang menjatuhkan uang receh.


"Woy!" Felix pun berdiri dan menarik kerah kemeja orang tersebut.


"Felix, cukup," Cahaya langsung berusaha untuk menjauhkan Felix.


"Kamu pikir saya gembel!" Geram Felix dengan tatapan tajam.


"Dasar nggak tahu diri, udah di kasih duit juga nggak bersyukur! Gembel aja belagu!" Seru orang tersebut, merasa niatnya begitu baik tetapi malah tidak di terima baik.


"Mas, pergi sekarang," Cahaya memungut beberapa receh yang berserakan dan mengembalikannya pada pemiliknya.


"Maaf ya Mas."


Setelah orang tersebut pergi akhirnya emosi Felix pun mereda, namun kini malah Diman yang tertawa.


"Maaf Bos, tapi anda seperti gembel sekali ya," kata Diman.


"Ck, sembarangan saja kamu," Felix pun menatap sekitarnya.


"Kasihan sekali Nenek tua itu," Felix melihat seorang Nenek tua yang bekerja menjual pecel.


Tetapi dagangannya tak laku sama sekali, tak ada yang ingin membeli pecel tersebut. Sehingga wajah Nenek tersebut tampak murung. Membuat Felix berinisiatif untuk membelinya.


"Tapi, dompet ku di mana?" Felix benar-benar melupakan benda kecil itu.


"Kita bantu jual saja," kata Felix merasa idenya sangat bagus.


"Tapi aku ragu, takutnya malah si Nenek itu bangkrut sama kamu," ejek Cahaya.


Felix merasa tertantang, sehingga membuatnya semakin bersemangat untuk membantu Nenek tersebut.


"Kamu meremehkan aku?" Tantang Felix dengan senyuman miring di bibirnya.


Cahaya pun mengangkat kedua bahunya dengan senyuman miring di bibirnya.

__ADS_1


"Kalau dagangan wanita tua itu laris saat aku menjualnya bagaimana?" Felix tersenyum penuh percaya diri.


Cahaya menahan tawa dan merasa itu tidak akan mungkin.


"Aku akan setuju menikah dengan mu secepat mungkin," Kata Cahaya menunjuk Felix.


Dengan cepat Felix mengangguk, anggap saja itu adalah imbalan yang paling membahagiakan di dunia ini.


Tentu.


Menikah dengan Cahaya adalah impian dalam hidupnya.


"Aku terima tantangan mu," Felix pun berjalan mendekati Nenek tersebut.


Benar saja wanita itu tampak sangat tua, bahkan di usianya ini seharusnya tidak lagi bekerja.


Sungguh itu adalah wanita pertama yang membuat hati Felix tergerak untuk menolongnya.


"Nenek namanya siapa?" Tanya Felix.


"Nenek jualan apa?" Tanya Felix lagi.


"Nama Nenek Ratih, Nenek jualan pecel. Cucu mau beli?" Tanya wanita tua tersebut dengan penuh semangat membayangkan dagangannya akan segera di beli walaupun hanya satu bungkus saja.


"Tidak Nek, saya tidak punya uang. Dompet saya entah di mana. Tapi saya mau bantuin Nenek jualan," tawar Felix.


"Oh begitu," wanita tua itu terus saja melihat wajah Felix, tampaknya ragu untuk menerima bantuan. Sebab, di kota metropolitan ini sangat sulit menemukan orang baik.


"Nenek tidak perlu khawatir, saya orang baik kok," Felix pun berusaha untuk meyakinkan wanita tersebut.


"Nenek jangan takut kami akan membantu Nenek," tangan Cahaya mengambil alih dagangan dari tangan wanita tua tersebut.


Nenek tersebut pun akhirnya memberikan dagangnya dengan sedikit ragu.


"Pecel!" Teriak Felix menawarkan dagangannya pada siapa pun yang ditemui.


Pakaiannya yang sederhana membuat orang-orang tidak yakin jika dirinya adalah seorang CEO hingga akhirnya ada yang membeli.


Mereka berjualan di depan gerbang kampus, wajah Felix yang tampan malah menjadi daya tarik para mahasiswi.


"Mbak, pecelnya di jamin enak," tawar Felix.


"Iya saya beli Mas," mahasiswi tersebut kagum pada pedagangnya yang sangat tampan tersebut.


"Mas, saya juga mau dong," kata yang lainnya.


Semua mahasiswi mendadak menyerbu dagangan Felix, tetapi yang sebenarnya mereka tuju adalah pedagangnya.


"Nenek, yang bungkus. Saya yang menerima uangnya," kata Felix, sebab dirinya tidak tahu cara menyajikannya pada pelanggan seperti apa.


"Iya, cu," Nenek tersebut tampak bahagia sebab dagangannya mendadak terjual itu karena Felix.

__ADS_1


Anehnya lagi pembeli tidak mau jika Nenek itu langsung memberikan pada mereka, melainkan harus dari tangan Felix yang memberikan.


Jadi Nenek Ratih membungkus, kemudian memberikan pada Felix, setelah itu barulah diberikan pada pembeli.


Aneh bukan?


Cahaya pun mengerutkan keningnya, kesal pada Felix yang kini berada di kerumunan wanita.


Rasa cemburunya pun menjadi-jadi, sampai akhirnya Cahaya sudah tidak bisa menahan.


Dengan cepat menarik Felix untuk menjauh.


Tapi tampaknya Felix tidak mengerti pada Cahaya, dirinya terlalu fokus melayani pembeli.


Mungkin terlalu bangga saat dagangannya laku keras terjual untuk kali ini.


Tidak seperti sebelumnya, terutama ingin menunjukkan pada Cahaya bahwa kali ini dia mampu menjual semua dagangan tersebut.


"Mbak, nggak beli kan?" Tanya seorang mahasiswi yang melihat Cahaya hanya diam berdiri di samping Felix.


Seketika itu Cahaya pun di tarik dari sana, kemudian wanita itu berdiri di samping Felix.


"Mas, saya pesan satu ya."


"Iya, Mbak. Tunggu ya, sabar sebentar," kata Felix.


Kali ini begitu menikmati perannya sebagai orang biasa, sampai akhirnya semua dagangan pun terjual habis.


"Mas, pesan satu," kata Mahasiswi yang terus berdatangan untuk membeli.


"Maaf Mbak, sudah habis," kata Felix.


"Yah," wanita tersebut tampak kecewa, kemudian pergi bersama teman-teman.


"Mas, besok datang lagi ya!" Seru yang lainnya.


Felix pun mengangguk dengan senyum ramahnya.


Kemudian mencari seseorang yang sangat di cintainya.


Cahaya tampak duduk sisi jalanan, bibirnya mengerucut kesal pada Felix.


"Nenek, ini uang hasil penjualannya. Besok saya bantu Nenek lagi saya tunggu Nenek di sini," kata Felix.


"Terima kasih yah Cu, akhirnya hari ini Nenek bisa beli ikan untuk makan," kata Nenek tersebut.


Felix pun mengangguk lemah, tersadar dirinya yang serba ada malah sering kali menyia-nyiakan makanan.


Padahal orang-orang di luaran banyak yang sulit untuk membeli lauk saja.


"Iya, Nenek beli ikan. Terus besok kita ketemu di sini," kata Felix lagi ingin menolong Nenek tersebut.

__ADS_1


"Ya, cu. Nenek pulang dulu, sekali lagi terima kasih."


"Iya, hati-hati Nek."


__ADS_2