Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Wanita mana yang bisa membuat buaya kelaparan itu tunduk?


__ADS_3

Malam semakin larut, Riki merasa semakin tidak nyaman. Sebab, sampai saat ini juga belum dapat terlelap dalam mimpi indah.


Pikirannya hanya ada Vanya dan Vanya, hingga akhirnya Riki pun membuka ponsel. Melihat aplikasi berwarna hijau dan mencari kontak Vanya. Tetapi sesaat kemudian Riki pun meletakkan ponselnya kembali pada meja. Sebab tak ingin membuat bocah ingusan itu percaya diri karena dirinya yang menghubungi.


"Ada apa dengan ku? Kenapa mendadak aku rindu? Rindu?" Riki pun menyadari kata konyol yang di katakan oleh bibirnya sendiri.


Rindu? Mungkinkan Riki merindukan Vanya, hingga lagi-lagi ucapan Sela yang memberikan sebuah peringatan terngiang-ngiang di benaknya.


"Ingat Riki, anak kecil pun suka dengan mainan. Karena terlalu suka sampai suatu ketika mainan itu hilang dia menangis. Begitu pun dengan kamu, mainan mu itu hati. Jika dia pergi kamu terluka lagi. Dan, perbedaannya anak kecil menangis mengeluarkan suara keras sedangkan kamu menangis tanpa suara!"


Kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya membuatnya menjadi tidak karuan.


Antara ingin menepis tetapi malah semakin merasa terjebak dalam keadaaan yang begitu mengerikan.


"Bibir bisa berbohong tapi tidak dengan hati"


Itulah kata-kata yang juga sempat di katakan oleh Sela.


Hingga membuat Riki semakin merasa terperangkap dalam sebuah tempat yang begitu menyiksa.


"Baiklah, akan aku coba untuk membuktikan apakah benar aku sudah jatuh hati padanya? Tapi, dia itu hanya wanita yang terlahir dari keluarga biasa. Bukankah aku sudah tidak ingin menjalin hubungan dengan orang dari kalangan bawah?"


Riki selama ini sudah memiliki sebuah komitmen yang kuat, tetapi mungkinkah kali ini harus hancur dengan begitu saja?


Riki tentu saja tak ingin merasa malu karena berkhianat pada dirinya sendiri.


Lantas bagaimana dengan hati yang juga begitu tersiksa saat berjauhan dari Vanya.


Hingga terdengar suara ponsel Riki berdering dan tertulis nama Vanya di sana.


Membuat Riki pun sejenak menepikan pikirannya, memilih untuk melihat layar ponselnya.


Pucuk di cinta ulan pun tiba.


Mungkin itulah sebuah pepatah tepatnya saat ini di saat Riki begitu pusing memikirkan seorang wanita justru malah menghubungi dirinya.


Apakah wanita itu belum tidur juga di malam ini, Riki hanya melihat layar ponselnya.


Pikirannya terus saja kebingungan, hingga lupa untuk menjawab panggilan tersebut dan akhirnya berakhir begitu saja.


"Mati?" Riki pun tersadar dan merasa kesal.

__ADS_1


Kesal kepada dirinya sendiri yang masih saja merasa aneh.


Riki menunggu lagi saat Vanya menghubunginya.


Namun, tampaknya penantian Riki tidak sia-sia. Karena ponselnya pun kembali menyala dan tertulis nama Vanya lagi.


Saat itu bibir Riki pun tersenyum kemudian bergegas untuk menjawabnya. Tapi panggilan telepon cukup singkat, bahkan hanya beberapa detik sudah berakhir begitu saja.


Belum sempat juga berbicara satu patah kata pun. Membuat Riki semakin kesal saja, hingga akhirnya Riki pun mencoba untuk menghubungi Vanya kembali.


"Tidak, ada harga diri yang harus aku pertahankan," gumam Riki sambil meremas ponselnya.


Riki tak mau Vanya besar kepala karena merasa hebat bisa membuat Riki yang menghubungi dirinya, sehingga akhirnya Riki melempar ponselnya pada dinding dan berantakan di lantai.


Sesaat kemudian Riki bukan merasa lebih baik, malah semakin pusing.


"Kenapa aku menghancurkannya? Bagaimana jika dia menghubungi ku?"


Ya ampun.


Entah apa yang terjadi pada laki-laki aneh ini, mendadak menjadi tidak karuan karena hampir saja dua puluh empat jam penuh tak bertemu dengan seorang wanita yang disebutnya sebagai bocah ingusan.


Tetapi lihatlah wanita ingusan yang diremehkan justru begitu hebatnya memporak-parandakan hati seorang Riki.


Hingga akhirnya ponsel Riki yang lain pun berdering, tertulis nama Felix di sana.


Dengan segera Riki pun menetralkan dirinya. Kemudian menjawab panggilan tersebut dengan tenang seperti biasanya.


"Ada apa Bro?" Tanya Riki setelah panggilan terhubung.


Riki tampak diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Felix melalui sambungan telepon, tetapi sesaat kemudian Riki mendadak menjadi tidak fokus.


Hingga akhirnya bertanya, tetapi pertanyaan Riki membuat Felix merasa aneh. Sebab, begitu jauh menyimpang dari apa yang tengah mereka bahas saat ini


"Bagaimana ciri-ciri seseorang jatuh cinta?" Felix bertanya kembali pada Riki dari sebrang, sebab itulah pertanyaan yang dilayangkan oleh Riki barusan padanya.


Aneh!


Pembahasan mereka mengenal proyek yang sedang berjalan tetapi malah masalah pribadi.


Tapi tidak masalah, mengingat Felix dan Riki adalah sahabat.

__ADS_1


"Apa, sahabat ku ini sedang jatuh cinta?" Tanya Felix lagi di selingi dengan gelak tawa menggelegar, sungguh saat ini Riki sangat lain dari biasanya.


"Cepat jawab" perasaan Riki yang tidak karuan membuatnya emosi begitu mudah.


Sehingga saat ini pun jika tidak mendapatkan jawaban baik. Maka, dirinya bisa mengacak-acak kamar tersebut tanpa terkecuali. Dan bisa juga setelah bertemu Felix pun Riki akan meluapkan kekesalannya.


"Baiklah, kalau begitu. Tidak masalah, sepertinya ada proyek terbaru untuk kita," seloroh Felix lagi sambil menahan tawa.


Felix ingat saat dulu pernah kesulitan untuk mendapatkan Cahaya hanya Riki yang menolongnya. Mungkin saat ini juga Felix bisa melakukan hal yang sama. Yaitu menolong Felix ataupun hanya sekedar mendengarkan perasaan seorang pria kurang ajar yang mendadak bertanya tentang cinta.


Sedangkan Riki hanya diam sambil memegang ponselnya yang diletakkan pada telinganya, perasaan gundah-gulana terus saja terasa.


"Jika kita jatuh cinta, kita akan bahagia bertemu dengannya. Sehari tidak bertemu akan ada rindu yang begitu luar biasa," Felix bercerita sambil membayangkan wajah Cahaya saat ini dirinya berada di ruang kerjanya.


Tetapi tetap saja ada rasa rindu yang tidak terkira, sebab Cahaya adalah cinta sejatinya.


Satu untuk selamanya.


Setelah panjang lebar berbicara, akhirnya kini Felix pun mulai bertanya


"Kau sedang jatuh cinta?" Dari sebrang sana, Felix begitu penasaran akan jawaban yang diberikan oleh Riki.


Rasanya seperti tidak mungkin Riki jatuh hati pada seorang wanita, tetapi kenyataannya saat ini Riki malah bertanya tentang cinta.


"Aku tidak bisa memastikan, tapi aku mendadak merindukannya. Aku ingin memeluknya erat dalam tidur ku seperti malam kemarin." jelas Riki sambil terus membayangkan wajah Vanya. Bukan membayangkan, tepatnya wajah itu terus saja datang seakan menerornya.


Entah apa maunya bayangan itu sehingga terus saja menghantuinya, membuat Riki menjadi tidak bisa fokus dalam melakukan apapun.


"Kau ingin memeluknya?" Tanya Felix lagi.


"Iya," Jawab Riki dengan yakin.


Felix pun terdiam sejenak sambil kebingungan. Untuk menjadi Dokter spesialis cinta seperti sangat dadakan.


Lagi-lagi beruntung yang menjadi pasiennya adalah Riki, jika bukan maka Felix tak akan mau menjadi Dokter spesialis cinta dadakan begini.


"Artinya kau memiliki perasaan padanya. itu saja bodoh sekali. Dasar goblok, sebaiknya sekarang yakinkan dulu perasaan mu. Jika kau yakin, menikahi adalah pilihan terbaik. Sudahi menjadi penjahat wanita sebelum kau terkena penyakit yang menjijikan!" Felix pun memutuskan sambungan telepon sepihak, waktu konsultasi cinta sudah habis.


Lagi pula dirinya sudah kehilangan mood untuk berbicara tentang cinta yang dimaksud oleh Riki.


Dirinya juga tak yakin Riki bisa jatuh cinta, karena siapapun yang dilihatnya cantik bisa langsung berakhir di atas ranjang bersamanya.

__ADS_1


Felix yakin untuk kali ini pun sama saja, bahkan wanita yang kali ini pun sudah tidur bersama dengan Riki.


"Wanita mana yang bisa membuat buaya kelaparan itu tunduk?" Tanya Felix tak mengerti mengapa bisa Riki menjadi seorang lelaki yang suka tidur dengan banyaknya wanita.


__ADS_2